Kumpulan Abstrak Tesis Pascasarjana

Pengembangan Bahan Ajar Menulis Cerpen dengan Strategi Dari Cerpen ke Cerpen Siswa Kelas X di SMA Negeri I Malang

Abstrak

Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan adalah bahan ajar yang menyajikan materi, latihan, dan berbagai pemodelan/contoh cerpen yang diharapkan dapat membantu siswa dalam menulis cerpen yang memfokuskan pada pengembangan peristiwa dan tokoh. Peristiwa dan tokoh merupakan unsur cerpen yang saling berhubungan, yang juga tidak terlepas dari unsur-unsur yang lain, seperti latar, gaya, sudut pandang, dan tema. Berdasarkan hal tersebut, secara implisit unsur cerpen peristiwa dan tokoh dalam bahan ajar menulis ini saling berhubungan dan saling menghidupi.

Untuk mencapai standar kompetensi menulis cerpen dalam pembelajaran, diperlukan strategi yang tepat. Strategi yang diduga tepat dalam penelitian ini adalah strategi pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen (CKC) karena strategi tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif dalam pembelajaran antara lain dengan mengembangkan silabus, mengembangkan materi dalam produk bahan ajar menulis cerpen dengan strategi Dari Cerpen ke Cerpen pada siswa kelas X di SMA Negeri I Malang. Sehingga proses evaluasi/penilaian menulis cerpen dapat dianalisis sesuai dengan strategi Dari Cerpen ke Cerpen pada siswa kelas X di SMA Negeri I Malang.

Dalam pembelajaran menulis cerpen tidak terlepas dari bimbingan guru sehingga siswa mampu memilih tema, mengembangkan ide pokok, mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung, mengembangkan peristiwa, menyusun draf yang dikembangkan dari kerangka, dan mengedit naskah cerpen atau merevisi. Kegiatan menulis cerpen dengan strategi pemodelan dalam bahan ajar bertujuan agar siswa mengalami proses dalam beberapa tahapan kegiatan belajar. Tahapan kegiatan yang dilewati itu meliputi: (1) memilih topik, (2) mengembangkan ide pokok, (3) mengembangkan tokoh baik langsung maupun tidak langsung, (4) mengembangkan peristiwa, (5) menyusun kerangka, (6) menulis cerpen, dan (7) mengedit atau merevisi.

Untuk mencapai standar kompetensi menulis cerpen, diperlukan strategi yang tepat. Strategi yang tepat dalam penelitian ini adalah pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen (CKC) karena strategi tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri. Proses belajar secara alamiah mulai dengan langkah mengamati suatu objek, siswa menemukan masalah dan terdorong untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak siswa akan memotivasi mereka untuk selalu mencari jawabannya. Strategi Dari Cerpen ke Cerpen dapat diterapkan pada pembelajaran menulis, khususnya menulis cerpen. Dikatakan demikian karena salah satu model untuk mendapatkan bahan cerpen adalah melalui pengamatan, bertanya, menemukan apa yang telah diamati, mengolah, dan

memprosesnya. Kegiatan tersebut merupakan salah satu komponen yang terdapat dalam strategi Dari Cerpen ke Cerpen.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peneliti penyusunan silabus dengan strategi pemodelan yang meliputi komponen standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, hal tersebut bertujuan agar pembelajaran terarah sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan. Peneliti merancang kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dengan menghasilkan produk cerpen karya siswa. Pengembangan materi, tema, dan latihan dalam bahan ajar yang disesuaikan dengan penyusunan silabus sangat efektif untuk mencapai Kompetensi Dasar pengembangan materi, tema, dan latihan dalam bahan ajar yang disesuaikan dengan penyusunan silabus sangat efektif untuk mencapai kompetensi dasar. Pemanfaatan bahan ajar tersebut memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Penambahan/pengembangan materi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan lingkungan siswa dan pengalaman siswa. Evaluasi/ penilaian pembelajaran yang digunakan peneliti antara lain penilaian hasil dan penilaian proses menulis cerpen berhasil karena strategi pemodelan mampu mengembangkan proses kreativitas siswa menulis cerpen. Peneliti melakukan evaluasi pembelajaran menulis cerpen dengan menyajikan latihan-latihan pada setiap pembahasan materi, karena hal tersebut sangat penting untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan. Dalam hal ini, siswa dilatih lebih banyak dalam mempraktikkan menulis cerpen, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai atau menghafalkan teori tentang bahasa karena keterampilan menulis itu merupakan suatu proses pertumbuhan melalui banyak latihan.

