MATERI PBI S-1 PGSD

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD

TEORI DAN PRAKTEK – BAHAN DISKUSI PROGRAM S-1 PGSD

MEMBACA CEPAT

Membaca merupakan aktivitas yang kompleks dengan menggerakkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, misalnya orang harus menggunakan  pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Kita tidak bisa membaca  tanpa menggerakkan mata  atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pemahaman dan kecepatan membaca menjadi amat  bergantung pada kecakapan dalam  menjalankan setiap organ tubuh yang diperlukan untuk itu.

Pada waktu anak belajar membaca, ia belajar mengenal kata  demi kata, mengejanya, dan membedakannya dengan kata-kata lain.  Misalnya padi dan pagi. Anak harus membaca dengan bersuara, mengucapkan  setiap kata  secara penuh agar diketahui apakah  benar atau salah  ia membaca. Selagi belajar anak diajari membaca secara struktural, yaitu dari kiri ke kanan dan mengamati tiap kata  dengan saksama  pada susunan yang ada. Keterbatasannya belu memungkinkan  memanipulasi arti kata dan susunan kata  itu dalam kalimat. Oleh karena itu,  pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut.

a)      Menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca.

b)      Menggerakkan kepala dari kiri ke kanan.

c)      Menggunakan jari atau benda lain dari kiri ke kanan.

Secara tidak disadari, cara membaca yang dilakukan waktu kecil itu tetap diteruskan hingga dewasa. Mestinya, orang dewasa dapat dengan cepat mengenali frase, kalimat, dan urutan ide sehingga cara-cara di waktu  kanak-kanak tidak perlu lagi digunakan.

  1. 1. Penghambat Membaca Cepat

Anak yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban dalam membaca, tidak ada gairah, merasa bosan, tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk bisa  menyelesaikan buku yang tipis sekalipun.

Membaca dengan bersuara (vokalisasi), menggerakkan biir, menunjuk kata demi kata dengan jari, dan menggerakkan kepala dari kiri ke kanan, merupakan kebiasaan yang menghambat.

Menurut Soedarso (2006:5) kebiasaan yang melibatkan fisik  itu mudah diatasi dan dalam tempo dua minggu keiasaan itu akan hilang, asalkan kita  mau mempraktikkan  cara-cara penanggulangannya. Hambatan lain  yang sulit diatasi adalah regresi, atau mengulai beberapa kata ke belakang dan subvokalisasi atau  melafalkan kata dalam batin.

  1. Vokalisasi

Vokalisasi atau membaca dengan ersuara sangat memperlambat membaca karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam sekalipun,  dengan  mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca  denga bersuara.

Untuk menghilangkan kebiasaan itu menurut Soedarso (2006:5)  tiuplah (bibir seperti bersiul) sementara  membaca dan letakkan tangan di leher (tidak boleh terasa getaran).

  1. Gerakan Bibir

Orang dewasa ada yang meneruskan kebiasaan di waktu kecil, yaitu mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir. Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya  seperempat dari kecepatan membaca secara diam. Dengan menggerakkan bibir kita sering regresi (kembali ke belakang) sebab ketika mata  dapat dengan cepat bergerak maju, suara kita masih di belakang. Untuk menghilangkan kebiasaan membaca  dengan gerakan bibir menurut Soedarso (2006:6) pilihlah cara-cara yang cocok di bawah ini.

(1)   Rapatkan bibir kuat-kuat, tekankan lidah ke langit-langit mulut.

(2)   Mengunyah permen karet.

(3)   Ambil pensil atau sesuatu  yang lain yang cukup ringan, lalu jepit dengan kedua bibir (bukan gigi), usahakan pensil itu tidak ergerak.

(4)   Bibir dalam posisi bersiul, tetapi tanpa suara.

  1. Gerakan Kepala

Seaktu kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akbatnya adalah bahwa kita menggerakkan  kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa penglihatan kita  telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak.

Perhatikanlah gelas yang ada di meja Anda. Pada saat itu ternyata Anda dapat sekaligus melihat pensil, mesin tik, buku dan benda-benda lain. Kemampuan melihat sekitar titik pandang itu disebut medan penglihatan (peripheral vision) Untuk menghialngkan kebiasaan itu lakukanlah salah satu cara ini.

(1)   Letakkan telunjuk jari ke pipi dan sandarkan siku tangan ke meja selama membaca. Apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala itu, sadarlah dan hentikan gerakan itu.

(2)   Tangan memegang dagu seperti memegang-megang jenggot dan bila kepala bergerak, Anda akan tersadar lalu hintikan  gerakan itu.

(3)   Letakkan ujung telunjuk jari di hidung, maka bila kepala bergerak Anda akan menyadarinya dan berusahalah untuk menghentikannya.

  1. Menunjuk dengan Jari

Semasa baru belajar mebaca kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang kita baca. Untuk menjaga agar tidak  ada kata yang terlewati maka dilakukan dengan bantuan jari atau pensil yang menunjuk kata demi kata. Karena cara demikian dipraktekkan terus-menerus dan tidak ada yang memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa sebetulnya tidak perlu lagi dilakukan apabila kita telah pandai  membaca, akhirnya cara itu menjadi kebiasaan dan dilakukan sampai dewasa.

Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu sangat menghambat sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata. Kebiasaan itu dapat dihilangkan dengan cara yang mudah seperti berikut ini.

(1)   Kedua tangan memegang buku yang dibaca

(2)   Memasukkan angan ke saku selama membaca

  1. Regresi

Dalam membaca, mata mestinya bergerak kekanan untuk menangkap kata-kata yang terletak berikutnya. Akan tetapi, sering mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kkata atau  beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan selalu kembali (regresi) ke belakang untuk melihat kata atau beberapa  kata yang baru dibaca itu menjadi hambatan yang serius dalam membaca.

Contoh di bawah ini menunjukkan gerakan mata  dengan pengulangan ke belakang

1          2       3   7        4                   5             6          8

Pada waktu IMF  mempelajari resheduling hutang-hutang

Untuk mengurangi regresi itu dapat dilaksanakan  hal berikut.

(1)   Tanamkan kepercayaan diri. Jangan berusaha mengerti setia kata atau  kalimat di paragraf itu. Jangan terpaku pada detail. Terus saja membaca. Jangan  ikuti godaan untuk kembali ke belakang.

(2)   Hadapi bahan bacaan. Jika Anda membaca , baca! Apa yang sudah ketinggalan, tinggalkan! Terus. Terus saja. Perhatikan ke bahan  yang Anda baca dan baca!

(3)   Terus saja baca sampai kalimat selesai. Apa yang anda kira tertinggal, nanti akan Anda temui lagi. Apa yang Anda anggap tertinggal akan muncul lagi. Terus saja Anda baca. Semua akan terbukti  bahwa kita tidak kehilangan  sesuatu. Ingatlah bahwa kemampuan mata  dan otak kita  jauh melebihi pikiran kita. Oleh karena itu, paksakan terus. Dengan demikian Anda akan  mengganti kebiasaan lama dengan yang baru.

  1. Subvokalisasi

Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang dibaca juga dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi. Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih  memperhatikan bagaimana melafalkan  secara benar daripada berusaha memahami ide yang terkandung dalam kata-kata yang kita baca itu.

Dengan menghilangkan sama sekali cara membaca  dengan melafalkan dalam batin apa yang memang baca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat diusahakan dengan cara melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata  sekaligus  dan langsung menyerap idenya daripada melafalkannya. Kita harus sadar bahwa yang penting  dalam membaca adalah  menangkap ide, bukan mengingat-ingat atau menkuni simbol-imbul yang tercetak.

  1. Pola Membaca Cepat

Berikut ini ada beberapa pola membaca cepat. Menurut  Harjasujana (1988:76)  ada pola vertikal, pola diagonal, pola zig-zag, pola spiral, pola blok, dan pola horisontal.

POLA VERTIKAL

Gerakan meluncur vertikal ke bawah,  baik pada batas pandang di bagian tengah halaman, atau melewati batas pandang bagian kiri halaman. Bagian bacaan  yang ada di luar batas  pandang dapat dipahami dengan menggunakan  kemampuan mengira-ngira. Cara ini paling singkat  dan dapat dipermudah  dengan bantuan telunjuk  tangan kiri. Tangan kanan bersiap untuk membuka halaman baru.

POLA DIAGONAL

Gerakan diagonal  dimulai dari sudut kiri halaman, bergerak meluncur ke sudut kanan  bawah halaman  menurun seperti anak panah  pada gambar sebelah. Telunjuk tangan kiri dapat digunakan untuk membantu, tetapi jangan sampai menghalangi batas pandang.

POLA ZIG-ZAG

Pada pola ini  pandangan mulai  bergerak dari sudut kiri atas  halaman agak menurun sampai batas  sebelah kanan, kemudian bergerak  agak menurun ke kiri sampai batas  kiri. Gerakan seperti ini dilakukan berulang-ulang sampai sudut kiri atau sudut kanan bawah halaman.

