KAJIAN BAHASA INDONESIA S-1 PGSD

SEJARAH SINGKAT

BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NEGARA/RESMI DAN SEBAGAI BAHASA NASIONAL

Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat menceritakan secara singkat sejarah perkembangan bahasa Indonesia dan mahasiswa  dapat menjelaskan secara singkat pengertian bahasa.

Indikator:

  • Mahasiswa mampu menyebutkan  periode singkat sejarah perkembangan bahasa Indonesia.
  • Mahasiswa mampu menulis batasan mengenai bahasa.
  • Mahasiswa mampu  menyebutkan kedudukan bahasa Indonesia  sebagai bahasa nasional.

Materi Pokok

Kridalaksana 91982:2) mengatakan  “bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”. Sedangkan Marsoedi (1978:21)  mengutip pendapat Edward Sapir mengatakan “ bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan yang murni manusiawi dan tidak instingtif dengan pertolongan  sistem lambang-lambang yang diciptakan dengan sengaja.

  1. 1. Sejarah  Bahasa  Indonesia

Kita tahu bahwa   bahwa sebelum tercetusnya Sumpah Pemuda, bahasa Melayu dipakai  sebagai lingua franca di seluruh kawasan  tanah air kita. Hal itu terjadi sudah berakad-abad sebelumnya. Dengan adanya kondisi yang semacam itu, maka masyarakat kita  sama sekali tidak  bahwa bahasa daerahnya disaingi. Di balik itu mereka  telah menyadari bahwa  bahwa bahasa daerahnya tidak mungkin  dapat dipakai  sebagai alat perhubungan  antarsuku, sebab yang diajak komunikasi juga mempunyai bahasa daerah sendiri. Adanya bahasa Melayu yang dipakai sebagai lingua franca ini pun tidak akan mengurangi fungsi bahasa daerah. Bahasa dareah tetap dipakai  dalam situasi kedaerahan dan tetap berkembang. Kesadaran masyarakat  itulah, khususnya pemuda-pemudanya, yang mendukung lancarnya inspirasi sakta tersebut.

Apakah ada bedanya bahasa Melayu pada tanggal 27 Oktober 1928 dan bahasa Indonesia  pada tanggal 28 Oktober 2928? Perbedaan ujud, baik struktur, sistem, maupun kosakata jelas tidak ada. Jadi,  kerangkanya sama. Yang berbeda adalah semangat dan jiwa barunya. Sebelum Sumpah Pemuda, semangat dan jiwa bahasa Melayu masih bersifat kedaerahan atau jiwa Melayu. Akan tetapi, setelah Sumpah Pemuda semangat dan jiwa Melayu sudah bersifat nasional atau jiwa Indonesia. Pada saat itulah, bahasa Melayu yang berjiwa semangat baru diganti dengan nama bahasa Indonesia.

  1. 2. Proses Terbentuknya Bahasa Indonesia sebagai  Bahasa Negara/Resmi dan  Bahasa Nasional

Sebagaimana kedudukannya sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia  sebagai bahasa negara/resmi pun mengalami perjalanan  sejarah yang panjang, sebagaimana yang kami uraikan berikut ini.

Secara resmi adanya bahasa Indonesia dimulai sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Ini tidak berarti  sebelumnya tidak ada. Ia merupakan sambungan  yang tidak langsung dari bahasa Melayu. Dikatakan demikian,  sebab pada waktu itu bahasa Melayu masih  juga digunakan  dalam lapangan  pemakaian yang berbeda. Bahasa Melayu digunakan  sebagai bahasa resmi kedua  oleh pemerintah jajahan Hindia Belanda, sedangkan bahasa Indonesia  digunakan di luar situasi pemerintahan tersebuut oleh masyarakat yang mendambakan  persatuan Indonesia dan yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Demikianlah pada saat itu terjadi dualisme pemakaian bahasa yang sama tubuhnya, tetapi berbeda jiwanya:  Jiwa kolonial dan jiwa nasional.

Secara terperinci perbedaan lapangan pemakaian antara  kedua bahasa itu terlihat pada perbandingan berikut ini.

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia
  • Bahasa resmi kedua  di samping bahasa Belanda, terutama untuk tingkat yang dianggap rendah
  • Bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang didirikan atau menurut sistem pemerintahan Hindia Belanda
  • Penerbitan-penerbitan yang dikerjakan oleh  jawatan-jawatan milik pemerintah Hindia Belanda.
  • Bahasa yang digunakan dalam gerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
  • Bahasa yang digunakan dalam penerbitan-penerbitan yang bertujuan untuuk mewujudkan cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia baik berupa (1) bahasa pers, (2) bahasa dalam hasil sastra

Kondisi tersebut berlangsung sampai  tahun 1945.

Bersamaan dengan diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, diangkat pulalah  bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Hal itu dinyatakan dalam  UUD 1945, Bab XV, pasal 36.

Fungsi bahasa Indonesia  sebagai bahasa negara/resmi menurut Seminar Politik Bahasa Nasional  pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 sebagai berikut: (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi  di lembaga-lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan  perencanaan dan pelaksanaan pembangunan  serta pemerintah, dan (4)  bahasa resmi  di dalam pengembangan kebudayaan  dan pemanfaatan  ilmu pengetahuan  serta teknologi modern.

Adapun fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukan sebagai bahasa nasional menurut  hasil perumusan  Seminar Politik Bahasa Indonesia  pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975  bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional  yang berfungsi sebagai berikut: (1)  lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3)  alat pemersatu  berbagai-bagai masyarakat  yang berbeda-beda latar belakang sosial dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan  antarbudaya dan antardaerah.

—-sjk—-

HAKIKAT BAHASA DAN BELAJAR BAHASA

Kompetensi Dasar: Mahasiswa dapat menyebutkan salah satu hakikat bahasa dan menyebutkan salah satu fungsi bahasa

Indikator:

  • Mahasiswa  dapat  menyebutkan hakikat bahasa
  • Mahasiswa dapat menyebutkan fungsi bahasa
  • Mahasiswa  dapat memberikan contoh hakekat bahasa
  • Mahasiswa dapat memberikan contoh fungsi  bahasa sebagai bahasa nasional

Materi Pokok

  1. Hakekat Bahasa
  1. Pengertian Bahasa

Kita sebagai manusia selalu ingin berinteraksi dengan yang lain baik  secara lisan maupun secara tertulis. Dalam berinteraksi tersebut manusia tentu menggunakan alat, sarana atau media. Alat yang digunakan sebagai media berinteraksi adalah bahasa. Bahasa atau language (bahasa Inggris)  yang asalnya dari bahasa Latin  yang berarti “Lidah.” Kita tahu bahwa alat ucap yang paling dominan digunakan dalam ujaran adalah lidah. Berdasarkan itulah kita bisa mengartikan bahasa secara universal, yakni  suatu bentuk ungkapan  yang bentuk dasarnya ujaran.  Ujaran inilah yang membedakan  manusia dengan makhluk lain karena dengan ujaran ini manusia bisa  mengungkapkan  hal yang nyata  atau tidak, dsb.

Bahasa sebagai alat komunikasi mengandung  beberapa sifat, yakni, sistematik, manasuka, ujar, manusiawi, dan komunikatif.

a)      Sistematik, disebut ini karena  bahasa diatur oleh sistem. Setiap bahasa mengandung dua sistem, yakni sistem bunyi dan sistem makna Bunyi merupakan sesuatu yang  yang bersifat fisik yang dapat ditangkap oleh panca indra kita. Bunyi yang menimbulkan reksi inilah yang disebut ujaran. Setiap arus ujaran dapat menjadi lambang tergantung pada komitmen masyarakatnya. Setiap kelompok masyarakat bahasa baik kecil maupun besar secara konvensional telah menyepakati bahwa setiap struktur bunyi tertentu memiliki arti tertentu pula.

b)      Manasuka, dikatakan manasuka  karena unsur-unsurbahasa dipilih secara acak tanpa dasar. Tidak ada hubungan logis antara bunyi dan makna yang disimbolkannya. Sebagai contoh mengapa manusia yang baru lahir disebut bayi bukan disebut remaja.

c)       Ujaran, dikatakan ujaran   karena media bahasa yang terpenting adalah bunyi walaupun kemudian  ditemui juga media tulisan.

d)      Manusiawi, dikatakan manusiawi karena bahasa  menjadi berfungsi  selama manusia  yang memanfaatkannya, bukan makhluk lainnya.

e)      Komunikatif, bahasa sebagai alat komunikasi karena fungsi bahasa sebagai penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam segala kegiatan.