Pengembangan bahan ajar dengan strategi pemodelan Dari Cerpen ke Cerpen menunjukkan kesesuaian dengan asumsi penelitian, yakni melibatkan keterampilan berbahasa lainnya seperti membaca secara terpadu karena melibatkan berbagai unsur belajar. Hal tersebut terbukti dalam penyajian bahan ajar peneliti memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami materi menulis cerpen dengan teknik membaca contoh cerpen terlebih dahulu sebelum menghasilkan cerpen yang sempurna. Siswa termotivasi untuk menulis cerpen dengan tema kehidupan mereka sesuai dengan pengalaman siswa sehingga pembelajaran menjadi kontekstual dan bermakna serta menyenangkan bagi siswa.

Hasil uji coba oleh uji ahli antara lain: (a) ahli isi menyarankan agar tema dan gambar pada setiap indikator yang tidak relevan dengan tema awal perlu dihilangkan. (b) Kelemahan utama dalam pengembangan bahan ajar ini adalah dalam menyusun kegiatan menulis cerpen dan penggunaan bahasa. Dalam menyusun kegiatan menulis cerpen, teori-teori harus diurutkan kembali sesuai dengan saran ahli isi dan ahli sastra agar siswa dapat secara sistematis memahami langkah-langkah dalam menulis cerpen. Selain hal tersebut perlu dilakukan penyortiran teori-teori yang tidak relevan dengan SK, KD, dan indikator menulis. Menurut saran ahli isi dan sastra bahwa teori dan latihan-latihan harus disesuaikan dengan tema yang diambil, yakni tentang kehidupan. (c) Ahli sastra menyarankan bahwa kriteria dalam instrumen penilaian perlu diperjelas sehingga hasil tagihan menulis cerpen siswa mencapai nilai maksimal. (d) Ahli kelompok kecil siswa menyarankan bahwa warna dan gambar dalam bahan ajar yang dikembangkan agar lebih mencolok karena kurang menyenangkan. Setelah melalui tahapan revisi, bahan ajar yang dikembangkan peneliti memperoleh hasil yang memuaskan dan produk layak untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia

Kata kunci: pengembangan bahan ajar, menulis cerpen, strategi pemodelan

 

Pengembangan Modul Pembelajaran Matakuliah Umum Bahasa Indonesia pada Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang

Abstrak

Pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi berpendekatan komunikatif, yakni pembelajaran bahasa Indonesia yang diorientasikan pada tujuan untuk mengembangkan kompetensi komunikatif. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi hendaknya diorientasikan pada pencapaian kemahiran berbahasa Indonesia. Dengan kemahiran berbaha­sa Indonesia yang dimilikinya, mahasiswa diharapkan dapat mengemukakan gagasan keilmuan sesuai dengan bidangnya. Untuk mencapai harapan tersebut, perlu dilakukan pengembangan program Pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran. Upaya ini dimaksudkan untuk menyiap­kan kondisi belajar yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas Pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan materi Pembelajaran berupa Modul Pembelajaran Matakuliah Umum Bahasa Indonesia yang me­merhatikan perbedaan kemampuan mahasiswa, mendukung pembelajaran per­seorangan dan mandiri, dapat memudahkan belajar mahasiswa, serta memenuhi kualifikasi sebagai materi pembelajaran yang baik dan yang meme­nuhi prinsip-prinsip pengembangan Pembelajaran.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan produk (1) silabus, (2) modul Pembelajaran matakuliah umum Bahasa Indonesia (MKU BI) pada Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang, dan (3) lembar kerja mahasiswa.