POLA SPIRAL

Pada pola ini,  yang dibaca biasanya bagian tengah halaman. Untuk menjaga pengulangan  yang terlalu banyak, gerakan spiral ini bisa diubah sedikit menjadi gerakan angka tiga. Dengan menggunakan pola ini hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya lebih seimbang.

POLA HORISONTAL

……………………………….

Dengan menggunakan pola ini pembaca harus meluncurkan pandangannya dengan cepat sekali dari ujung kiri sampai ujung kanan setiap baris. Waktu pandangan bergerak dari kanan ke kiri, kecepatannya harus sekilat sebab pada saat itu tidak ada yang perlu diperhatikan, dan supaya hubungan baris yang satu dengan baris lainnya lebih erat.

PRAKTIK MEMBACA CEPAT

Dosen: Sujak, S.Pd., M.Pd

Sebelum  melakukan praktik membaca cepat, mahasiswa perlu tahu bagaimana cara menentukan kecepatan membaca cepat tersebut? Caranya menggunakan rumus berikut ini.

Jumlah kata yang dibaca

————————————- x 60 = jumlah kpm (kata per menit)

Jumlah detik untuk membaca

Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan  yang dibaca, hitung jumlah kata  dalam lima baris dahulu lalu bagi lima. Hasilnya merupakan jumlah rata-rata per baris dari bacaan itu. Lalu jumlah barus yang dibaca tersebut dan kalikan dengan jumlah rata-rata tadi, hasilnya merupakan jumlah kata yang dibaca.

Misalnya:

Jumlah kata per baris rata-rata            = 11

Jumlah baris yang Anda baca             = 60

Jumlah kata yang Anda baca              = 11 x 60 = 660 kata

Jika Anda membaca 2 menit dan 10 detik, atau total membaca 130 detik maka kecepatan Anda:

660 kata/130 detik x 60 = 342 kata per menit.

Contoh: Tes Membaca Cepat

Obat Batuk pun Bisa BerbahayaBatuk sebenarnya bukan penyakit, rifleks karena  mengalami rangsangan atau gangguan saluran pernafasan. Seseorang  bisa batuk karena  rangsangan udara yang berpolusi, asap pabrik, asap rokok, bau-bauan,gas yang merangsang atau kekurangan udara. Batuk juga bisa terjadi karena saluran pernafasan atau paru-paru  terkena infeksi kuman-kuman tertentu. Udara dingin atau lembab dapat juga membuat orang  batuk atau bersin.

Obat batuk yang dijual di pasaran  bebas umumnya  terdiri atas obat  atau campuran obat yang mengandung bahan yang dapat mengeluarkan lendir  atau riak  agar saluran pernafasan  bersih dari gangguan  atau rangsangan penyebab batuk itu. Obat batuk sejenis ini  disebut ekspektoran . Selain itu, ada juga obat  batuk  yang tidak dapat mengeluarkan lendir, tetapi dapat menekan saraf batuk.

Obat batuk ekspektoran biasanya mengandung  bahan obat seperti  succus liguiritae, salmiak, ammonium. Chloride, bromheksin, dan carbosistein atau derivatnya. Yang dimaksud derivat adalah guaiacol, seperti guaiphenesin, thiocol, dan opecac. Karena  khasiatnya yang dapat mengeluarkan lendir, obat golongan ekspektoran tidak dibenarkan untuk diberikan kepada anak-anak yang belum bisa  atau yang tidak bisa  mengelarkan dahaknya sendiri.  Juga orang lanjut usia  yang sudah lemah fisiknya karena dikhawatirkan  dapat menyumbat saluran pernafasan.

Obat batuk yang  berkhasiat menekan pusat saraf batuk, terdiri atas  obat golongan narkotik, seperti  cadein, doveri, codipront, destrometorphan, HBr, cloperastin,tipepidin, oksolamin, dibunate, dan obat narkotik lainnya. Jenis obat batuk ini mempunyai efek sampingan susah buang air besar. Obat batuk ini termasuk obat keras.  Dalam dosis tinggi, destrometorpham HBr dapat menekan saraf sentral sehingga  dapat menimbulkan depresi. Bahkan jika 10 s.d. 20 tablet ini dicampur  dengan alkohol, maka dapat membuat orang fly. Akibatnya obat ini sering disalahgunakan. Obat batuk jenis ini  merupakan senyawa bromide, zat yang dapat menenangkan pikiran. Oleh karena itu, jika digunakan dalam dosis tinggi dan  dalam waktu lama, pemakaiannya bisa menjadi pikun.

Obat yang dijual di pasaran  bebas mengandung bahan-bahan yang disebutkan di atas. Obat-obat tersebut aman, asal diminum sesuai dengan keterangan dokter atau aturan pakai yang tertulis dalam  kemasannya.

Dikutip dari Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 3

Kerjakanlah tugas berikut ini!

Pilihlah jawaban

A . bila pernyataan 1,2, dan 3  benar

B.  bila pernyataan 1 dan 3 benar

C . bila pernyataan 2, dan 4 benar

D . bila  hanya pernyataan 4 saja yang benar

1)       Batuk sebenarnya bukan penyakit malainkan…

(1)      hanya  rangsangan saluran pernafaan

(2)      karena polusi udara

(3)      disebabkan kekurangan udara

(4)      karena gangguan pencernakan

2)       Obat batuk yang dijual  di pasar bebas merupakan campran  obat yang mengandung…

(1)      bahan yang dapat mengeluarkan lendir

(2)      bahan narkotik yang berbahaya bagi pemakainya

(3)      bahan yang dapat melancarkan  seluran pernafasan

(4)      bahan yang memabukkan

3)       Obat batuk golongan ekspektoran tidak boleh diberikan anak-anak, karena…

(1)      mengandung narkotik

(2)      anak belum mampu mengeluarkan lendir sendiri

(3)      Anak tidak tahan terhadap obat itu

(4)      Akan menyumbat saluran pernafasan

4)       Obat batuk yang mengandung narkotik berkhasiat menekan pusat saraf batuk. Jenis obat ini  mempunyai efek samping…

(1)      membuat susah tidur

(2)      pusing dan muntah-muntah

(3)      menyebabkan kelumpuhan

(4)      susah buang air besar

5)       Ramuan obat yang mengandung narkotik aman bagi pemakaiannya, asalkan…

(1)      sesuai aturan dokter

(2)      tidak over dosis

(3)      menyelaraskan aturan yang tertera pada label

(4)      dicampur dengan alkohol

Pilihlah satu jawaban yang paling benar!

6)       Obat batuk yang mengandung narkotik mempunyai efek samping  yaitu susah buang air besar dan jika over dosis menyebabkan pikun. Anisipasi untuk hal tersebut adalah…

  1. tidak minum obat batuk
  2. pemakaian obat batuk harus sesuai aturan
  3. menggunakan obat yang dibuat sendiri
  4. menghindari sakit batuk

7)       Penyebab sakit batuk ada dua kemungkinan, yaitu gangguan saluran pernafasan atau paru-paru terkena infeksi. Hal yang perlu dilakukan  untuk menghindari hal tersebut adalah…

  1. mencegah terjadinya polusi udara
  2. menghindari hal-hal yang bisa  menyebabkan rangsangnan  udara penyebab batuk
  3. tidak banyak mengadakan  kegiatan di luar rumah
  4. menutup saluran pernafasan

8)       Setelah membaca bacaan di atas diharapkan dapat memperoleh petunjuk menemukan cara memilih obat batuk yang baik. Hal yang harus diperhatikan adalah…

  1. obat batuk golongan ekspektoran tidak baik diberikan  kepada anak-anak
  2. banyak mengandung  bahaya
  3. obat batuk dapat menyebabkan pikun
  4. pemakaian obat batuk harus dihindari

9)       Obat batuk yang berkhasiat  menekan pusat batuk terdiri atas  obat golongan narkotik. Ada sejumlah  bahaya  yang bisa mengancam pemakainya.

  1. Dalam dosis tinggi dapat mengganggu saraf sentral
  2. Bisa menyebabkan gila si pemakai
  3. Dapat menimbulkan kematian
  4. Menyebabkan pemakai muntah-muntah

10)    Dekstrometorpham dengan jumlah 10 –– 20 tablet dapat membuat orang fly. Seperti ini bisa terjadi bila…

  1. Diminum dengan dicampur alkohol
  2. dioplos dengan minuman lain
  3. dosisnya ditambah tinggi
  4. diminum  sebelum makan.

Kunci jawaban:

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jwb a b c d A b b a a a

Melatih Siswa Membaca Cepat

Kegiatan membaca dilakukan bersama-sama oleh mata dan otak. Mata bekerja seperti kamera, yaitu memotret. Hasilnya film negatif. Mata melihat dan otak menginterpretasikan saat itu juga sehingga “apa yang Anda lihat itulah yang Anda dapat”. Otak menyerap  apa yang dilihat mata. Oleh karena itu, melihat adalah mengerti.