Perhatikan bagan berikut ini!

Suku kata

Bahasa

Bentuk (arus ujaran)

Makna morfemis

Makna sintaksis

Makna leksikal

Makna (isi)

Bahasa

segmental

Bahasa Suprasegmental

Wacana

Paragraf

kalimat

wacana

klausa

Frasa

kata

morfem

Keterangan:

Unsur suprasegmental terdiri atas intonasi. Unsur-unsur intonasi adalah: tekanan (keras, lembut, ujaran), nada (tinggi, rendah ujaran) durasi (panjang pendek waktu pengucapan) perhentian ( yang membatasi arus ujaran).

fonem

  1. Fungsi Bahasa

Fungsi bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yakni  bahasa sebagai alat komunikasi dan bahasa  sebagai bahasa nasional.

Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut.

1)      Fungsi informasi, yaitu  untuk menyampaikan informasi timbal balik  antaranggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat. Berita, pengumuman, petunjuk pernyataan lisan  ataupuntulisan melalui media  massa  ataupun elektronik meruapakan wujud fungsi bahasa sebagai fungsi informasi.

2)      Fungsi ekspres dirii , yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembicara.

3)      Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuikan dan membaurkan diri dengan  anggota masyarakat. Melalui bahasa seseorang  anggota masyarakat  sedikit demi sedikit  belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup,  perilaku dan etika masyarakat.

4)      Fungsi kontrol sosial, bahasa berfungsi untuk mempengaruhi  sikap dan pendapat  orang lain. Apabila fungsi ini berlaku dengan baik maka  semua kegiatan sosial  akan berlangsung  dengan baik pula.  Sebagai contoh  pendapat seorang tokoh masyarakat akan didengar  dan ditanggapi dengan  tepat apabila  ia dapat menggunakan bahasa yang komunikatif dan persuasif.

Bahasa Indonesia sebagai bahsa nasional mempunyai fungsi khusus yang sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia. Fungsi tersebut adalah:

1)      Alat untuk menjalankan administrasi negara. Fungsi ini terlihat dalam surat-surat resmi, surat keputusan, peraturan dan perundang-undangan, pidato dan pertemuan resmi.

2)      Alat pemersatu berbgai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

3)      Wadah penampung kebudayaan. Semua ilmu pengethuan dan kebudayaan harus diajarkan dan diperdalam dengan mempergunakan  bahasa Indonesia sebagai medianya.

  1. Ragam Bahasa

Ragam bahasa  di bidang wacana dapat dibedakan menjadi:

1)      Ragam ilmiah, yaitu bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan ilmiah.

2)      Ragam populer, yaitu bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari dan dalam tulisan populer.

Ragam bahasa menurut sarana:

1)      Ragam lisan, ragam ini diperjelas dengan intonasi, tyaitu tekanan, nada, tempo suara, dan perhentian.

2)      Ragam tulisan, ragam ini dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat, dan tanda baca.

Ragam bahasa dari sudut pendidikan dapat dibagi atas:

1)      Ragam baku, ragam ini menggunakan kaidah bahasa yang lebih lengkap dibandingkan dengan ragam tidak baku. Ciri ragam bahasa baku adalah (a) memiliki sifat kemantapan dinamis artinya konsisten dengan kaidah dan aturan yang tetap, (b) memiliki sifat kecendekiaan, (3) bahasa baku  dapat mengungkapkan penalaran atau pikiran yang teratur, logis dan masuk akal.

2)      Ragam tidak baku, ragam ini  menggunakan bahasa yang tidak konsisten karena menggunakan kaidah yang sering berubah-ubah.

  1. Belajar Bahasa

Belajar harus melalui proses  yang relatif terus-menerus dijalani dari  berbagai pengalaman. Pengalaman inilah yang membuahkan hasil  yang disebut belajar. Selain itu, belajar  merupakan kegiatan yang kompleks. Artinya di dalam proses belajar terdapat berbagai kondisi yang dapat menentukan keberhasilan belajar.  Faktor yang mempengaruhi   keberhasilan belajar adalah berbagai kondisi  yang berkaitan dengan proses belajar yakni kondisi eksternal dan kondisi internal.

Keterampilan yang paling sederhana  adalah:

1)      Tahap pertama adalah keterampilan mekanis berupa hafalan atau ingatan.

2)      Tahap kedua adalah pengetahuan berupa demonstrasi pengetahuan  tentang fakta kaidah tentang bahasa yang dipelajari.

3)      Tahap ketiga adalah keterampilan transfer. Murid menggunakan pengetahuan dalam situasi baru.

4)      Tahap keempat adalah komunikasi. Penggunaan bahasa yang dipelajari  sebagai sarana komunikasi.

5)      Tahap kriti, kemampuan manganlisis dan mengevaluasi karangan atau karya tulis maupun lisan

Latihan

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bahasa?
  2. Faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar bahasa?
  3. Mengapa pengalaman belajar  berbahasa murid perlu diketahui oleh guru?

—sjk—

RAGAM BAHASA

Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam bahasa (ilmiah, sastra, lisan, tulisan)

Indikator:

  • Mahasiswa  dapat  menjelaskan ragam bahasa resmi
  • Mahasiswa dapat menjelaskan ragam bahasa ilmiah
  • Mahasiswa dapat menjelaskan ragam bahasa  lisan
  • Mahasiswa dapat menjelaskan ragam bahasa tulis

Materi Pokok

Jika kita mempelajari ragam bahasa tentu ada beberapa  ragam di antaranya adalah ragam bahsa resmi, ragam bahasa tidak resmi,  ragam bahasa ilmiah,  ragam bahasa sastra, ragam bahasa lisan, ragam  ragam bahasa tulis.

1. Ragam Bahasa Resmi

Marilah kita ingat kembali, landasan historis dan landasan yuridis yang kuat bagi bahasa Indonesia. Landasan pertama dapat kita lihat pada dokumen historis, yakni tercantum dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sedangkan landasan yuridis dapat kita lihat dalam UUD 1945.

Bertdasarkan kedua landasan itu bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara. Sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia berfungsi (1)  lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3)  alat yang  memungkinkan penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang  sosial budaya dan bahasanya ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia, dan (4) alat perhubungan antardaerah dan antarsuku. Di  dalam kedudukannya  sebagai  bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi: (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di lembaga pendidikan, (3) alat perhubungan tinkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembengunan serta pemerintahan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Bertolak dari landasan kedua di atas, bahasa resmi adalah bahasa yang digunakan oleh pembicara (orang pertama0 dan lawan berbicara (orang kedua) dalam situasi resmi atau pada tingkat formalitas penuturan.

2. Ragam Bahasa Tak Resmi

Sebenarnya, Anda mengetahui ragam bahasa tak resmi, karena pada hakekatnya  dalam penjelasan ragam bahasa resmi  sudah tercermin ragam bahasa tak resmi. Hal ini disebabkan oleh ukuran penentu resmi dan tidak resmi  merupakan balikan positif dan negatif.

Jadi, ragam bahasa tak resmi adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi antara pembicara dengan lawan bicara yang telah melepaskan kedudukan, hak, dan  kewajibannya karena hubungan personalatau disebut interaksi  personal.

3. Ragam Bahasa Ilmiah

Ragam bahasa ilmiah semata-mata ditujukan kepada lingkungan keahlian tertentu yang bertumpu pada  pengetahuan yang diperolehnya dengan pendekatan ilmiah, dengan langkah-langkah yang ajeg, teratur, terkontrol,  dan terpolakan yang diakui oleh ilmu tersebut. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi  hampir  setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh  keyakinan individu, bias, dan perasaan. Cara penyimpulannya  bukan bersifat subjektif, melainkan objektif. Jadi dengan pendekatan ilmiah, manusia berusaha  untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan yang benar, yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya.

Bahasa ilmiah adalah  bahasa pikiran yang sungguh-sungguh, karena yang disampaikan merupakan aktivitas pikiran, ditujukan kepada pikiran dan ditangkap dengan pikiran pula. Oleh sebab itu, bahasa yang dipergunakan terbebas dari unsur-unsur emotif. Baasa ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila si pembicara  menyampaikan  informas berupa X si lawan bicara harus menerima X pula.