Pengembangan produk tersebut diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai program pembelajaran MKU BI di FH Unidha Malang, serta wawancara dengan pihak pengelola program Pendidikan di FH Unidha Malang.

Pengembangan silabus dan modul ini menggunakan model Pengem­bangan Perangkat Pembelajaran Bertujuan Khusus. Model rancangan pembelajaran MKU BI ini dilakukan berdasarkan model hasil adaptasi dari model pengembangan Dick & Carey (1990). Hasil pengadaptasian model tersebut menghasilkan langkah-langkah: (1) mengidentifikasikan kebutuhan dan menentukan kebutuhan belajar, (2) menentukan tujuan pembe-lajaran umum, (3) melaksanakan analisis pembelajaran, (4) mengidentifikasi-kan perilaku dan karakteristik awal mahasiswa, (5) menentukan tujuan pembelajaran khusus, (6) mengembangkan butir-butir tes yang kriterianya telah ditentukan, (7) mengembangkan strategi pembelajaran, (8) menyusun dan memilih materi pembelajaran, (9) mengembangkan modul dan melaksanakan evaluasi, dan (10) merevisi modul.

Untuk mengetahui kualitas hasil produk pengembangan tersebut, dilakukan uji coba produk. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan, komentar, dan saran terhadap produk pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahapan uji coba produk yang dilakukan adalah (1) uji ahli, yaitu ahli perancangan pembelajaran, ahli isi bidang studi, dan ahli bahasa, dan (2) uji coba kelompok kecil. Data hasil uji coba selanjutnya digunakan sebagai bahan untuk merevisi produk pengembangan balk panduan dosen, modul pembelajaran maupun lembar kerja mahasiswa.

Hasil akhir pengembangan produk ini berdasarkan langkah-langkah model Pengembangan Perangkat Pembelajaran Bertujuan Khusus, dapat dikemukakan bahwa: (1) uraian isi materi dalam modul MKU BI disusun dalam setiap topik dan subtopik sesuai dengan tujuan khusus yang dirumuskan berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan analisis pembelajaran, (2) uraian isi materi disusun dalam urutan yang sistematis dan logis berdasarkan urutan topik bahasannya, (3) urutan penyajian isi materi pembelajaran diawali dengan pemahaman bahasa Indonesia hukum yang membahas tentang hubungan antara bahasa dan hukum, topik kaidah pembentukan kalimat dengan menggunakan pola kalimat berkaidah hukum, dalam sajian materi berikutnya adalah mengembangkan gagasan yang mengkhususkan membentuk keterampilan mahasiswa untuk menyusun karangan berstruktur hukum, sajian materi terakhir adalah penulisan karya ilmiah yang diperlukan mahasiswa untuk menulis karya ilmiah, (4) bentuk self-assessment dalam modul ini berupa soal­soal latihan yang bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, serta (5) pembelajaran dengan menggunakan modul ini menekankan pada belajar mandiri, yang menyediakan pengalaman belajar yang self-contained dan self-directed.

Produk pengembangan ini belum diujicobakan secara menyeluruh. Dengan kata lain, semua tahapan uji coba belum dilalui. Dengan demikian, dimungkinkan terdapat kekurangan-kekurangan yang belum terungkap dalam produk ini. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas produk in] setelah diimplementasikan selama satu semester, kemudian ditemukan kekurangan-kekurangan dari produk ini, maka produk ini perlu direvisi.

Kata kunci: pengembangan modul, matakuliah umum Bahasa Indonesia

 

Peningkatan Kemampuan Apresiasi Puisi melalui Metode Bengkel Sastra Siswa Kelas II SMA Negeri 11 Ambon

Abstrak

Pembelajaran sastra selama ini diajarkan kepada siswa untuk semua jenjang pendidikan.Namun disinyalir bahwa pembelajaran sastra belum mencapai hasil yang optimal. Pembelajaran sastra perlu dikembangkan dan ditingkatkan karena pembelajaran tersebut didukung oleh aspek pertimbangan psikologis. Siswa memiliki pengetahuan dan keingintahuan yang sangat besar.