Unsur utama membaca adalh otak, mata hanya alat mengantarkan  gambar ke otak lalu otak memberikan interpretasi terhadap apa yang dituju oleh mata itu.  Interpretasi itu tidak bergantung pada  ketajaman penglihatan, tetapi kejernihan dan kekayaan pengertian kita, pada persepsi kita.

Bukti bahwa dalam membaca fungsi otak lebih penting daripada mata dapat dilihat pada  orang yang mengalami luka hebat di otak, ternyata ia menjadi buta secara menyeluruh dan selamanya meski mata orang itu tetap berfungsi dengan sempurna.. Sebaliknya, orang yang buta masih bisa membaca, yaitu dengan meraba huruf-huruf braille karena arus informasi dari semua bagian  tubuh mengalir ke otak.

Dalam kegiatan membaca, persepsi dan interpretasi otak terhdap tulisan yang dilihat oleh mata dapat dilihat pada lamanya mata berfiksasi. Apabila persepsinya kuat (berkat informasi yang dimiliki), fiksasi berlangsung cepat, pembaca  tidak berhenti lama di satu fiksasi, tetapi segera melompat ke fiksasi berikutnya. Latihan berikut ini berguna untuk mempercepat fiksasi Anda dan mengurangi regresi atau pengulangan ke belakang.

Latihan Persepsi Kata

  1. Latihan Persepsi 1

Caranya sebagai berikut:

(a)    Lakukan secepat-cepatnya. Pandangan kata kunci di belakang nomor dalam sekejab, dan segera meluncur ke kanan, temukan kata yang sama. Jangan berlama-lama. Setelah ditemukan langsung coret.

(b)   Jika telah tiba pada kata  paling kanan dan ternyata Anda tidak berhasil menemukan jangan regresi, langsung pindah ke baris berikutnya.

(c)    Ingat jangan kembali ke belakang. Gerakkan mata secepat-cepatnya, jika ternyata Anda  keliru mencoret jangan mencoba memperbaiki, terus saja pindah ke baris berikutnya.

(d)   Targe Anda adalah dari  25 nomor harus betul 20 dalam tempo 30 detik

Temukan satu kata kembarannya:

1) gerhana geraham berhala, sahaja, gerhana, gerakan

2) lingkungan tikungan, lengkungan, cekungan, lingkungan.

……dst (sampai  25 soal) Anda buat sendiri seperi dua soal tersebut dan latihkanlah pada siswa Anda. Ingin garis bawahi kata yang sama maksimal 30 detik.

  1. Latihan Persepsi II

Kali ini pada setiap baris ada dua kata yang sama dengan kata kunci yang ada di belakang nomor. Lakukanlah dengan cara sebagai berikut:

(a)    Bidik kata kuncinya dengan cepat dan segera temukan )scen) dua kata kembarnya di kanan. Loangsung coret.

(b)   Sebelum menyelesaikan sampai 25 nomor jangan berhenti untuk mencocokkan. Teruskan sampai selesai.

(c)    Setelah selesai, hitung nilai Anda. Target Anda adalah 20 nomor benar dalam waktu 20 deetik

Contoh soal latihan:Temukan dua kata kembarannya:

1) mawar mapan   memar  mawar  nawar  mawar  rawan

2) bunga bumi  bunga  bangga  bunyi  bunga   bunda

…dst sampai 25 soal.

  1. Latihan Persepsi III

Latihan persepsi berikut mungkin agak sulit, memakai kata-kata bahasa Inggris. Caranya tetap sama.

(a)    Kaitkan secara visual. Jangan dilavalkan, pandang sekejab kata kuncinya, lalu meluncur ke kanan dan coret yang sama.

(b)   Segeralah ke baris berikutnya. Bidiklah kamera mata Anda sekejab. Jangan berusaha mengetahui artinya.

(c)    Jika Anda tidak berhasil mencari kembarannya, jangan kembali ke belakang. Teruskan ke baris  berikutnya. Target Anda 20 benar dalam 20 detik.

Contoh soal latihan

Tentukan satu soal kembarnya:

1) foreigt forever   oreigt  foreigner  gather  family

2) actually naturally  actual  actuallyaapartial

…dst. sampai 25 soal.

Latihan Persepsi Frase

  1. Latihan Persepsi Frase I

Latihan berikutnya mengenali frase dengan cepat.  Bacalah ke bawah dan setiap kali Anda menemukan frase ke sanak ki coret dengan pensil Anda. Lakukan secepat-cepatnya. Usahakan dengan tempo kurang dari 30 detik.

(a)    ingat: lakukan dengan cepat sekali

(b)   Gerakkan mata ke baah

Frase kunci: ki sanak ki

mau ke mana

katakan saja

dua dan tiga

ki sanak ki

…dst. sampai  25 frase

  1. Latihan Persepsi Frase II

Latihan berikut masih sama dengan yang baru lalu. Temukan frase yang sama, dan coret frase itu. Lakukan secepat-cepatnya, kurang dari 20 detik.

Frase kunci: dia di danau

Di di danau

Tahu dan empe

Tahu sama tahu

Di ke dari

Dia di danau

…dst. sampai 25 frase

  1. Latihan Persepsi Frase III

Lakukan dengan cara yang sama

Frase kunci : Suka sama suka

Saya sama dia

Indra mahendra

Inilah air mata

Mata sapi bulat

Suka sama suka

…dst. sampai 25 frase

  1. Latihan Persepsi Frase IV

Berikut ini latihan persepsi yang terakhir. Lakukan dengan cara yang sama. Jangan berusaha kembali ke atas. Lakukan kurang dari 20 detik

Frase kunci: mana di mana

Apa yang jadi

Lampunya ada dua

Murah tapi kuat

Merah tapi kelam

Mana di mana

…dst. sampai 25 frase

Gerak Mata dalam Membaca

Gerakan mata sangat bergantung pada jarak benda yang dilihat. Apabila kita melihat jauh mengikuti benda yang bergerak di lapangan pandang yang luas, mata bergerak halus dan rata seperti yang kita rasakan. Akan tetapi,  apabila kita melihat benda-benda di jarak yang dekat seperti kalau kita melihat gambar atau membaca- gerakan mata cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil, seperti melompat-lompat

Setiap kita melihat suatu benda termasuk membaca, mata kita  tidak mengambang liar, juga tidak mengalir seperti yang kita rasakan, tetapi berhenti mengarah ke suatu sasaran (kata) sementar lalu melompat ke sasaran berikutnya (melompat berhenti, melompat berhenti).  Pemberhentian ini disebut fiksasi.

Pembaca yang tidak efisien  dalam satu fiksasi hanya dapat satu atau dua kata yang diserap. Pembaca yang efisien dapat menyerap tiga atau empat kata. Kesulitan fiksasi bukan karena kesulitan  fisik, melainkan karena kesulitan mental. Bukan karena otot mata, melainkan karena ketidakmampuan dari pikiran menyerap dengan cepat dan tanpa salah informasi berikutnya.

Untuk mendapatkan kecepatan  dan efisiensi membaca dapat diusahakan hal berikut:

1)      Melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata yaitu satu fiksasi meliputi 2 atau 3 kata.

2)      Membaca satu fiksasi untuk suatu unit pengertian, cara ini lebih mudah diserap otak.

Contoh:

Saya suka baju lengan panjang

*                        *

Saya suka baju lengan panjang

*         *        *          *

3)      Selalu membaca untuk mendapatkan isinya, artinya bukan untuk menghafal kata-katanya.

4)      Mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama berhenti dalam satu fiksasi Percepat gerak mata dari fiksasi ke fiksasi berikutnya. Semakin sedikit waktu unntk berhenti semakin baik.

Latihan Melebarkan Jangkauan Mata I

Fokuskan pandangan ke angka di barisan tengah dan coalah membaca tiga angka sekaligus (termasuk di kiri dan kanannya). Misalnya, untuk barisan petama baca dalam batin, “seratus lima jangan satu nol 5

Misalnya:

12

3

2

3

…Dst. Sebanyak mungkin.

05

6

3

8

56

7

2

3

Latihan Melebarkan Jangkauan Mata II

Latihan berikutnya terdiri dari tiga kata yang erat berkaitan dan besar kemungkinan Anda sudah akrab dengan frase atau ungkapan itu. Perhatikan kata di tengah dan sekaligus usahakan menjangkau kata di kiri dan kanannya. Bacalah sekaligus sebagai satu frase, jangan secara terpisah-terpisah. Jadi baris pertama mesti Anda baca sebagai berikut : rumah sakit mata.

Perhatikan: Tetaplah perhatian di tengah, dan bergeraklah ke bawah, ke baris-baris berikutnya, usahakan kepala tidak ikut bergerak.