Demikian juga, dalam bahasa ilmiah hampir setiap kata dan kalimat digunakan secermat-cermatnya agar serasi benar dengan pengertian-pengertian yang akan dikomunikasikan. Dengan demikian ragam bahasa ilmiah seakan-akan foto dari aktivitas pikiran  yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Ragam Bahasa Sastra

Ragam bahasa sastra adalah salah satu ragam bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, fantasi dan imajinasi, penghayatan batin dan lahir, peristiwa/ kejadian dan khayalan dengan bentuk-bentuk bahasa menurut tatanan khusus  dalam penuturannya. Kekhususan tataran itu bukan karena rancak dan sedapnya didengar/dibaca, melainkan karena kekuatan efeknya kepada pendengar/ pembaca  dan karena cara penuturannya. Fungsi bahasa dalam ragam ini dapat dipakai sebagai bahan aktivitas seni dan sebagai alat komunikasi.

Untuk memperbesar efek penuturannya, biasanya sastrawan mengerahkan segala kemampuan yang ada dalam bahasa itu baik sebagai bahan maupun sebagai alat komunikasi. Misalnya untuk mempertinggi efek penuturan, sastrawan dapat menggunakan arti, bunyi, asosiasi, irama, tekana, suara, persesuaian bunyi kata, sajak, asonansi, aliterasi ulangan kata/kalimat, dsb. Dalam ragam ini ada kata khusus yang dipakai dalam aktivitas seni tersebut, misalnya kata bayu, bahari, juita , dsb.

5. Ragam Bahasa Lisan

Ragam bahasa lisan adalah ragam  bahasa tutur yang dipakai dalam peristiwa tutur lisan: antara pembicara dengan lawan bicara melalui proses yang terjadi  pada diri merekan – perjalanan tutur  dari pembicara kepada lawan bicara  dan melalui proses penghayatan  tutur oleh lawan bicara yang berlangsung pada tempat  dan waktu yang relatif bersamaan; sehingga unsur-unsur spontanitas, situasi penuturan, dan unsur gejala jiwa sangat berpengaruh dalam struktur bahasa yang digunakan. Misalnya, pmakaian struktur kalimat sering kali kurang sempurna/tidak gramatikal, karena penutur tanpa banyak berpikir dan dapat dibantu dengan gerakan-gerakan  anggota tubuh, intonasi, mimik, dan sebaginya.

6. Ragam Bahasa Tulis

Secara historis, kehadiran bahasa tulis lebih kemudian  kalau dibandingkan dengan bahasa lisan. Alfabet untuk mewakili bunyi bahasa baru ditemukan sekitar tahun 1700 sebelum masehi. Oleh karena itu, bahasa tulis  bentuk sekedarnya bahasa merupakan tiruan atau gambar dari bahasa lisan.

Apabila dibandingkan dengan peristiwa tutur lisan, peristiwa tutur lisan dalam proses pemakaian bahasa unsur-unsur spontanitas bertutur tidak atau sedikit terjadi; situasi penuturan  dialihkan pada penggunaan kata-kata, struktur kalimat yang jelas-tegas, dan penggunaan tanda-tanda baca yangtepat guna  atau berhasil guna sebagai pengganti  intonasi; sedankan unsur gejala jiwa dalam pemakaian  bahasa tulis yang paling dominan adalah pikiran, bukan unsur perasaan. Oleh karena itu, ragam bahasa tulis lebih hati-hati dalam pemakaian  bahasa  kalau dibandingkan  dengan ragam bahasa lisan, sehingga kebakuan bahasa dalam ragam tulis relatif lebih dominan daripada  ragam bahasa lisan.

Latihan:

  1. Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa?
  2. Apa yng dimaksud ragam bahasa resmi dan ragam bahasa tidak resmi?
  3. Apa yang dimaksud ragam bahasa ilmiah dan ragam bahasa  sastra?
  4. Sebutkan ragam bahasa berdasarkan saluran komunikasi!
  5. Apakah yang menjadi ukuran penentu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis  dari sudut struktur bahasa yang digunakan?

Daftar Rujukan

Halim, Amran. 1980. Politik bahasa Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

————–. 1980 Politik Bahasa Indonesia II Jakarta: Balai Pustaka

Kridaleksana, Harimurti. 1980. Fungsi dan Sikap Bahasa. Flores: Nusa Indah.

Oka, I Gusti Ngurah. 1978. Ritorik Sebuah Tinjauan Pengantar. Bandung: Ternate.

Samsuri. 1976. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

—-sjk—-

PENGGUNAAN  PEDOMAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

BERDASARKAN PERMEN PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 46 TAHUN 2009

Kompetensi Dasar: Mahasiswa mampu  menggunakan EYD yang berlaku

Indikator:

  1. Mahasiswa  dapat  menulis dengan menggunakan  huruf sesuai dengan EYD
  2. Mahasiswa dapat  menulis dengan menggunakan tanda baca berdasarkan EYD yang berlaku.
  3. Mahasiswa dapat  menulis dengan  menggunakan istilah berdasarkan EYD

Materi Pokok

Unduh di : http://www.sujak2010.blogspot.com/

—–sjk—-

SISTEM FONOLOGI DAN EJAAN BAHASA INDONESIA

Kompetensi Dasar:Mahasiswa mampu mengidentifikasi  fonologi dan ejaan bahasa Indonesia

Indikatotr:

  • Mahasiswa  dapat membedakan antara fonetik dengan  fonemik.
  • Mahasiswa  dapat menjelaskan  pengertian intonasi dengan benar.
  • Mahasiswa dapat menelaah Ejaan bahasa Indonesia.

Fonologi adalah ilmu yang membelajari sistem bunyi bahasa Indonesia. Fonologi  dalam tuturan ilmu bahasa  dibagi menjadi dua bagian, yaitu, (1) Fonetik, yaitu  ilmu bahasa yang membahas  tentang bunyi-bunyi ujaran  yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu  dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan (2) Fonemik, yaitu ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Tiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran  yang dapat membedakan arti disebut fonem.

1. Fonemik

Sebagaimana pengertian  fonemik di atas, bahwa ilmu ini membahas bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Tentu saja kita harus memahami fonem dan grafem.

Untuk membantu Anda dalam memahami struktur fonem, dan perbedaan  antara fonem dan grafem (huruf) perhatikanlah contoh yang tertera dalam tabel berikut.

Susunan Fonem Jumlah Fonem Susunan Huruf Jumlah Huruf Kata yang Terbentuk
/adik/ 4 Adik 4 Adik
Ingat/ 4 Ingat 5 Ingat
/nyanyi/ 4 Nyanyi 6 Nyanyi
/pantai/ 5 pantai 6 pantai

Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas:

a)      Fonem vokal  6 buah; /a/, /i/, /u/, /e/, /o/

b)      Fonem diftong 3 buah: /oy/, /ay/, /ou/

c)       Fonem konsonan 23 buah: /p/, / b/ , / m/ , / t/ , / d/ , / n/ , / c/ , / j/ , / ng/ , / k/ , / g/ , /ny/ , / y/, / r/ , / l/ , / w/ , / s/ , / sh/ , / z/ , / f/ , / h/ , / x/ , dan / z/

Struktur suku kata bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, dengan masuknya unsur serapan. Untuk jelasnya suku kata bahasa Indonesia, seperti berikut.

Struktur Suku Kata
1)      KVKKK2)      KKVKK

3)      KKKVK

4)      KKKV

5)      KVKK

6)      KKVK

7)      KKV

8)      KV

9)      VK

10)   V

KorpsPleks pada kata kompleks

Struk pada kata struktur

Stra pada kata strata

Teks pada kata tekstil

Spon pada kata spontan

Gra, pla pada kata granat, planet

Ku, da, la, ri, ta, di, ti, ba ( contoh ini banyak sekali)

Il, in, pada kata ilmu, indah

O pada kata obat, u pada kata ukur.

2. Fonetik

Fonetik membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia , serta  bagaimana bunyi itu dihasilkan. Untuk itu ada tiga macam alat ucap  yang berkenaan ddengan bunyi ujaran.

1)      Udara adalah yang dialirkan ke luar dari paru-paru ketika berbicara.

2)      Artikulator adalah bagian alat ucap  yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan.

3)      Titik Artikulasi adalah bagian alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari artikulator. Untuk lebih jelasnya, perhatikan  gambar berikut. (a)  Alat-alat ucap manusia, (b) Bagan  yang berikut alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi bahasa

Keterangan:

(1)             Bibir atas

(2)             Bibir bawah

(3)             Gigi atas

(4)             Gigi bawah

(5)             Gusi (alveolum)

(6)             Langit-langit keras (palatum)

(7)             Langit-langit lunak (velum)

(8)             Anak tekak (uvula)

(9)             Ujung lidah

(10)         Daun lidah

(11)         Depan lidah

(12)         Belakang lidah

(13)         Akar lidah

(14)         Epiglotis

(15)         Pita suara

(16)         Faring

(17)         trakea

Jika bunyi ujaran yang ke  luar dari paru-paru tidak dapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan tergantung pada  beberapa hal berikut.