Penelitian terhadap pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra dengan Metode Bengkel Sastra ini penting dilakukan karena belum ada yang meneliti tentang hal tersebut. Karena itu penelitian ini terfokus pada tiga masalah, yakni: (1) bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis puisi melalui Metode Bengkel Sastra puisi siswa kelas II SMA Negeri 11 Ambon, pada tahap pemilihan tema puisi, (2) bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis puisi melalui Metode Bengkel Sastra puisi siswa kelas II SMA Negeri 11 Ambon pada tahap penggunaan bahasa puisi, (3) bagaimana peningkatan kemampuan menulis puisi melalui metode bengkel sastra puisi siswa kelas II SMA Negeri 11 Ambon pada tahap penulisan puisi secara totalitas makna.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada tanggal 28­–30 Januari 2007 ditemukan bahwa pembelajaran apresiasi sastra di SMA Negeri 11 Ambon, dilaksanakan lebih banyak bertumpu pada teori sastra. Guru sama sekali belum pernah melaksanakan kegiatan pembelajaran apresiasi sastra yang melibatkan siswa untuk kegiatan kreatif sastra seperti mencipta puisi. Sehingga pada awal observasi diperkenalkan kepada guru bahwa di dalam pembelajaran apresiasi sastra terdapat Metode Bengkel Sastra. Melalui metode tersebut, siswa diajak turun langsung ke dunia sastra. Di dalamnya mengutamakan aktivitas siswa sebagai experimentation of literature.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Prosedur tindakan dikemas dalam bentuk tahap-tahap penelitian, meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian berupa data proses dan hasil, catatan lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi selama pelaksanaan tindakan.Untuk mendapatkan data menggunakan dua instrumen, instrumen utama adalah peneliti, dan instrumen penunjang berupa panduan observasi, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Langkah-langkah untuk menganalisis data dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan dan verifikasi yang dilakukan dengan cara partisipatoris, kolaboratif antara peneliti dengan guru sebagai praktisi. Pelaksanaan pembelajaran apresiasi puisi dengan metode bengkel sastra, dapat ditempuh melalui lima langkah (1) perkenalan, penjajagan, dan pengarahan, (2) memproduksi (3) publikasi, (4) pengenalan figur, (5) pertemuan puncak. Proses kerja bengkel sastra ini dikemas dalam tahapan proses menulis yakni tahap pramenulis, saat menulis , dan pascamenulis, dan penilaian. Secara kolaboratif peneliti dan guru menyusun rencana pembelajaran apresiasi puisi. Tema yang ditulis sesuai dengan tema sentral yang telah disepakati dalam forum kerja bengkel sastra. Tema tersebut dikembangkan dalam RPP.

Penilaian pembelajaran dilakukan melalui penilaian proses dan hasil. Penilaian proses menunjukkan peningkatan dalam hal kerjasama dan partisipasi dalam kelompok,kreativitas dalam tukar pendapat, keberanian dalam berunjuk kerja, minat dan antusias, produktivitas, dan toleransi. Penilaian hasil tentang peningkatan apresiasi puisi siswa dalam mencipta atau menulis puisi menunjukkan peningkatan dari siklus yang satu ke siklus berikutnya.

Tahap pemilihan tema puisi pada siklus I, terdapat peningkatan dalam memilih dan mengembang­kan tema yakni 6 orang atau 14% siswa memperoleh nilai 80, dan 10 orang atau 23% memperoleh nilai 75. Dengan demikian siwa yang mencapai KKM ≥ 75 mencapai 16 orang atau 27% dari 43 orang siswa. Pada siklus II, kemampuan siswa memilih dan mengembangkan tema, yaitu 1 orang atau 3% memperoleh nilai 95, terdapat 4 orang atau 11%memperoleh nilai 90, dan 2 orang atau 11% memperoleh nilai 85, terdapat 2 orang juga memperoleh nilai 80, dan 11 mendapatkan nilai 75.Dengan demikian, siswa yang mencapai KKM ≥75 mencapai 20 orang atau 77% dari 35 orang siswa. Dengan perbedaan banyaknya siswa yang meningkat nilainya untuk kemampuan memilih dan mengembangkan tema pada siklus II dapat disimpulkan bahwa Metode Bengkel Sastra dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi.