RUMAHIBU

RUMAH

…dst. sebanyak mungkin

SAKITKITA

SAKIT

MATAKARTINI

MUHAMMADIYAH

Latihan Melebarkan Jangkuan Mata III

Lakukan latihan III ini dengan membaca  bilangan yang ada  dari kiri 1  sampai yang terakhir. Latakkan buku di hadapan Anda, dan usahakan hanya biji mata saja yang bergerak. Bacalah dengan menggerakkan mata secara cepat. Lakukanlah setiap hari beberapa kali selam dua minggu

Misalnya

MEMBACA SKIMMING DAN SCANNING

DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Dosen: Sujak, S.Pd., M.Pd

Anda sebagai mahasiswa dan seorang intlektual tentu saja banyak membaca referensi. Referensi yang kita baca tersebut sebagai rujukan dalam memaparkan atau menjelaskan sesuatu. Membaca referensi seperti itu, tentu tidak semua kata dibaca, bahkan kita sering mencari bagian-bagian yang kita inginnkan saja. Siswa pun juga demikian jika sudah didesak suatu kebutuhan. Misalnya waktunya tinggal sebentar (mepet).

Jika terjadi seperti itu, kita sudah mnerapkan membaca skimming dan scenning. Menurut Soedarso (2006:84) jurus  membaca-yang sangat ampuh untuk mengatur kecepatan kita dalam membaca  dan sangat efektif memberikan hasil- seperti itu ada dua, yaitu: skimming dan scenning.

  1. Bagian  Mata yang Dapat Dilompati dalam Membaca Skimming dan Scenning

Jika Anda tidak membutuhkan fakta-fakta dan detailnya, maka lompati fakta  dan detail itu dan pusatkan perhatian untuk cepat menguasai  ide pokoknya. Cara membaca  yang hanya untuk mendapatkan  ide pokokknya ini disebut skimming.

Sebaliknya jika Anda hanya memutuhkan  suatu fakta tertentu saja,  atau informasi  tertentu saja, atau data statistik tertentu saja, misalnya,  Anda perlu melompati lainnya dan langsung mencari ke hal tertentu  itu saja. Teknik melompat (skipping) untuk langsung ke sasaran yang kita cari itu disebut scanning.

Beberapa bagian yang dapat dilompati dapat diuraikan berikut ini.

  1. Anda dapat melompati definisi, batasan tertentu atau keterangan dan detail yang telah  Anda ketahui dari buku lain dan Anda telah cukup menguasainya.  Akan tetapi jangan melompati keseluruhan bab itu, barangkali ada gagasan baru.
  2. Anda dapat melompati bagian-bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan  Anda membaca.
  3. Adakalanya penulis dalam membuat  analisis permasalahan mengawalinya dengan  beberapa contoh. Jika Anda telah membaca  dua atau tiga contoh dan Anda sudah merasa cukup menangkap idenya, maka Anda dapatmelompati contoh-contoh lainnya.
  4. Ada juga penulis dalam mengawali bab baru menyajikan ringkasan bab sebelumnya. Jika Anda baru saja beb sebelumnya itu dan Anda merasa cukup menguasainya, ringkasan itu dapat Anda lompati.

Skimming dan scenning berguna untuk mengetahui suatu topik dengan menggunakan anyak buku. Mempelajari sesuatu dengan cara skimming dan scenning banyak buku lebih baik daripada membaca  secara mendalam satu atau dua buku saja. Dengan banyak sumber, pengetahuan kita tentang topik itu menjadi lebih luas. Akan tetapi, tidak boleh dipungkiri  bahwa memang adakalanya  mendalami suatu buku itu perlu, misalnya sebagai peletak dasar membangun suatu pengertian yang kemudian  akan kita kembangkan dengan sumber lain.

  1. Gerakan Mata dalam Skimming dan Scenning

Dalam skimming dan scenning tidak ada pola khusus untuk gerakan mata yang terbaik. Akan tetapi, ada cara sesuai dengan tujuanAnda dalam membaca. Untuk skimming yang bertujuan  mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya,  gerakan mata hampir seperti jika membaca lengkap, kecuali jika Anda  harus melompati bagian-bagian tertentu.  Salah satu pola yang efektif adalah menelusuri awal paragraf yang memuat ide pokok. Lalu cepat bergerak  ke bagian lain paragraf itu dan berhenti di sana-sini, jika menemukan detil pentingnya, kemudian bergerak cepat lagi.

Gerakan mata scenning tidak terlalu berbeda  dengan skemming untuk mengetahui tempat informasi tertentu, bantuan yang baik adalah judul-judul bab dan subjudulnya, lalu jika yang dicari itu suatu angka, maka gerakkan mata dengan cept dan berhentilah pada setiap angka  yang kiranya mirip, jika ternyata bukan jangan ditunda lagi teruskan bergerak ke bawah.

Contoh  Gerakan Mata dalam Skimming

Yang membedakan pelbagai aliran anarkhisme satu dari yang lain adalah dasar kepercayaan itu. Anarkhisme relegius percaya bahwa asal saja manusia beragama ia tidak akan menyeleweng dan oleh karena itu tidak diperlukan suatu lembaga pemeriksa. Ada yang percaya bahwa negara merupakan alat dari kekuatan-kekuatan setani dan segelapan yang menentang kerajaan cahaya yang bersifat rohani. Begitulah anarkhisme dualistik misalnya dalam manikeisme yang dipengarui oleh aliran Zoroaster di Persia 2500 tahun yang lalu. Dalam lingkungan agama Kristiani  kadang-kadang muncul gerakan-gerakan Kiliasik (dari kata Yunani khiloi, seribu) yang mengharapkan suatu kerajaan langsung oleh Yesus Kristus selam seribu tahun. Ada yang mengharapkan kerajaan Roh Kudus langsung dalam hati manusia dan atas namaitu menentang negara. Dalam agama islam beberapa aliran shia dan mahdisme menentang negara sebagai  sesuatu yang secara  hakiki sekuler dan oleh karena itu, berlawanan dengan sikap takwa yang sebenarnya. Harapan-harapan akan kedatangan ratu adil di Jawa juga menjukkan tendensi-tendensi serupa.

Banyak yang mengartikan skimming sebagai sekedar menyapu halaman, sedangkan pengertian  yang sebenarnya adalah suatu keterampilan  membaca yang diatur  secara sistematis untuk mendapatkan hasil yang efisien, untuk berbagai tujuan, seperti hal berikut ini:

  1. Untuk mengenali topik bacaan. Apabila Anda pergi ke toko uku atau perpustakaan dan ingin mengetahui pembahasan apa dalam buku yang Anda pilih itu Anda melakukan skimming beberapa menit.
  2. Untuk mengetahui pendapat orang (opini). Di sini Anda sudah mengetahui topik yang dibahas, yang Anda butuhkan adalah pendapat penulis itu terhadap masalah tersebut. Misalnya tajuk surat kabar.
  3. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita perlukan tanpa membaca seluruhnya
  4. Untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok. Skimming berguna untuk  survei buku sebelum dibaca, seperti pada SQ3R.
  5. Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca, misalnya dalam mempersiapkan ujian atau sebelum menyampaikan ceramah. Skimming ini juga disebut sebagai review.

Scenning: Cepat Menemukan Informasi

Scenning adalah suatu teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain-lain.; jadi, langsung ke masalah yang dicari yaitu:

(a)    fakta khusus

(b)   informasi tertentu

Usaha untuk menemukan yang dicari itu, harus cepat dilakukan dan akurat (100 % benar). Dalam sehari-hari scanning digunakan, antara lain untuk:

(1)    mencari nomor telepon

(2)    mencari kata pada kamus

(3)    mencari entri pada indeks

(4)    mencari angka-angka statistik

(5)    melihat siaran TV, dan

(6)    melihat daftar perjalanan

Scanning Prosa

Scenning prosa maksudnya adalah mencari topik tertentu dalam suatu bacaan, yaitu dengan mencari letak di bagian mana dari tulisan itu yang memuat informasi yang dibutuhkan. Caranya sebagai berikut.

(1)    Anda mesti mengetahui kata-kata kunci yang menjadi petunjuk. Misalnya untuk mengetahui suatu penduduk daerah tertentu dengan kata-kata kunci: sensus, demografi, kependudukan, pemukiman.

(2)    Kenali oraganisasi tulisan dan struktur tulisan, untuk memperkirakan letak jawaban. Lihat juga gambar, grafik, ilustrasi, tabel

(3)    Gerakan mata secara sistematik dan cepat: (a) seperti anak panah, langsung ke tengah meluncur ke bawag, (b) dengan cara S atau zig=zag

(4)    Setelah menemukan tempatnya, lambatkan kecepatan membaca untuk  meyakinkan kebenaran apa yang Anda cari.

Scanning Informasi

Untuk menulis suatu masalah yang akan menjadi suatu artikel yang utuh, atau suatu bagian dari buku, seorang penulis tidak dapat hanya mendasarkan diri pada  satu sumber. Dengan hanya satu sumber, ia akan kekurangan bahan, atau pembahasannya kurang luas.