1)      Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)

2)      Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi)

3)      Maju mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan elveolum atau lengkuk kaki gigi)

Untuk itu perhatikan  diagram vokal berikut ini.

Depan Pusat Belakang
Atas I - U
Tengah E E O
Bawah - a -

Jika bunyi ujaran, ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai  bermacam-macam, ada hubungan  yang bersifat seluruhnya, dan ada pula  yang sebagian yaitu dengan menggeser  atau mengadukkan arus suara sehingga menghasilkan konsonan bermacam-macam pula. Untuk itu, perhatikan berikut ini.

DaerahArtikulasi

Cara

Artikulasi

Bilabial Labiodental Dental/ Alveolar palatal Velar glotal
Hambat tak bersuaraBersuara P,b t,d c,j k,g ?
Firkatif tak bersuaraBersuara f s,z sy X h
Nasal bersuaraBersuara m n ny Ng
Getar bersuaraBersuara R
Lateral bersuaraBersuara I
Semivokal bersuaraBersuara w y

Berdasarkan tabel di atas dapat kita cermati pembagian fonem konsonan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini.

1)      Konsonan hambat, bersuara, bilabial : b

2)      Konsonan hambat, tak bersuara, bilabial p

3)      Konsonan nasal, bersuara, bilabial: m , dan seterunya

3. Intonasi

Jika kita  memperhatikan dengan cermat, bicara seseorang maka arus ujaran yang sampai ke telinga pendengar, kedengarannya seperti ombak-ombak. Hal ini terjadi karena  bagian-bagian dari arus ujaran tidak sama nyaringnya ketika diucapkan. Ada bagian yang diucapkan lebih keras, ada bagian yang diucapkan lembut, dan ada lagi bagian  yang lebih tinggi, serta ada bagian  yang lebih rendah; Ada bagian yang diucapkan cepat, dan ada yang lambat, dan seterusnya. Keseluruhan dari gejala itu disebut intonasi. Menurut Gorys Keraf (1984:40) mengatakan bahwa intonasi adalah kerja sama  antara nada, tekanan, durasi dan penghentian-penghentian yang menyertai suatu tutur dari awal sampai akhir.

Contoh:

Ibu kehilangan sapu tangan.  (intonasi berita)

Di mana kamu tinggal? (intonasi tanya)

Mari, kita berangkat bersama! (ajakan)

Jawablah pertanyaan berikut! (perintah)

Nah, begitulah jawabnya! (seruan)

4. Ejaan

Peraturan pertama untuk ejaan bahasa Indonesia yang pada saat itu  disebut bahasa Melayu ialah peraturan ejaan yang lazimnya disebut Ejaan Van Ophuysen, yang mulai berlaku  pada tahun 1901. Peraturan ini dimuat dalam buku Ch. A. Van Ophuysen yang dinamakan Kitab Logat Melajoe.

Untuk mendapat gambaran akan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam ejaan Van Ophuysen dengan ejaan yang berlaku sekarang, dapat dilihat pada contoh berikut ini.

Ejaan Van Ophuysen Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
Elok, tengger

Oupah

Chabar

Njawa

Sjahbandar

Djahid

Tjutji

Ta’

Ma’na

Menama’i

Ma’af

Elok, tengger

Upaya

Khabar

Nyawa

Syahbandar

Jahit

Cuci

Tak

Makna

Menamai

Maaf

Setelah ejaan Van Ophuysen berlaku, lalu tahun 1945 negara Indonesia Merdeka dan mempunyai  Menteri  Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan yang bernama Mr. Soewandi.  Pada tahun 1947 menteri tersebut  mengeluarkan surat keputusan tertanggal 19 Maret 1947, Nomor 264/Bhg. A Lampiran mengenai  ejaan  pada surat keputusan itu diperbaruinya dengan lampiran pada surat Keputusan No. 345/Bhg. A tertanggal 1 April 1947 itu, biasanya dinamai Eajaan republik, atau kadang-kadang disebut juga Ejaan Suwandi.

Perubahan-Perubahan yang sangat hakiki dalam  Ejaan republik, antara lain:

Ejaan Van Ophuysen

Ejaan Republik (Ejaan Suwandi)

Ekor

Oepaya

Ta’

Ma’na

Disukai

Soal

Boekoe boeku

Ekor

Upaya

Tak

Makna

Disukai

Soal

Buku-buku atau buku2

Setelah itu  bahasa Indonesia berkembang dengan pesat akhirnya ada kesepakatan bersama antara Indonesia dengan Persekutuan Tanah Melayu, khususnya tangaal 17 April 1959. Berdasarkan kesepakatan itu pada tanggal 4-7 Desember 1959 di Jakarta diusulkan ada ejaan bersama antara kedua negara tersebut dengan nama Ejaan Melayu Indonesia atau disingkat dengan Ejaan Melindo. Karena kesepakatan itu tidak dijalankan oleh kedua negara akhirnya batal pelaksanaan  Ejaan Melindo. Akhirnya pada  tahun 1992 terbitlah surat Keputusan Menteri No. 6/U/1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menginstruksikan kepada: (1) Semua koordinator Perguruan Tinggi, (2) Semua universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi dalam lingkungan Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya mulai tangal 17 Agustus 1972 EYD diresmikan pemakaiannya. Perubahan yang prinsip Ejaan Yang Disempurnakan dari Ejaan Republik sebagai berikut.

No.

Ejaan Republik

EYD

1.2.

3.

4.

5.

6.

7

Tj

Dj

Nj

(f, v)

(z)

(ch)

j

c

j

ny

f, v

z

kh

y

Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini adalah ejan yang disempurnakan (EYD), yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Agustus 1972, yang sebelumnya menggunakan Ejaan republik (atau Ejaan Suwandi). Sekarang EYD yang berlaku adalah yang terbaru yakni EYD berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 46 tahun 2009.

Tujuan penyempurnaan ejaan tersebut adalah:

1)      Menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembangan bahasa Indonesia.

2)      Membina ketertiban dalam penulisan huruf dan tanda baca.

3)      Usaha pembakuan bahasa Indonesia.

4)      Mendorong pengembangan bahasa Indonesia.

Dalam  ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan terdiri atas lima pembahasan.

1)      Pemakaina Huruf (abjad, vokal, diftong, konsonan, persukuan dan nma diri)

2)      Penulisan Huruf (huruf kapital, dan huruf miring, huruf tebal)

3)      Penulisan Kata (kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabung, kata depan, partikel, angka dan bilangan)

4)      Tanda Baca

5)      Penulisan Unsur Serapan

Latihan:

  1. Apa yang dimaksud fonologi?
  2. Apa saja yang dibahas dalam fonologi? Jelaskan!
  3. Mengapa dalam berbicara ucapan harus jelas?
  4. Apa fungsi fonem dalam bahasa Indonesia?
  5. Bagaimana terjadinya bunyi?
  6. Ada berapa fonem resmi dalam bahasa Indonesia? Berikan contoh!
  7. Hal-hal apa yang terkandung dalam intonasi?
  8. Apa saja yang dibahas dalam Ejaan yang Disempurnakan menurut Permen 46 tahun 2009/

—–sjk—-

SISTEM MORFOLOGI (KATA) DALAM BAHASA INDONESIA

Kompetensi Dasar:Mahasiswa mampu mengidentifikasi  morfologi (kata)  dalam bahasa Indonesia

Indikatotr:

  • Mahasiswa  dapat membedakan morfem bebas dengan morfem terikat.
  • Mahasiswa dapat penjelaskan  pengertian proses morfologis
  • Mahasiswa dapat menyebutkan macam-macam proses pembentukan kata dari kata lain.

Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.  Bentuk kata tersebut bisa berupa kata dasar bisa juga kata jadian. Misalnya:

Saya  membaca buku pelatihan.