 

Tahap penggunaan bahasa puisi pada siklus I terdapat 5 orang atau 12% dari siswa memperoleh nilai 80, dan 6 orang atau 14% memperoleh nilai 75. Dengan demikian, siswa yang mencapai KKM ≥ 75 mencapai 11orang atau 26% dari 43 orang.Pada siklus II, terdapat atau 3% dari memperoleh nilai 95, dan 3 orang memperoleh nilai 80, dan 9 siswa mendapatkan nilai 75. Dengan demikian, siswa yang mencapai KKM ≥ 75 mencapai 20 orang atau 77% dari 35 orang siswa yang mengikuti Bengkel Sastra. Dengan demikian jumlah siswa yang nilainya sama atau lebih tinggi dari KKM ≥ 75 pada siklus II berjumlah 20 orang. Jika dibandingkan dengan siklus I yang hanya 16 orang, itu berarti bahwa kemampuan memilih dan mengembangkan tema meningkat, meskipun peningkatannya tidak terlalu mencolok. Selain dari indikasi nilai, dapat juga disimpulkan bahwa bahasa puisi yang digunakan dalam puisi dari siklus I ke siklus II semakin meningkat tajam. Dari data puisi yang telah dibahas juga terlihat bahwa diksi, bahasa figuratif, citraan, dan rima menampakkan adanya peningkatan tajam. Diksi siswa semakin kaya dalam siklus II.

Tahap penulisan puisi secara totalitas siklus I, dari hasil analisis dapat diketahui bahwa siswa yang nilai rata-ratanya kemampuan mengembangkan totalitas makna mencapai ≥ 75, sesuai dengan SKBM yang ditetapkan oleh sekolah, hanya mencapai 10 siswa (23%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis puisi belum mencapai tujuan, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 belum mencapai 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas. Pada siklus II, nilai siswa yang ≥ 75, sama dengan atau di atas KKM berjumlah 17 orang (50%). Selain itu,dapat diketahui bahwa nilai tertinggi rata-rata nilai pada siklus II ini 95, sedangkan nilai siklus I 80. Dari nilai yang dicapai dapat disimpulkan bahwa pada siklus II pembelajaran apresiasi puisi dengan Metode Bengkel Sastra ini dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa Metode Bengkel Sastra dapat meningkatkan kemampuan apresiasi siswa kelas 2 SMA Negeri 11 Ambon pada umumnya, dan khususnya kemampuan menulis puisi. Kesimpulan ini diambil sesuai dengan adanya peningkatan kemampuan dari Siklus I ke Siklus II.

Dengan adanya peningkatan kemampuan tersebut disarankan kepada guru bahasa Indonesia agar mencoba menggunakan Metode Bengkel Sastra untuk mengajar apresiasi sastra puisi, maupun genre sastra yang lain. Untuk itu suatu hal yang perlu diperhatikan pengajar sastra (guru sastra) adalah puisi itu lahir karena adanya imajinasi, intuisi, dan secercah kearifan, karena itu ciptakanlah suasana mengajar yang menyenangkan.

Kata kunci: peningkatan kemampuan apresiasi puisi ,metode bengkel sastra

Analisis Dekonstruksi Derrida terhadap Sistem Stratifikasi Sosial Bali dalam Karya-karya Oka Rusmini

Abstrak

Membaca karya-karya Rusmini, akan ditemukan beragam permasalahan lokalitas Bali. Konflik dalam sistem stratifikasi sosial Bali merupakan permasalahan yang intens dihadirkan oleh Rusmini. Sistem stratifikasi sosial tersebut dikritisi sedemikian rupa melalui alur cerita yang menarik.