Untuk  mengumpulkan  bahan-bahan mengenai topik-topik tertentu, seorang penulis tidak  perlu membaca seluruh bagian buku, tetapi cukup dengan scenning-menemukannya  melalui daftar isi dan indeks, serta alat-alat visual, seperti grafik. Dalam satu buku, topik yang dicaridapat tersebar di berbagai bab. Lokasi atau letak topik tertentu harus cepat ditemukan dengan mengantisipasi beberapa kemungkinan. Pencarian itu harus cepat sekali dilakukan sehingga kita dapat beralih  dari satu buku ke buku-buku lain.

Scanning Kata di kamus

Scanning Nomor Telepo

Scanning Acara televisi

Daftar Rujuan

Eanes, Robin. 1977. Conten Area Literacy: Taeching  for Today and Tomorrow. Wishington: Delmar Publishers ITP An International Thomson Publishing Company.

Sujak. 2002. Peningkatan Kemampuan Membaca Kritis dengan Strategi SQ3R dalam Pembelajaran Membaca di Kelas III SLTP Negeri 2 Ngimbang-Lamongan. Tesis. UM

Harjasujana, A.S. 1988. Metode SQ3R.Karunika Jaya: Jakarta

Soedarso. 2006. Speed Reading. Sistem mambaca cepat dan Efektif. Gramedia: Jakarta.

——sjk—-

METODE SQ3R

Dosen Mata Kuliah : Sujak, S.Pd., M.Pd

Jika Anda membaca suatu buku, tentu Anda mempunyai tujuan tertentu sebelum Anda  melakukannya. Tujuan itu bermacam-macam, bukan? Tergantung pada keperluannya masing-masing. Kegiatan membaca itu kadang-kadang  hanya untuk mencari hiburan, sebagai pengisi waktu senggang saja, atau  mungkin hanya sekedar untuk mencari informasi tertentu, dan mungkin pula untuk keperluan studi.

Pada bagian ini akan dibicarakan khusus hal-hal yang ada kaitannya dengan keggiatan membaca untuk  keperluan studi. Tujuan membaca di sini  bukan hanya sekedar  menemukan informasi tertentu, melainkan lebih jauh sampai pada pemahaman  isi secara  keseluruhan secara komprehensif (mendalam dan padat).

Spache dalam Harjasujana (1988:6.2) mengemukakan enam keterampilan dasar yang penting dalam keberhasilan membaca suatu buku.

1)      Kemampuan mensurvei bahan, untuk menentukan (a) hal-hal yang bersifat umum, (b)  ide pokok, (c) pendekatan membaca yang tepat, (d) tujuan membaca.

2)      Kemampuan untuk menghubung-hubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan mensurvei untuk memilih teknik membaca yang tepat.

3)      Fleksibilitas kecepatan rata-rata membaca yang bervariasi sesuai dengan teknik membaca skimming, scenning membaca cepat, dan tipe-tipe membaca untuk keperluan studi.

4)      Kemampuan memahami grafik dan gambar-gambar ilustrasi secara efektif.

5)      Keterampilan menggunakan perpustakaan dan referensi dasar yang khas di lapangan.

6)      Keterampilan rata-rata kemampuan secara umum seperti dalam hal pemahaman kosakata.

Adapun davis dalam Harjasujana (1988:6.1)  menyarankan para guru  untuk membantu siswa dalam kegiatan membaca agar mereka  sukses  dalam bidang  akademis  dan kehidupan pribadinya. Saran-saran tersebut meliputi:

1)      Berilah perhatian terhadap siswa suatu kesiapan untuk membaca materi/bahan yang berguna.

2)      Berikan perhatian terhadap kesanggupan  membaca buku teks yang berguna dan kesipan membaca materi bacaan berdasarkan subjek tertentu.

3)      Tunjukkan kepada siswa  bagaimana cara  memperkirakan materi bacaan.

4)      Bantulah siswa dalam melakukan  variasi-variasi  teknik membaca yang penting untuk memantapkan materi  dan tujuan.

5)      Bantulah siswa pada bagian-bagian  materi yang tersedia  berdasarkan  subjek bacaan.

6)      Bantulah siswa untuk memperbaiki pengetahuan mereka  dari  daftar kosakata subjek.

Adapun Salah satu metode yang bisa digunakan membekali Anda sebagai guru adalah metode SQ3R. Metode ini dapat Anda bimbingkan kepada para siswa mulai tingka Sekolah Dasar sammpai Perguruan tinggi. Pada kelas IV, V, VI perlu sekali latihan membaca dengan metode SQ3R ini.

Pengertian

Metode belajar SQ3R,  telah dirancang sesuai jenjang yang memberi kemungkinan  kepada siswa  untuk belajar secara sistematis, efektif, dan efisien dalam menghadapi berbagai  bahan bacaan, khususnya buku teks. Dengan demikian penggunaan metode ini lebih tepat untuk keperluan studi.

SQ3R adalah suatu metode studi  yang mencakup lima tahap kegiatan membaca, yakni: survei, question, read, recite, dan review. Atau dapat kita artikan  sebagai tahap-tahap  mensurvei/meneliti, mengajukan pertanyaan, membaca, menceritakan kembali, dan meninjau ulang.

Tujuan

Metode SQ3R bertujuan untuk:

(1)     Membekali siswa/mahasiswa dengan suatu pendekatan yang sitematis terhadap jenis-jenis membaca; dan

(2)     Meningkatkan proses belajar mengajar secara lebih mantap dan efisien

Manfaat

Metode SQ3R memberi kemungkinan kepada pembacanya untuk menentukan apakah materi yang dihadapinya itu sesuai dengan keperluannya atau tidak. Jika memang bahan itu diperlukannya, tentu pembaca akan meneruskan kegiatan bacanya, jika tidak, tentu dia  akan mencari bahan lain yang sesuai dengan kebutuhannya.

Metode SQ3R  memberi kesempatan kepada pembaca  untuk bersifat fleksibel. Pengaturan kecepatan membaca untuk setiap bagian bahan bacaan, tidaklah sama. Pembaca akan memperlambat tempo kecepatan membaca untuk hal-hal yang perlu baginya, atau bagian-bagian  tertentu yang sangat dibutuhkannya. Sebaliknya dia akan menaikkan tempo kecepatan bacanya, jika bagian-bagian bacaan itu kurang relevan dengan kebutuhannya atau hal-hal yang sudah dikenalinya.

Deskripsi, Prosedur SQ3R

Metode SQ3R yakni suatu metode studi yang meliputi tiga tahap kegiatan membaca yang terdiri dari: (1) survey (meneliti), (2) question (mengajukan pertanyaan), (3) read (membaca, (4) recite ( menceritakan kembali, (5) review (mengulang kembali).

S =Survey, artinya meninjau, meneliti, menjajaki, yakni membaca bagian-bagian permulaan buku, seperti: halaman judul, kata pengantar, daftar isi, judul dan sub-sub judul, dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut  dibaca dengan teknik baca lenyap/skimming, yaitu membaca dengan cepat untuk mengetahui gambaran isi buku atau bagian buku secara umum. Dengan demikian, dalam waktu  yang relatif singkat, pembaca akan segera dapat menetahui apakah buku itu sesuai dengan tujuan.

Q = Question (pertanyaan). Sebelum memulai kegiatan membaca, hendaknya pembaca membuat rumusan-rumusan pertanyaan sebgai informasi fokus. Rumusan-rumusan pertanyaan hendaknya merentang dari pertanyaan ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, sampai ada evaluasi. Agar memudahkan  Anda catatlah setiap butir pertanyaan tersebut supaya tidak lupa. Berdasarkan pengalaman, membaca untuk  menjawab pertanyaan-pertanyaan biasanya dilakukan lebih sungguh-sungguh dan saksama.

R1 = Reading (membaca). Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang telah dirumuskan pada tahap 2, selanjutnya mulailah dengan kegiatan membaca. Anda tidak perlu membaca dengan kecepatan yang sama. Anda dapat menilai, apakah bacaan itu perlu dibaca seluruhnya atau tidak, sambil membaca. Kadang-kadang untuk seksi tertentu, Anda cukup membaca kalimat-kalimat topiknya saja,  biasanya terdapat pada awal atau akhir paragraf. Untuk bagian-bagian tertentu yang Anda anggap relevan dengantujuan Anda dan atau bagian-bagian yang baru dikenali, bacalah seluruhnya dengan pengaturan kecepatan baca yang tidak terlalu tinggi. Di samping itu, daya pikir dan daya nalar Anda harus dilibatkan di dalmnya.

R2 =Recite (menceritakan kembali). Setelah Anda merasa yakin bahwa sejumlah pertanyaan yanG Anda rumuskan sebelum membaca telah terpenuhi, cobalah berhenti sejenak. Renungkan kembali setiap pertanyaan dan setiap jawaban  yang telah Anda peroleh, tulislah kembali dalam  buku catatan Anda. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan  dalam membuat catatan  pribadi itu adalah: (1) buatlah dengan menggunakan kata-kata sendiri, (2) catatan singkat, padat, dan jelas, serta mencakup hal-hal penting, (c) lakukan kegiatan inti secara mandiri tidak berbarengan (misalnya mencatat sambil membaca); ketika membaca lakukan membaca, ketika menulis lakukanlah menulis.