Ujaran tersebut dapat dipenggal-penggal sebagai berikut.

saya, membaca, buku, pelatihan

Kempat kata tersebut mempunyai arti sendiri-sendiri. Saya  dan buku sudah tidak bisa diuraikan lagi, tetapi membaca dan pelatihan masih dapat diuraikan  menjadi:

mem

baca

latih

Pe-an

Ujaran-ujaran saya, baca, buku, latih  mengandung makna tersendiri sehingga dapat langsung membentuk kalimat.  Satuan semacam itu disebut gramatis. Sedangkan mem, dan pe-an disebut non-gramatis. Kedua macam satuan itu yakni gramatis dan non-gramatis disebut morfem. Morfem berdasarkan bentuknya dalam bahasa Indonesia ada  dua macam morfem yaitu morfrm bebas dan morfem terikat.

1. Morfem Bebas

Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat, seperti:

1)      Ia makan nasi

2)      Halaman itu bersih.

Sekilas tampaknya morfem  bebas ini  sama dengan kata. Memang begitu, morfem bebas sudah termasuk kata, tetapi konsep kata  tidak hanya morfem bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, morfem dasar  dengan morfem dasar. Jadi dapat dikatakan bahwa morefem bebas itu kata dasar. Adapun kata menurut bentuknya meliputi:

1)      Kata dasar

2)      Kata jadian, yang terbagi lagi menjadi

a.       Berimbuhan

b.      Kata ulang

c.       Kata majemuk

Seperti uraian di atas , sebuah kata dapat dibentuk dengan penggabungan bermacam-macam morfem. Penggabungan itu selalu mengikuti tata tingkat yang teratur. Oleh karena itu, untuk menentukan proses pembentukan suatu kata, perlu dianalisis unsur-unsur yang tergabung dalam kata tersebut. Mari kita amati contoh berikut ini.

Kata petani dibentuk dari unsur pe dan tani, dan kata perbuatan kata ini terdiri atas 3 unsur yaitu per, buat, dan an. Kata perbuatan mengandung ide yang berbeda dari kata perbuat dan buatan. Berarti morfem pe- dan –an pada kedua kata yang terakhir ini tidak sama fungsinya dengan morfem per-an pada kata perbuatan. Sebab itu, berarti kata perbuatan terbentuk dari  unsur  dan per-an. Analisis ini disebut analisis unsur bawaan terdekat, dan disebut bentuk dasar.

Perhatikan contoh berikut.

Analisis unsur bawaan terdekat
terang kan
Me terangkan
Menerangkan

Contoh analisis unsur menerangkan,

tahap pertama: terang +-kan, menjadi terangkan.

Tahap kedua: terangkan ditambah morfrm –me- menjadi menerangkan

2. Morfem Terikat

Morfem terikat merupakan morfrm yang belum mengandung arti maka morfem ini  belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Morfem terikat dalam bahasa Indonesia  ada 2 macam, yakni morfem terikat morfologi dan morfem terikat sintaksis.

a. Morfem Terikat Morfologi

Morfem terikat morfologi yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar. Morfem itu sebagai berikut.

1)      Prefiks = awalan:  me-, ber, pe-, per-, se-, ke-

2)      Infiks = sisipan : -er-, -el-, -em-

3)      Sufiks = akhiran : -i, -kan, -an

4)      Konfiks = imbuhan gabungan senyawa : per-an, ke-an, dan lain-lain.

Morfem terikat morfologi  mempunyai fungsi yang bermacam-macam.

a)      Imbuhan yang berfungsi  membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-, di-, -kan, -i dsb.

b)      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata benda yaitu: pe-, ke-, -an per-an, -man, wati, -wan, dsb.

c)       Imbuhan yang berfungsi membentuk kata sifat, yaitu:  ter-, -i, wiah, iah

d)      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata bilangan, yaitu: ke-, se-

e)      Imbuhan yang berfungsi membentuk kata tugas, misalnya: se- dan se-nya.

Berdasarkan contoh di atas menunjukkan bahwa setiap kata berimbuhan akan tergolong dalam satu jenis tertentu, tetapi hanya imbuhan yang merupakan unsur langsung yang dapat diidentifikasi fungsinya sebagai pembentuk jeniskata. Untuk itu, perhatikan unsur langsung pembentuk kata dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Pakaian          ……………..    kata benda

Berpakaian   ……………..     kata  kerja

Berkemauan     ……………..   kata kerja

Kemauan      ……………..    kata benda

Ber-       ke-an           mau       ……………..    keterangan

Imbuhan Pembentuk Jenis Kata

Jadi  dengan imbuhan yang berbeda, morfem dasar yang sama, akan berbeda maknanya. Tetapi perhatikan jika imbuhannya sama. Morfem  dasarnya berbeda, apa yang dapat terjadi? Kita ambil contoh akhiran –an pada morfem dasar tepi, darat, lapang; membentuk kata tepian, daratan, lapangan, ternyata menunjukkan persamaan makna imbuhan, yaitu tempat. Berarti dengan imbuhan yang sama, morfem dasarnya berbeda, dapat menghasilkan persamaan makna imbuhan  yaitu jenis kata benda.

Selain itu perlu pula dicermati ialah, Imbuhan sama, melekat pada morfem dasar yang sama, tetapi mengandung makna yang berbeda perhatikan contoh berikut.

a)      Berkaca:       Jendela kamarnya berkaca. (mempunyai kaca)

Ia berkaca sambil berdandan. (menggunakan kaca)

b)      Pencetak:    Si Gonzales pencetak gol terbanyak. (pelaku perbuatan-cetak)

Mesin pencetak genteng itu  rusak. (alat untuk-mencetak)

Ketidaksamaan makna dari kata-kata di atas disebut makna struktural, hal ini disebabkan karena pengaruh kata yang menjadi unsur dalam kalimat tersebut. Untuk menentukan makna struktural dalam kata berimbuhan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.

a)      Menentukan morfem dasar dan satuan dasarnya

b)      Menentukan apakah makna kata berimbuhan itu diturunkan langsung dari morfem dasarnya.

c)       Menentukan hubungan makna morfem dasar dengan makna berimbuhan

d)      Menguji hasilnya melalui pemakaian kata itu dalam kalimat

Selanjutnya dalam konteksnya, kita jumpai ada morfem  terikat morfologis yang mengalami perubahan bentuk atau variasi, misalnya:

Ber- Be-

Bel-

Berlayar

Beruang

bersatu

bekerja

Belajar

Mem- Men- Meng- Me- Meny- Menge-
membantu menarik mengganti menerima menyerang Mengebom

Awalan yang mempunyai variasi bentuk seperti di atas adalah me-, ber-, ter-, dan pe-. Perubahan bentuk seperti di atas, terjadi sebagai akibat dari lingkungan kata yang dimasukinya, peristiwa seperti  ini disebut alomorf. Jadi , Alomorf adalah variasi bentuk dari suatu morfem yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya.

Selain menentukan jenis kata, morfem imbuhan juga menentukan makna kata. Maka sebuah imbuhan yang menjadi unsur langsung pembentuk sebuah kata, merupakan penentu makna bagi kata yang dilekatinya.

b. Morfem Terikat Sintaksis

Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat berikut.

Mereka yang membaca dan menjual buku itu.

Dari deretan morfem yang terjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah sebagai berikut.

Mereka, baca, jual, buku, adalah morfem bebas.

Me-, me- adalah morfem terikat morfologis.

yang, dan adalah morfem terikat sintaksis. Hal ini terjadi karena kata yang, dan tidak mengandung makna  tersendiri.

Latihan:

  1. Apa yang dimaksud morfem dan morfologi?
  2. Ada berapa macam morfem dalam bahasa Indonesia? Jelaskan!
  3. Klasifikasikan fungsi imbuhan pada kata-kata berikut ini!

a.       Minuman

b.      mengambilkan

4. Tentukan proses pembentukan kata berikut!

a.       Berperikemanusiaan

b.      menyebarluaskan

5. Tulis dua macam fungsi imbuhan dalam bahasa Indonesia!

6. “Rumahnya yang baru itu telah dijualnya”. Uraikan ada berapa morfem kalimat di atas!

7. Berikan contoh morfem terikat sintaksis dalam sebuah kalimat!

—–sjk—–

SINTAKSIS BAHASA INDONESIA SD

KALIMAT BAHASA INDONESIA SD

Kompetensi Dasar:Mahasiswa mampu mengidentifikasi  sintaksis bahasa Indonesia

Indikatotr:

  • Mahasiswa  dapat menyebutkan ciri-ciri kalimat bahasa Indonesia
  • Mahasiswa dapat menentukan macam-macam frase bahasa Indonesia
  • Mahasiswa dapat menyebutkan macam-macam kalimat bahasa Indonesia.
  • Mahasiswa dapat menyebutkan pola kalimat dasar bahasa Indonesia

A. Ketentuan dan Ciri-Ciri kalimat

Ketentuan kalimat baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis prinsipnya sama. Beberapa ahli bahasa menjelaskan bahwa kalimat adalah:

1.       Satuan gramatika yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai  nada akhir turun atau naik (Sintaksis, Profesor Ramlan)

2.       Bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa  bagian ujaran  itu sudah lengkap. (Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia, Gorys Keraf)

3.       Satuan bahasa terkecil, dalam wujud lesan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran utuh. (Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia,  Hasan Alwi, dkk.)