Masalah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini, (2) bagaimanakah makna dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini.

Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi, dengan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan dekonstruksi menekankan pada jejak-jejak tanda yang terdapat dalam naskah, dan tidak menghubungkan antara sastra dan masyarakat atau latar belakang penulisnya. Sumber data penelitian adalah novel Tarian Bumi, cerpen Sagra, cerpen Pemahat Abad, cerpen Putu Menolong Tuhan. Data penelitian berupa pikiran, tindakan tokoh, dialog, monolog, narasi dan deskripsi. Data dianalisis menggunakan analisis unsur instrinsik, dengan langkah sebagai berikut; membaca retroaktif, pereduksian data, penyajian data berdasar kategori, penafsiran dekonstruksi, penyimpulan data.

Simpulan-simpulan pada penelitian ini yaitu; representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dapat dilihat dari (1) Pada keseluruhan karya Rusmini, masalah nama tokoh, tidak ditemukan adanya jejak dekonstruksi; (2) Satu dari empat karya Rusmini, yaitu Tarian Bumi, menampakkan jejak usaha untuk tidak menaati aturan panggilan oleh kasta sudra terhadap kasta brahmana, sesuai dengan sistem stratifikasi sosial Bali; (3) Dua dari empat karya Rusmini (Tarian Bumi dan Putu Menolong Tuhan) memaparkan dengan jelas suatu kepercayaan adanya kesialan bila lelaki sudra menikah dengan perempuan bangsawan; (4) Keempat karya Rusmini menampakkan jejak tanda bahwa nilai keprestisiusan kasta brahmana dapat bergeser oleh kekayaan dan pendidikan; (5) Idiom-idiom Bali menunjukkan trace yang mengarah pada differance. Perbedaan dan jarak antara sudra dengan brahmana dapat dirunut dari jejak-jejak idiom Bali, (7) Keberagaman intensitas kemunculan tokoh, mempunyai peran yang sama penting dalam menampakkan permasalahan sistem stratifikasi sosial Bali; (8) Kasta didapat secara turun temurun, bukan seperti yang diajarkan dalam agama Hindu dengan catur warnanya (kasta dilihat dari profesi seseorang).

Makna dalam karya-karya Rusmini yaitu karya-karya Rusmini menyiratkan adanya usaha pengkritisan atas keberadaan sistem stratifikasi sosial Bali. Usaha ini akan lebih mudah dan cepat jika dilakukan oleh warga Bali yang memiliki kekuasaan, harta dan pendidikan. Dekonstruksi yang terdapat dalam karya-karya Rusmini cenderung bersifat evolutif. Hal ini dapat dilihat dari minimnya tokoh yang tidak patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dibnding dengan tokoh yang patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali. Proses penurunan konstruk sistem stratifikasi Bali tidak bersifat destruktif, karena konstruk lama masih berjalan dan berdiri.

Kata kunci: dekonstruksi, sistem stratifikasi sosial Bali

Peningkatan Pembelajaran Menulis Naskah Drama Melalui Strategi Konversi Cerpen pada siswa kelas V di SDN 76 Kota Tengah Kota Gorontalo

Abstrak

Dalam Kurikulum KTSP, menulis naskah drama merupakan kompetensi dasar yang harus diajarkan kepada siswa kelas V SD. Hal ini menunjukkan pembelajaran apresiasi sastra sudah harus diajarkan kepada siswa, yang dapat diintegrasikan dengan empat keterampilan berbahasa.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa keterampilan menulis sastra khususnya drama, masih kurang diminati. Salah satu penyebabnya guru kurang termotivasi memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan siswa untuk belajar menulis. Untuk mengatasi masalah tersebut, dipilihlah salah satu strategi yang efektif untuk memotivasi siswa dalam menulis naskah drama (MND), yaitu strategi konversi cerpen (SKCP). SKCP memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama melalui: (1) penentuan tokoh dan penokohan, (2) penentuan latar, (3) penentuan alur, (4) penentuan tema, dan (5) penentuan amanat. Dalam penelitian ini dilalui 3 tahapan, yaitu (1) tahap pramenulis, (2) tahap menulis, (3) tahap pascamenulis