R3=Review (meninjau kembali). Pada akhir setiap bab yang dibaca, bab sebelumnya perlu ditinjau kembali dan dihubungkan dengan  rumusan isi bab yang baru diselesaikan. Lakukan kegiatan seperti itu, sampai seluruh bagian buku  dapat diselesaikan. Yang Anda lakukan pada kegiatan ini bukan kegiatan membaca ulang.  Anda cukup melihat  judul-judul dan subjudulnya, gambar-gambar, diagram grafik dan meninjau kembali pertanyaan, dan lain-lain.

Model  Proses Pembelajaran Membaca dengan Metode SQ3R

Langkah 1:

Masing-masing siswa diberi sebuah buku teks (bidang studi yang digunakan tergantung pada pilihan Anda). Suruhlah mereka membuka  bab tertentu untuk melihat-lihat secara sekilas. Untuk mengarahkan  kegiatan siswa, tunjukkan  bagian-bagian bacaan yang harus mereka perhatikan. Kalimat seperti: “Anak-anak, coba perhatikan judul-judul bab dan subjudul bab!” Untuk mengecek kegiatan siswa, tanyakan 2 atau 3 orang siswa mengenali judul yang dibacanya. Misalnya “Siti, coba sebutkan judul yang peryama!”, kemudian: “Subjudulnya apa, Min?” dan seterusnya. Anda dapat menyuruh 1 – 2 orang siswa untuk membaca satu, dua paragraf pertama, dan paragraf terakhir atau bagian akhir dari bab tersebut.

Langkah 2

Tanyakan kepada siswa, apa yang ada  dalam benaknya ketika membaca judul bab tersebut. Demikian pula  dengan sub-sub judul, diagram peta, dan sebaginya. Jika mereka tak dapat mengemukakan pendapatnya/pikirannya, bimbinglah dengan pertanyaan-pertanyaan guru. Misalnya: “Mat, apa yang dimaksud dengan diagram itu?” “Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif itu, Dul?” atau mengertikah kamu  maksud grafik tersebut?”  Kepada siswa yang tidak bisa menjawab  atau menunjukan ketidaktahuan, guru dapat menanamkan pengertian, betapa sedikit/kurangnya pengetahuan siswa terhadap topik tersebut. Satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut yakni dengan cara membacanya. Kepada siswa yang mampu membuat praduga, harap diberitahukan bahwa praduganya tersebut belum tentu benar.

Langkah 3

Dengan pengalaman tati, suruhlah siswa untuk meneruskan pertanyaan-pertanyaan sebanyak mungkin terhadap bagian-bagian yang telah dikemukakan pada langkah 1 dan langkah 2 di atas. Berilah waktu beberapa menit untuk kegiatan itu. Sementara murid merumuskan pertanyan dalam buku catatannya, guru  berkeliling untuk memeriksa/memantau kegiatan siswa.

Langkah 3

Setelah langkah 3  dianggap selesai, suruhlah 6 – 7 orang siswa untuk menuliskan pertanyaannya di papan tulis. Setiap orang cukup dengan menulislan satu pertanyaan.

Langkah 3

Kegiatan selanjutnya, berilah siswa kesempatan untuk membaca senyap. Untuk pertama kali, siswa hanya diminta membaca 4 – 5 paragraf saja atau mungkin 1 – 2 bagian bacaan subjudul bab. Kemudian, hentikan dulu bagian ini untuk sementara.

Langkah 6

Anda dapat melihat daftar pertanyaan yang dituliskan siswa Anda  di papan tulis. Pertanyaan manakah yang kira-kira berkisar pada bagian  bacaan yang yang telah dibaca siswa. Suruhlah siswa itu ke depan untuk mengemukakan  jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya tadi. Anda dapat menilai siswa mana yang perlu mendapat pertolongan dan siswa mana  yang boleh meneruskan kegiatan bacanya secara mandiri. Lakukan kegiatan 5 dan 6 ini secara bergantian sampai bab tersebut dapat dibacanya seluruhnya.

Langkah 7

Beri siswa kesempatan membaca ulang tanpa diselingi dengan kegiatan tanya jawab. Seluruh bahan bacaan yang terdapat dalam bab tersebut. Setelah dianggap tuntas, suruhlah mereka menutup bukunya. Kemudian menjawab rumusan-rumusan pertanyaan yang ditulis pada buku catatannya. (ingat langkah 3)

Langkah 8

Setelah kegiatan pada langkah 7 selesai, guru membuat bagan garis besar bab  bab di papan tulis berdasarkan judul-judul dan sub-sub judul bab. Apakah bab tersebut memuat diagram,  grafik, peta, atau gambar-gambar, urutkanlah di papan tulis sesuai  dengan urutan penyajiannya di dalam bab tersebut.

Langkah 9

Suruhlah beberapa siswa  untuk menceritakan garis besar isi bacaan demi bagian dengan urutan bagan yang telah dibuat guru. Satu orang, satu topik, satu orang satu diagram, dan seterusnya. Setelah bagian demi bagian diutarakan siswa, maka sebelum pelajaran berakhir suruhlah 1 – 2 orang siswa menceritakan garis besar isi bab secara keseluruhan.

Bab 10

Guru mengajukan beberapa pertanyaan isi bacaan sebagai pekerjaan rumah. Hal ini dimaksudkan sebagai bahan latihan untuk  pemantapan pemahaman siswa Anda. Dan berakhirlah kegiatan belajar kita

Daftar  Rujukan:

Eanes, Robin. 1977. Conten Area Literacy: Taeching  for Today and Tomorrow. Wishington: Delmar Publishers ITP An International Thomson Publishing Company.

Sujak. 2002. Peningkatan Kemampuan Membaca Kritis dengan Strategi SQ3R dalam Pembelajaran Membaca di Kelas III SLTP Negeri 2 Ngimbang-Lamongan. Tesis. UM

Harjasujana, A.S. 1988. Metode SQ3R.Karunika Jaya: Jakarta

Soedarso. 2006. Speed Reading. Sistem mambaca cepat dan Efektif. Gramedia: Jakarta.

—-sjk—

TEKNIK ECOLA

Dosen Mata Kuliah : Sujak, S.Pd., M.Pd

ECOLA  (Extending Concept through Language Activities) yang dikembangkan oleh Smith-Burke (1982), mengungkapkan usaha untuk mengintegrasikan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk tujuan  pengembangan kemmapuan membaca. Kemampuan tersebut bermanfaat untuk memaknai dan mengawasi pemahaman mahasiswa.

Sebagaimana dikemukakan oleh Smith-Burke (melalui Tierney, 1990:154), ICOLA difokuskan pada “kegiatan para siswa sampai mahasiswa  membangun untuk memastikan bahwa interpretasi mereka tepat”kemampuan alamiah membaca dan kebutuhan memonitor  untuk memastikan bahwa interpretasi mereka tepat”. Untuk tujuan itu, kerangka pembelajaran ICOLA yang terpenting terletak pada pengalaman-pengalaman belajar berikut ini.

(1)   Membaca dengan tujuan tertentu. Tujuan membaca teks dikembangkan berdasarkan pada maksud penulis dan beberapa alasan kenapa pendidik memilih bacaan. Namun demikian, tujuan-tujuan membaca tetap ditentukan oleh mahasiswa.

(2)   Tanggapan tertulis. Siswa atau mahasiswa diharapkan melakukan interpretasi sendiri yang dituangkan  dalam aktivitas menulis. Hasil interpretasi tersebut dapat ditinjau ulang setelah mereka melakukan berdiskusi.

(3)   Diskusi. Diskusi dipandang sebagai dasar untuk membangkitkan  gagasan-gagasan, menguji tujuan, mengevaluasi, pemaknaan, dan mempertimbangkan efektivitas  strategi yang digunakan dalam membaca.

(4)   Self monitoring. Para siswa atau mahasiswa didorong untuk mengungkapkan kebingungan  mereka, melakukan interpretasi secara mandiri,  dan melakukan diskusi tentang strategi untuk memahami bacaan secara baik.

Langkah-Langkah Penerapan ICOLA

Menurut  Darmiyati Zuchdi (2007: 161) ICOLA dibangun melalui lima tahap yaitu: (1)  menentukan tujuan yang komunikatif untuk membaca, (2) membaca dalam hati untuk sebuah tujuan dan standar tugas, (3) mewujudkan pemahaman melalui aktivitas menulis, (4)  melaksanakan diskusi dan klarifikasi atas pemaknaan, dan (5) menulis dan membandinkan. Tahapan-tahapan ICOLa tersebut dapat dijelaskan berikut ini.

  1. 1. Menentukan Tujuan yang komunikatif

Pendidik dapat mendorong siswa atau mahasiswa agar melakukan diskusi di dalam kelas untuk menentukan tujuan membaca mereka. Para siswa atau mahasiswalah yang menentukan sendiri tujuan mereka  dalam membaca. Penentuan membaca dalam membaca dapat didasarkan pada  pertimbangan tujuan penulis. Namun, siswa atau mahasiswa  dapat menentukan tujuan mereka dengan mempertimbangkan alasan pendidik ketika memberikan bacan.