Berdasarkan ketiga pengertian tersebut  dapat disimpulkan bahwa  kalimat mencakup beberapa unsur, yakni berikut ini.

1.       Bentuk (unsur-unsur segmental), yaitu kata, frase, klausa, wacana).

2.       Intonasi (unsur suprasegmental) yaitu naik turun suara,  keras lembut tekanan suara, jeda kesenyapan atau perhentian sesaat atau beberapa saat. Dalam bahasa tulis unsur intonasi ditandai dengan tanda baca koma (,) tanda pisah (-) titik dua (:)  di akhir kalimat ditandai dengan tanda titik (.), tanda tanya (?) atau tanda seru (!)  Sebuah kalimat ditandai dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru atau tanda tanya.

3.       Situasi yang menimblkan ujaran itu timbul. Hal ini mempengaruhi pilihan kata dan intonasi yang digunakan penutur.

4.       Makna atau arti yang didukung

B. Frase (Kelompok Kata)

1. Batasan Frase

Anda perlu mengingat kembali istilah frase (kelompok kata). Perhatikan contoh berikut ini.

a.       Rumah (S) mewah (P)

b.      Saya (S) membeli (P) rumah mewah (O)

Bentuk rumah mewah dalam kalimat (a) sudah dapat disebut kalimat kerena rumah dapat berfungsi sebagai subjek dan mewah berfungsi predikat. Di antara rumah (subjek) dan mewah (predikat) dapat diantarai  kata lain,  seperti ini atau itu. Jadi bentuk Rumah itu mewah atau rumah ini mewah dapat diterima sebagai kalimat. Dari segi makna pun dapat diterima.  Bentuk rumah mewah dalam kalimat (b) hanya menjadi frase. Rumah mewah di sini berfungsi objek.

Batasan frase

Frase adalah kelompok kata yang mengandung suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek dan keterangan) dan kesatuan makna dalam kalimat.

2. Membentuk Frase

Bagaimana membentuk frase? Frase dapat dibentuk dengan cara memperluas kata. Contohnya berikut ini.

a.       Kata benda diperluas dengan:

1)      Yang + kata sifat = hujan yang gundul.

2)      Kata sifat = hujan gundul, guru rajin.

3)      Kata bilangan = dua hektar hutan, sepuluh orang.

4)      Kata benda = hutan kota, taman kota, keputusan  pengadilan.

b.      Kata kerja diperluas dengan:

1)      Dengan + kata sifat = membaca dengan cermat, bekerja dengan rajin, tidur dengan nyenyak.

2)      Kata keterangan = belum menjelaskan, sudah mandi,  sedang bernyanyi, sangat memohon, terus belajar.

3)      Kata kerja = dibawa pergi, diajak makan, dilarang merokok. Frase ini disebut frase verbal.

c.       Kata sifat diperluas dengan:

1)      Keterangan = sangat berani, amat takut, taat sekali. Frase ini disebut frase ajektival

3. Macam-macam Frase

Frase dapat digolongkan menurut hubungan antar unsur pembentuknya.

1)      Frase setara (koordinatif), contohnya anak istri, ibu bapak, sawah ladang, pulang pergi, baku hantam, sepak terjang.

2)      Frase bertingkat (subkoordinatif). Contohnya, guru matematika, sangat jujur, belum pergi, ketua partai, hukum rimba, dunia maya, tidak adil. Hubungan di antara unsurnya bertingkat.

3)      Frase dapat digolongkan menurut makna yang didukungnya.

a.       Frase idiomatik, contohnya berikut ini.

Koruptor itu diminta pertanggungjawabnya di meja hijau (pengadilan)

Mereka kaki tangan  pengedar narkoba. (kaki tangan = pembantu-pembantu)

b.      Frase lugas (biasa), contohnya berikut ini.

Mereka membeli meja hijau (meja berwarna hijau)

Kaki tangan mereka diborgol (kaki tangan = kakai dan tangan)

C. Macam-macam Kalimat

Pada pertemuan ini kita akan membahas macam-macam kalimat. Sebagai contoh Anda dapat mencermati penggalan wacana berikut ini.

Damai? Mustahil. Upaya ke arah perdamaian kerap sulit diwujudkan. Keributan bahkan peperangan sering terjadi di beberapa tempat. Apakah nurani sebagian manusia tumpul? Mungkin benar ‘keorganan’ lebih menguasai hati mereka daripada ketulusan Cinta kasih terhadap sesama manusia. Mereka tidak peduli penderitaan anak-anak, para wanita, orang tua yang menjadi korban kekejaman perang.

Kalimat dapat dibedakan berdasarkan bermacam-macam hal.

  1. Bedasarkan Jumlah Inti yang membentuk Sebuah Kalimat

a.       Kalimat minor

Kalimat yang hanya mengandung satu unsur ini atau pusat.

Contoh:

Yudi

Damai?

Mustahil

Mungkin benar

Kalimat-kalimat di atas hanya mengandung satu unsur initi: damai, mustahil benar. Oleh karena hanya mengandung satu inti maka disebut kalimat minor.

b.      Kalimat mayor

Kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.

Contoh:

Upaya ke arah perdamaian kerap sulit diwujudkan.

Keributan bahkan peperangan sering terjadi di beberapa tempat.

Apakah nurani sebagian manusia mulai tumpul.

Kalimat-kalimat di atas mengandung dua inti kalimat atau lebih (upaya perdamaian sulit, keributan terjadi, nurani manusia tumpul).

  1. Berdasarkan Jumlah kontur (Perhentian dalam Intonasi Ucapan Kalimat)

a.       Kalimat minim

Kalimat yang hanya mengandung satu unsur kontur (bagian dari arus ujaran yang diapit dua kesenyapan = /…./)

Contoh:

/Damai?/

/Mustahil/

/Mana mungkin/

b.      Kalimat  panjang

Kalimat yang mengandung lebih dari satu kontur satu unsur.

Contoh:

/Upaya ke arah perdamaian/kerap sulit diwujudkan/

/Keributan/bahkan peperangan/ sering terjadi di beberapa tempat/

/Apakah nurani sebagian manusia/ mulai tumpul?/

Anda perlu membacakan kalimat-kalimat di atas. Tanda / (kesenyapan) adalah tanda Anda berhenti sejenak. Tanda /…./ sama dengan satu kontur. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui berapa kontur yang terdapat dalam kalimat tersebut. Bagaimana? Bukankah sekarang Anda dapat membuktikan bahkan kalimat-kalimat di atas merupakan kalimat panjang karena mengandung lebih dari satu kontur.

  1. Kalimat Berdasarkan Jumlah Inti dan Urutan Subjek, Predikat

a.       Kalimat inti

Kalimat  yang terdiri dari dua kata dan keduanya merupakan inti sedangkan urutan fungsi unsur-unsurnya diawali subjek dan diakhiri predikat dan intonasinya netral (bukan perintah ataupun pertanyaan)

Contoh:

Adik berlari.

Mafela pergi.

Pikirannya jenuh.

Kemauannya kurang.

Usahanya gagal.

Kalimat-kalimat di atas terdiri dari dua kata. Kedua kata tersebut merupakan inti kalimat. Susunan fungsi unsur-unsur dalam kalimat di atas Subjek + Predikat. Maka, kalimat di atas tergolong dalam kalimat inti.

b.      Kalimat luas

Kalimat yang terdiri lebih dari dua kata atau inti, sedangkan urutan fungsi unsur-unsurnya diawali subjek dan diakhiri predikat.

Contoh:

Mariska tidak akan pergi.

Pikirannya sangat jauh.

Kemauannya kurang sekali sehingga ia tidak lulus ujian.

Adiknya usahanya gagal totol.

c.       Kalimat transformasi

Kalimat inti yang sudah mengalami perubahan baik jumlah kata atau inti ataupun urutan subjek-predikatnya.

Contoh:

Mariska tidak akan pergi

Pikirannya sangat jenuh.