Dalam pembelajaran di SD, peranan guru sangat penting untuk mengarahkan tujuan siswa dalam membaca. Hal ini harus dilakukan oleh guru karena dalam belajar di kelas harus berkaitan dengan SK dan KD standar isi.

  1. 2. Membaca dalam Hati

Para siswa atau mahasiswa diingatkan dengan tujuan mereka membaca sehingga memunculkan kesadaran bahwa mereka  harus dapat mendukung interpretasi mereka dengan ide-ide dari bacaan,  yang didasarkan latar belakang pengetahuan atau alasan-alasan mereka.  Smith-Bureke (melalui Tierny, 1990: 155) dalam Darmiyai Zuhdi  (2007:162)  menyarankan bahwa  hal itu layak dilakukan untuk mahasiswa yang berbeda dengan tujuan  yang berbeda pula ketika membaca. Dalam itu juga layak dilakukan oleh para siswa dalam membaca di kelas karena teknik bisa mengembangkan kemampuan membaca secara individual.

  1. 3. Mewujudkan Pemahaman Melalui Aktivitas Menulis

Tujuan dari tahap ini adalah mengembangkan kemampuan siswa atau mahasiswa untuk melakukan  pemantauan diri dan mulai belajar untuk  mengungkapkan apa  yang tidak mereka mengerti. Selama melakukan tahap ini, setiap siswa atau mahasiswa dan pendidik  menuliskan tanggapan atas seluruh pertanyaan dan tujuan membaca. Dalam menuliskan tanggapan, para siswa atau mahasiswa  dapat menjamin bahwa jawaban mereka akan dijamin kerahasiannya. Mereka didorong untuk  menginterpretasikan  dan menulis tentang segala yang membingungkan. Untuk mengklarifikasi masalah-masalah yang ditemui tersebut,  para siswa atau mahasiswa didorong untuk bertanya  lepada siswa atau mahasiswa lainnya. Hal ini merupakan tanggung  jawab dari  yang lain untuk menjelaskan  bagaimana mereka  menghadapi masalah yang sama.

  1. 4. Diskusi

Para siswa atau mahasiswa diorganisasikan ke dalam kelompok yang tidak lebih dari empat orang dan diberi batas  waktu. Mereka diharapkan mendiskusikan  hasil interpretasi mereka, membandingkan tanggapan, dan merubah kesimpulan  mereka. Setiap siswa dan mahasiswa diharapkan melakukan tukar gagasan dan menerangkan dasar kesimpulan mereka.

  1. 5. Menulis dan membandingkan

Tahap terakhir yang harus ditempuh oleh siswa atau mahasiswa, baik dalam kelompok kecil maupun secara individual, adalah memunculkan interpretasi yang lain. Jika hal tersebut dilakukan dalam kelompok, maka konsensus  yang terjadi harus diperkaya dengan diskusi dan kesepakatan. Setelah meninjau hasil  interpretasi yang telah dilengkapi, para siswa atau mahasiswa didorong untuk  mendiskusikan perubahan (interpretasi)  yang telah dibuat untuk mengungkapkan strategi yang mereka temukan.

Teknik ECOLA (Extending Concept though  Language Activities) dapat meningkatkan komprehensi membaca. Hal ini terjadi karena  teknik ini memuat proses  monitoring  terhadap hasil interpretasi. Selain itu, teknik ECOLA  mendorong siswa atau mahasiswa untuk selalu mendiskusikan strategi yang efektif untuk memperoleh pemahaman yang baik. Proses diskusi yang dilakukan  dalam teknik ini membangun   kemampuan siswa atau mahasiswa  untuk bekerja sama dalam tim. Kerja sama yang terjalin merupakan langkah strategis untuk memperoleh pemahman yang lebih baik dalam membaca.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakuan oleh Darmiyati Zuchdi dkk. (2007:164), yang berjudul “Peningkatan  Efektivitas Membaca Mahasiswa dengan Teknik ECOLA dapat disimpulkan  bahwa penggunaan teknik ECOLA dapat meningkatkan komprehensi membaca para mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya  peningkatan  skor komprehensi  membaca tersebut diperoleh dari perbedaan  skor rerata pre-test dengan skor rerata pst-test. Peningkatan skor rerata pada saat post test secara kesluruhan 2, 1875).

Berdasarkan frekuensi, hasil tes akhir  siklus menunjukkan  tidak ada lagi mahasiswa yang memperoleh skor dalam rentang 6,0 – 7,5.  Frekuensi mahasiswa dengan skor  di atas 8,0 sebanyak 16 orang (100%). Dari sisi penilaian proses, diketahui bahwa  mahasiswa makin biasa menerapkan teknik Ecola di kelas. Mereka mulai menikmati penggunaan teknik tersebut. Tidak tampak dalam diri mereka  kebosanan, bahkan cenderung bersemangat, antusias, dan sangat dinamis.

Temuan lain yang diperoleh dalam penelitian adalah kesimpulan bahwa penggunaan teknik ECOLA dengan tahapan-tahapannya dapat meningkatkan kemampuan kerja sama dalam tim, terutama untuk melakukan diskusi tentang strategi memahami bacaan. Dari sisi frekuensi, sebanyak 14 orang (87, 5 %) menyatakan bahwa kemampuan kerja sama mereka dalam tim mengalami peningkatan, terutama dalam upaya memperoleh pemahaman yang lebih baik. Kemampuan kerja sama  dalam kelompok tersebut terindikasi pada dua hal, (1) sikap keterbukaan terhadap gagasan orang lain, dan (2) dinamika dalam mengungkapkan ide atau gagasan saat berdiksusi. Frekuensi mahasiswa yang dinyatakan bahwa dirinya lebih terbuka ternyata banyak. Sebanyak 10 orang (62,5 %) menyatakan bahwa mereka jauh lebih terbuka terhadap gagasan  dan pemahaman orang lain.

Dengan penerapan ECOLA suasana ruang  lebih dinamis. Mahasiswa berlatih untuk memberikan respons dan argumentasi mereka menjadi lebih baik. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan.

Aplikasi ECOLA dalam Pembelajaran di Tingkat Sekolah Dasar

Dalam pembelajaran di Tingkat  Dasar, para guru harus memperhatikan psikologi siswanya. Guru tidak boleh menerapkan seratus persen langkah-langkah tersebut. Penyesuaian dengan siswanya perlu dilakukan oleh guru. Langkah-langkah penyesuain dapat di alkuakan, di antaranya sebagai berikut.

Langkah 1

Guru dan siswa sebelum membaca bertanya jawab tentang apa yang harus dipelajari dalam pertemuan hari ini. Guru mengarahkan pada kompetensi dasar dan indikator yang ada dalam kurikulum. Jika para siswa sudah mengatahui KD dan indikatornya, guru mencoba bertanya pada siswa tujuan apa yang akan dicapai siswa dalam pembelajaran KD tersebut. Jika siswa tidak ada yang menjawab, guru mengarahkannya agar mengerti tujuan membaca/pembelajaran pertemuan ini.

Langkah 2

Setelah siswa mengetahui tujuan membaca pada langkah pertama, guru  mengingatkan bahwa para siswa harus bisa mencapai tujuan yang diinginkan tersebut. Pada saat siswa membaca dalam hati , guru memantau kegiatan tersebut dengan saksama agar kegiatan bisa efektif. Sebab pem,belajaran membaca akan terganggu jika ada salah satu siswa melakukan  sesuatu. Tempat harus tenang dalam membaca dalam hati tersebut.

Langkah 3

Selesai membaca sesuai dengan tujuan, para siswa menulis apa saja yang menjadi halangan dalam membaca dalam hati tersebut. Siswa bebas mengemukakan pendapatnya tentang kesulitan dan kemudahan membaca tersebut.

Langkah 4

Selesai menulis siswa diharapkan bisa memecahkan persoalan yang menghalangi kegiatan pembelajaran tersebut. Siswa  berusaha memecahkan persoalannya sendiri dengan cara menuliskan langkah-langkah mengatasi persoalan yang dihadipinya. Siswa bebas menginterpretasikan langkah-langkah tersebut.

Langkah 5

Siswa berkelompok untuk berdiskusi tentang  hasil tujuan membaca dan hasil interpretasi langkah-langkah mengatasi persoalannya tersebut. Dalam diskusi, siswa bisa mengubah hasil interpretasi dan hasil membaca secara individual tersebut. Dalam berdiskusi masukan yang positif perlu dipertimbangkan, jika perlu bisa digunakan.

Langkah 6

Membandingkan hasil individu dengan hasil kelompok yang telah didisusikan. Mereka bisa memberi kesimpulan terhadap hasil individu dan hasil kelompok setelah selesai kegiatan berdiskusi.