Kemauannya kurang sekali sehingga ia tidak lulus ujian.

Akhirnya usahanya gagal total.

  1. Kalimat Berdasarkan Jumlah Pola Kalimat (Jumlah Unsur Subjek dan Predikatnya)

a.       Kalimat tunggal

Kalimat yang terdiri atas satu pola kalimat.

Contoh:

Pak tani membrantas hama padi.

Hari ini  Bapak camat menghadiri doa sejuta umat.

b.      Kalimat majemuk

Kalimat yang terdiri atas lebih dari satu pola kalimat.

(1)    Kalimat Majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas, sehingga perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola yang sudah ada.

Contoh:

-          Pak tani memberantas hama padi sebelum tanaman padi banyak yang rusak. (Pola kalimat: S-P-O,S-P)

-          Hari ini Bapak Camat menghadiri doa sejuta umat agar  perdamaian di bumi ini tetap terjaga. (Pola kalimat:  K-S-P-O, S-Kt-P)

-          Kebersamaan sangat penting bagi rakyat Indonesia agar Negara ini tetap bersatu. (Pola kalimat: S-P-Pel, S-P)

-          Akibat virus SARS mewabah, kegiatan pariwisata terganggu. (Pola kalimat: S-P,S-P)

Perlu  Anda mengetahui bahwa pembentukan kalimat majemuk bertingkat dapat menggunakan beberapa cara.

a.       Dengan menggunakan kata penghubung antarkalimat, seperti di atas. Kata penghubung yang dapat digunakan adalah sebelum, sesudah, agar, supaya, akibat, sebab, jika, kalau, walaupun, bahwa. Kata penghubung tersebut dapat diletakkan di awal atau di tengah kalimat.

b.      Cara kedua dengan memperluas S atau  P atau O atau K.

Contoh:

Pak tani yang rajin itu membrantas hama padi.

(yang diperluas subjeknya, sehingga pola kalimat menjadi: S-P-P-O)

(2)    Kalimat majemuk Setara

Kalimat majemuk yang dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa kalimat tunggal. Kalimat-kalimat tunggal tersebut bukan merupakan perluasan dari salah satu fungsi kalimat lainnya. Masing-masing kalimat memiliki kedudukan yang sama. Kata penghubung yang digunakan,Misalnya: dan, tetapi, melainkan, sednagkan, atau, padahal, lalu.

Contph:

-          Ibu tersenyum dan ayah tertawa.(S-P-SP)

-          Anti meletakkan tasnya lalu pergi ke luar kelas. ( S-P-O-P-K)

  1. Kalimat Berdasarkan Jenis dan Bentuk Kata Kerja serta Subjek dan Predikatnya

A.      Kalimat aktif

Subjek melakukan pekerjaan

Objek sasaran dari subjek.

Contoh:

-          Saya menulis surat.

-          Pak Ahmad harus memperbaiki rumah.

-          Adik sudah mencuci mobil.

B.      Kalimat pasif

Subjek menjadi tujuan objek.

Objek melakukan pekerjaan.

Contoh:

Surat ditulis oleh Aminah.

Surat saya tulis kemarin pagi.

D. Pola Kalimat Dasar

Setelah mempelajari macam-macam kalimat, Anda perlu juga mempelajari pola kalimat dasar. Ciri-ciri kalimat dasar:

1.       Terdiri atas kalimat tunggal.

2.       Unsur-unsurnya lengkap.

3.       Urutan unsur-unsurnya umum; dan

4.       Tidak mengandung pertanyaan dan pengingkaran.

Dalam bahasa Indonesia pola kalimat dasar terdiri dari 6 tipe sebagai berikut.

1.       S-P                 : Dia  marah.

2.       S-P-O            : Dokter memeriksa pasiennya.

3.       S-P-Pel         : Anak-anak bermain bola.

4.       S-P-K             : Mereka memantau ke Libya.

5.       S-P-O-Pel    : Murid menghadiai gurunya bunga.

6.       S-P-O-Ket    : Mereka memperlakukan kami dengan baik.

Dalam kalimat dasar semua unsur minimal wajib ada. Artinya, apabila tidak lengkap kalimat tersebut belum selesai. Apabila kelebihan unsur maka kalimat itu sudah merupakan  kalimat luas bukan kalimat dasar lagi.

Contoh:

Merek berangkat ke Australia tadi pagi. (S-P-K-K)

Kalimat tersebut belum selesai jika hanya; Mereka berangkat. Kalimat tersebut harus dilengkapi unsur keterangan. Jadi, kalimat dasarnya adalh Mereka berangkat ke australia. (S-P-K). Unsur keterangan berikunya “tadi pagi”tidak wajib.

Latihan:

  1. Apakah perbedaan antara bahasa lisan dengan tulisan?
  2. Jelaskan batasan kalimat!
  3. Jelaskan ciri-ciri kalimat!

—————————SJK——————————

TELAAH KESALAHAN  BERBAHASA INDONESIA

(FONOLOFI, MORFOLOGI, SINTAKSIS)

Kompetensi Dasar:

Mahasiswa mampu mengkaji kesalahan berbahasa Indonesia

Indikator:

  • Mahasiswa  dapat  menelaah kesalahan fonologi (fonetik, fonemik, ejaan)
  • Mahasiswa dapat menelaah kesalahan  Morfologi ( kata berimbuhan, kata majemuk, kata ulang)
  • Mahasiswa dapat  menelaah  kesalahan sintaksis (kalimat tidak bersubjek/predikat, penggunaan partikel, penghubung dalam kalimat, kalimat pasif)

Kesalahan Fonologi

1.     Kesalahan Fonetik

Kesalahan pengucapan terjadi dalam bahasa Indonesia terutama pengucapan fonem /e/, /h/, /kh/, /k/, /p/, /f/, /s/, /sy/.

Sehubungan dengan itu kita membedakan simbul sebabgai berikut:

‘E’ simbul dari ucapan ‘emas’

‘e’ simbol dari ucapan ‘enak’

Kesalahan fonetik tidak akan mengubah makna kata, misalnya seminar dibaca sEminar tidak akan mempengaruhi/mengubah makna kata tersebut.

Contoh:

1.    1. Murid-murid sedang mempelajari peta Pulau Jawa

2.        Ucapan yang benar berdasarkan KBBI adalah /pEta/

2.  Badannya peka obat-obatan penisilin.

Ucapan yang benar adalah  /pEka/

3.  Seminar itu membahas masalah-masalah prinsipil.

Ucapan yang benar adalah /seminar/

4.  Kita harus mengakui keesaan Tuhan

Ucapan yang benar adalah /keEsaan/

5. Pegang tanganku kuat-kuat.

Ucapan yang benar adalah /pEgang/

Dasar untuk menentukan ucapan yang benar  bisa dilihat dalam KBBI bahasa Indonesia

2.     Telaah Kesalahan Fonemik

Kesalahan fonemik berbeda dengan kesalahan fonetik sebab kesalahan fonmik akan mengubah makna kata tersebut. (kata yang salah mengucapkan akan mengubah makna kata tersebut. Misalnya: seri dibaca sEri jelas maknanya berubah.

Contoh telaah fonemik

a.       Rambut itu perang-/pErang/

b.      Pasukan itu maju ke medan perang -/pErang/

c.       Mereka sedang bermain-main di teras rumahnya -/teras/

d.      Pejabat teras itu datang ke mari-/tEras/

e.       Balok kayu itu diseret gajah. –seret/

f.       Keuangan kami sudah demikian seret. –sErEt/

3.     Kesalahan Ejaan

Keslahan ejaan ini yang paling banyak dilakukan oleh anak-anak.

Misalnya:

a.       Saya membaca buku diperpustakaan.

b.      Buku itu telah dibaca oleh presiden Soeharto.

Seharusnya penulisan kata depan di dipisah dengan kata yang mengikutinya karena di tersebut adalah kata depan bukan awalan. Begitu juga kata presiden seharusnya ditulis dengan huruf pertama huruf kapital. Kalimat yang benar adalah:

a.       Saya membaca buku di perpustakaan.

b.      Buku itu telah dibaca oleh Presiden Soeharto.

Kesalahan Morfologi

4.     Telaah Kesalahan Afeksasi

Dalam berbahasa Indonesia, pengguna bahasa Indonesia sering  terjadi kesalahan dalam proses pembentukan kata dengan awalan atau prefiks.