Sumber  Bacaan

Zuhdi, Darmiyati. 2007.  Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca:UNY Press. Yogyakarta

STRATEGI  KWL

(WHAT I KNOW, WHAT I WANT TO LEARNING, WHAT I LEARNED)

Dosen Mata Kuliah : Sujak, S.Pd., M.Pd

Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca. Strategi ini membantu mereka memikirkan informasi baru yang diterimanya. Strategi ini juga bisa memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topik. Siswa juga bisa menilai hasil belajar mereka sendiri ( Rahim, 2007:41 ) Strategi ini dikembangkan oleh Ogle (1988) dalam Eanes (1997:51) untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa terhadap suatu topik. Strategi KWL melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang telah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui, dan mengingat kembali apa yang mereka pelajari dari membaca.

Strategi KWL adalah cara membaca yang melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang telah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui, dan mengingat kembali apa yang mereka pelajari dari membaca. Adapun singkatan dari KWL sebagai berikut.

  • K – awali dari apa yang kita tahu (KNOW)
  • W – lanjutkan dengan apa (WHAT) yang ingin kita tahu; dan
  • L – diakhiri dengan menuliskan atau mempertajam kembali apa yang telah kita tahu (What we have LEARNED).

Adapun menurut Wijianti ( http://www.ncrel/sdrs/areas) mengatakan bahwa KWL adalah singkatan dar ;K (know) Apa yang telah diketahui (sebelum membaca), W (want) Apa yang hendak diketahui (sebelum membaca), L (learned) Apa yang telah diketahui (setelah membaca). Teori tersebut ialah suatu teknik membaca kritis di mana pembaca mengingat dahulu apa yang telah diketahui atau menentukan apa yang ingin diketahui melakukan pembacaan (bahan yang telah dipilih) mengetahui apa yang telah diperoleh dari pembacaan yang baru dilakukan.

Teknik pembacaan akan membiasakan pelajar mengaitkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan apa yang dibaca dan menentukan apa yang telah diperoleh dari pembacaannya. Dalam konteks pengajaran, pelajar dibiasakan menggunakan seperti yang di bawah sekiranya dikehendaki menggunakan teknik KWL.

Know (K) Apa yang sudah diketahui?

Want (W)Apa yang hendak diketahui?

Learned (L) Apa yang telah dipelajari/diperoleh?

Implementasi Pembelajaran dengan Strategi KWL

Langkah-langkah Pembelajaran

  1. Kegiatan Awal
    1. Menjelaskan tujuan, manfaat dan langkah-langkah pembelajaran.
    2. Mengadakan apersepsi dengan bertanya jawab tentang cerita anak yang pernah dibacanya..
  1. Kegiatan Inti
    1. Menuliskan suatu topik di papan tulis.
    2. Membagikan Lembar Kerja Siswa.
    3. Mendiskusikan tentang apa yang diketahui oleh siswa tentang topik yang diberikan oleh guru. ( K ).
    4. Menyusun pertanyaan tentang apa yang ingin diketahui oleh siswa pada kolom ( W ).
    5. Siswa membaca teks bacaan untuk menjawab pertanyaan kolom (L).
    6. Melakukan tes akhir secara individu.
    7. Melakukan penghitungan skor.
  1. Kegiatan Akhir
    1. Menyimpulkan materi
    2. -Refleksi kegiatan

Daftar  Rujukan:

Eanes, Robin. 1977. Conten Area Literacy: Taeching  for Today and Tomorrow. Wishington: Delmar Publishers ITP An International Thomson Publishing Company.

Iswara, P.D. 2009.  Penerapan Staregi KWL. Internet. http//www. Upi.com

Wijianti. 2009. Peningkatan Pembelajaran di SD dengan stategi KWL.  ( http://www.ncrel/sdrs/areas

—sjk—

STRATEGI MEMBACA DIA TAMPAN

Dosen Mata Kuliah : Sujak, S.Pd., M.Pd

Strategi membaca sangat penting dikuasai pengajar membaca. Ada banyak strategi pengajaran membaca, teknik pengajaran membaca, model membaca atau metode membaca. Di UPI Kampus Sumedang dikembangkan beberapa strategi membaca baik strategi yang telah umum dikenal maupun strategi yang baru dikembangkan. Strategi membaca yang telah umum dikenal misalnya strategi POSSE, K-W-L, DRA, DRTA, SQ3R, SQ4R, ECOLA dan sebagainya.

Salah satu strategi membaca yang diperkenalkan dalam pembelajaran membaca permulaan adalah strategi membaca dia tampan. Nama ini diajukan karena dalam pengajaran membaca permulaan, huruf-huruf yang pertama diajarkan adalah huruf d, n, t, p, m. Nama alternatif atau nama lain dari strategi dia tampan adalah strategi dadan tampan. Nama dadan digunakan untuk menghormati salah satu pengajar di UPI Kampus Sumedang, sekalipun strategi ini tidak dibuat olehnya.

Jadi strategi dia tampan menggunakan huruf d, n, t, p, m dalam pengajaran membaca permulaan. Uraian dari strategi dia tampan itu adalah sebagai berikut.

d –> ada

dada
didi
dudu
dede
dodo

ada dadi
ada dodi
ada dadu
ada didu
ada duda
ada dida
ada ida

ada dodi di dada ida

n –> ini
ini nana
ini nani
ini noni
ini nini
ini nina
ini nani

t –> itu
itu tati
itu tuti
itu tita
itu tia
itu toti
itu titu
itu teti

p –> apa
apa ini
apa itu

apa ini nina
apa itu tuti

apa ini papa
apa ini pipa
apa ini popo
apa ini popi
apa ini pepi
apa ini pipo

m –> mana
mana nana
mana nani
mana nina
mana noni
mana nini

mana mama
mana mami
mana mumi
mana momo

Sebagian orang mengenal pipo sebagai panggilan dari Filipo “Pippo” Inzaghi yaitu pemain bola klub AC Milan dari Italia. Nama dida juga adalah pemain bola dari klub AC Milan. Demikian pula toti sebagai panggilan dari Fransesco Totti yaitu pemain bola klub AS Roma dari Italia. Nama titu adalah nama dua vokalis T2 (tee two).

Dari huruf-huruf d, n, t, p, m muncul kata-kata awal yaitu ada, ini, itu, apa, dan mana. Dari kata-kata itu, huruf lainnya dapat diajarkan. Huruf lainnya misalnya c, g, j, y, w, kemudian b, h, k, l, kemudian s, dan r. Contohnya pada kalimat berikut.

c
ada cica
ini cici
itu cucu
apa ini cece
mana ica

g
ada dago
ini gigi
itu egi
apa ini iga
mana ega

Pengajaran ini bisa dilanjutkan sesuai kreatifitas guru.

Daftar Rujukan Utama

Iswara, P.D. 2009.  Penerapan Staregi KWL. Internet. http//www. Upi.com

—–sjk—

FRASA, KLAUSA, KALIMAT

1. Frasa

Frasa adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan. Kesatuan itu dapat menimbulkan suatu makna baru yang sebelumnya tidak ada. Misalnya dalam frasa: rumah ayah, muncul makna baru yang menyatakan milik. Dalam Frasa  rumah makan terdapat pengertian baru ‘untuk’, sedangkan frase ‘obat nyamuk’ terdapat makna baru ‘untuk memberantas’

Berdasarkan fungsinya, frasa dapat dibedakan menjadi: frasa endosentris, dan frasa eksosentris. Menurut Siahaan (1986:3.21) frase endosentris  adalah frase yang mempunyai distribusi dan fungsi tang sama dengan unsur-unsurnya atau salah satu dari unsur-unsurnya. Sebaliknya, sebuah frasa yang tidak dapat berdistribusi dan berfungsi sama dengan unsur-unsurnya natau salah satu dari unsur-unsurnya disebut frase eksosentris. Frasa endosentris dan eksosentris masih bisa dibedakan menjadi beberapa golongan. Perhatikan  berikut ini.

……….. (tunggu lanjutannya)

  1. Klausa
  2. Kalimat Aktif-Pasif
  3. Kalimat Berdasarkan Kategori Predikat
  4. Kalimat Majemuk (konjungsi, kalimat dengan konjungsi, kalimat majemuk)
  5. Menulis Pola Kalimat (definisi S, P, O, K dan delapan pola dasar)
  6. Menulis Paragraf (huruf kapital, tatnda titik, konjungsi, pada kalimat majemuk)

MENULIS PARAGRAF

  1. Teori Paragraf deduktif dan induktif)
  2. Teori Wacana (Narasi, Eksposisi, deskripsi, argumentasi, persuasi)

10.  Lokakarya Membaca Awal (Menulis huruf kapital, nonkapital, tanda baca titik, koma, tanda seru,  tanda tanya, titik koma, tanda hubung)

11.  Lokakarya  Membaca Lanjutan (Penilaian)

12.  Lokakarya Menulis Awal (Penilaian)

13.  Lokakarya Menulis Lanjut (Penilaian)

Ujian Akhir Semester

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.