Misalnya:

a.       Dialah yang melola KUD di desanya.

b.      Di sekolah itu ia mencoba mentrapkan sistem pendidikan  modern.

c.       Kami tak tahu, siapa mendrop beras tersebut.

d.      Buku itu sudah terlanjur diberikan kepadanya.

e.       Mereka menyuci di sungai.

Jika ditelaah kata-kata berimbuhan dalam kalimat-kalimat tersebut kurang tepat sebab tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Menurut Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia kata dasar yang hanya terdiri satu kata jika mendapat awalan me- menjadi menge-. Karena itu, kata:, mendrop, mentik, mencat adalah salah seharusnya:  mengedrop, mengetik, mengecat bukan  mendrop, mentik, dan mencat.

Begitu juga melola kata dasarnya bukan lola kelola. Kata kelola jika mendapat awalan me- terjadi nasalisasi yakni mengelola. Kata   ‘mentrapkan’ kata dasarnya bukan ‘trap’ tetapi ‘terap’ jika mendapan imbuhan me-kan maka menjadi kata ‘menerapkan’

5.     Telaah Kesaalahan Reduplikasi

Kesalahan reduplikasi (pengulangan kata) terjadi karena didahului kata bilangan tak tentu, kesalahan makna, kesalahan bentuk dasar.

Misalnya:

a.       Harus kita ingat bahwa pada waktu belakangan  kita banyak  kerugian-kerugian.

b.      Banyak pedagang-pedagang di pinggir jalan dikejar-kejar polisi-polisi.

c.       Dia masih anak-anak, sehingga belum bisa diterima di SD.

d.      Aku bukan kanak-kanak lagi.

e.       Ibu hanya sekali-kali pergi ke kota.

Jika kita telaah kalimat (a) dan (b) pengulangan tersebut sudah bermakn banyak. Maka dari itu kata banyak di depan pengulangan itu harus dihilangkan atau kata berikutnya tidak perlu diulang, sehingga menjadi kalimat:

a.       Harus kita ingat bahwa pada waktu belakangan  kita banyak  kerugian.

b.      Pedagang-pedagang di pinggir jalan dikejar-kejar polisi-polisi. Atau Banyak-pedagang di pinggir jalan dikejar-kejar polisi-polisi

Kata anak-anak dengan kanak-kanak jelas maknanya berbeda. Jika kita perhatikan konteks kalimat maka kalimat (c) seharusnya kanak-kanak bukan anak-anak, begitu juga kalimat  (d) seharusnya  anak-anak, bukan kanak-kanak. Begitu juga kalimat (e0 seharusnya  sekali-sekali. Kalimat yang benar adalah:

a.       Dia masih kanak-kanak, sehingga belum bisa diterima di SD.

b.      Aku bukan anak-anak lagi.

c.       Ibu hanya sekali-sekali pergi ke kota.

  1. Telaah Kesalahan Kata Majemuk

Pada dasarnya kata majemuk itu dibentuk dalam suatu kesatuan, maka bentuk ulang yang terdiri atas kata majemuk harus diulang secara keseluruhan..

Contoh kesalahan:

a.       Rumah-rumah sakit itu mulai dibangun lagi.

b.      Harga sapu-sapu tangan di sini tidak mahal.

c.       Toko itu jual sabun-sabun mandi.

d.      Dialah kaki-kaki tangan kepala desa ini.

Seharusnya semua kata ulang kata majemuk diulang secara keseluruhan, yakni: rumah sakit-rumah sakit, sapu tangan-sapu tangan, sabun mandi-sabun mandi, kaki tangan-kaki tangan. Kalimat yang benar:

a.       Rumahsakit-rumah sakit itu mulai dibangun lagi.

b.      Harga sapu tangan -sapu tangan di sini tidak mahal.

c.       Toko itu jual sabun mandi-sabun mandi.

      Kesalahan Sintaksis

7.      Telaah Kesalahan Subjek/predikat dalam Kalimat

Sekarang perhatikanlah kalimat-kalimat berikut ini!

a.       Sekarang mulai bercerita.

b.      Pada hari ini di sekolah mengadakan perlombaan baca puisi.

c.       Di seluruh jalan-jalan yang dipagari oleh gedung-gedung bertingkat itu bermandikan cahaya lampu-lampu neon.

d.      Anak yang lulus.

e.       Ia mengajar bahasa Indonesia di SD.

Jika kita analisis kalimat-kalimat tersebut sebagai berikut.

Kalimat (a) ternyata tidak lengkap karena subjeknya belum ada. Ciri subjek adalah kata benda. Ternyata kalimat tersebut belum ada. Coba  jawab pertanyaan berikut: Siapa yang mulai bercerita? Mestinya jawabnya: gguru, adik, kakak, dsb. Karena demikian kalimat yang benar adalah:

-          Sekarang adik mulai bercerita.

-          Adik sekarang mulai bercerita.

-          Adik mulai bercerita sekarang.

Subjek kalimat tersebut adalah ‘adik’

Begitu juga kalimat (b) ‘pada hari ini di sekolah’ merupakan keterangan karena ada kata depan pada dan di. Kalimat yang benar adalah:

Pada hari ini sekolah mengadakan perlombaan baca puisi.

Silakan dianalisis sendiri  kalimat c, d, dan e.

8.      Telaah Kesalahan Penggunaan Partikel, Penghubung

Dalam menelaah  kesalahan partikel, penghubung, kita harus banyak membaca pedoman EYD dan Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia. Pada kedua buku tersebut ada aturan penggunaan partikel dan kata penghubung.

Perhatikan kesalahan penggunaan partikel dan penghubung berikut ini!

a.       Ia bukan melihat, tetapi mendengar.

b.      Ia bukan menendang bola, tetapi menendang kaki.

c.       Bju itu tidak merah, tetapi putih.

d.      Menuliskah surat ia?

e.       Ia menganggap tidak ail lawan yang tangguh.

f.       Di kelas boleh murid itu makan kacang.

g.      Anak itu lari, sebab itu ia takut.

h.      Anak itu takut, sebab ia lari.

i.        Dokter hidayat mau menajar bahasa Indonesia, sebab itu ia pergi.

j.        Adik tetapi Hasan.

Mati tetapi hidup.

k.      Orang itu diterima sebagai pegawai karena ada koneksi dengan kepala kantor, tetapi, karena memiliki kemampuan.

l.        Ayah diundang akupun diundang.

m.    Dibujukpun dia tidak akan menurut.

n.      Dia ke luar sejenak.

o.      Dia menengok keluar.

Jika kita analisis, kalimat-kelamat tersebut  sebagai berikut.

Partikel bukan yang terdapat dalam kalimat (a)  bila diamati dengan teliti pemakaiannya tidak tepat. Partikel ‘bukan’ sebagaimana partikel-partikel yang lainnya memiliki ketentuan letak yang cukup konsisten. Demikian juga partikel ‘bukan’ bila disusun dalam kalimat akan terletak di depan kata benda.

Misalnya:

Ia bukan meja, tetapi bangku.

Kalimat (a) mestinya: Ia tidak melihat, tetapi mendengar.

Jadi ‘bukan’ ditempatkan di depan kata benda, sedangkan ‘tidak’ di depan selain kata benda.

Coba yang lain dianalisis sendiri.

  1. Telaah Kesalahan Kalimat Pasif

Kesalahan kalimat pasif sering terjadi karena kesalahan mengubah bentuk aktih ke pasif. Perhatikan keslahan berikut ini!

a.       Kendaraan ingin dibawa oleh saya.

b.      Film si Unyil ingin ditonton Basyir.

c.       Sandiwara senang dilihat kaum remaja.

d.      Bantuan banjir itu diberikan oleh saya.

e.       Permohonan itu diajukan oleh saya.

Analisis kalimat pasif tersebut sebagai berikut.

Maksud kalaimat (a) adalah Kendaraan yang  ingin dibawa, berarti kendaraan yang bernyawa. Karena itu, KBBI menegaskan jika kalimat aktif yang subjeknya kata ganti orang  maka kalimat pasifnya tidak berkata depan di-, tetapi diubah menjadi kata ganti + kata tanpa awalan. Misalnya.

-          Saya ingin membawa kendaraan (kalimat aktif)

Kalimat pasifnya;

-          Kenadaraan ingin saya bawa. (kalimat pasif)

Kalimat berikutnya, silakan Anda analisis sendiri.

LATIHAN.

Telaahlah beberapa kata, kelompok kata, kalimat berikut ini!

  1. Berulang kali
  2. Mengajar bahasa
  3. Melempari batu
  4. Terkatung-katung di dalam lautan besar.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.