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis naskah drama berdasarkan konversi cerpen tahap pramenulis, menulis, pascamenulis pada siswa kelas V SDN 76 Kota Tengah Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan PTK. Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, tindakan, dan observasi, serta refleksi. Studi pendahuluan adalah wawancara dan observasi. Tahap perencanaan dilaksanakan dengan menyusun rancangan pembelajaran, menyusun materi, menentukan media, menyusun rambu-rambu dan LKS. Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Refleksi dilakukan pada setiap akhir pembelajaran dan pertemuan pada setiap siklus.

Data penelitian ini berupa data proses dan hasil tindakan, yaitu hasil observasi, kumpulan catatan lapangan, dan dokumentasi. Sumber data penelitian adalah hasil kerja siswa berupa kartu struktur dan naskah drama. Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui format observasi, format catatan lapangan, dan kartu struktur dan naskah drama. Analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data dilakukan ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pemeriksaan teman sejawat.

Tahap pramenulis melalui 2 (dua) kegiatan, yaitu (1) pembangkitan skemata, dan (2) pemahaman cerpen. Pembangkitan skemata pada tahap pramenulis adalah filem, lagu anak, membaca gambar dan cerita. Hasil yang diperloleh dalam pembangkitan skemata yang dilakukan adalah memberikan motivasi kepada siswa untuk dapat belajar memahami cerpen. Sehingga, dengan memahami cerpen, siswa dapat menulis naskah drama. Pemahaman cerpen adalah kegiatan siswa untuk mengenal dan memahami cerpen, agar siswa dapat menulis naskah. Dengan memahami cepen melalui identifikasi struktur cerpen, menjadikan pembelajaran siswa meningkat dalam menulis naskah drama.

Tahap menulis dirancang melalui teknik pengubahan kartu strukur yang telah diindentifikasi ke bentuk draf naskah drama. Pelaksanaan menulis naskah drama dipandu lewat LKS serta panduan dan bimbingan guru untuk menulis draft naskah melalui hasil pengerjaan kartu struktur. Hasil karya siswa MND pada setiap siklus mengalami peningkatan. Siklus I, penyusunan naskah drama sangat singkat dan tidak lengkap sesuai cerpen. Penyusunan ejaan dan tanda baca masih kurang. Pada siklus II tidak ada pengembangan tokoh dan ucapan tokoh, dan pada siklus III sudah ada peningkatan, karena siswa berusaha memperbaiki hasil karya MND. Tahap pascamenulis ditandai dengan kegiatan diskusi kelompok, penyajian hasil diskusi, pengeditan, revisi, dan publikasi.

Peningkatan dalam hasil pembelajaran MND didasarkan pada hasil isian kartu struktur dan LKS MND siswa pada setiap siklus. Berdasarkan hasil evaluasi dapat dilihat bahwa ada peningkatan keterampilan membaca dan menulis naskah dengan strategi SKCP siswa pada siklus II dan siklus III. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan skor siswa mulai dari siklus I mencapai 75.19 %, siklus II mencapai 86.79% dan siklus III mencapai 90.97%.

Berdasarkan kekurangan dan kelemahan pada penelitian ini, peneliti memberi saran sebagai beikut. (1) Pada tahap pramenulis, disarankan kepada guru dapat (a) menggunakan media gambar yang lengkap, (b) kartu struktur diharapkan memiliki panduan yang jelas, agar dapat dipahami siswa dalam mengidentifikasi cerpen, (2) tahap menulis, disarankan (a) guru dapat mendesain langkah-langkah MND melalui SKCP, dengan membuat LKS atau panduan MND yang lebih kreatif, (b) pemodelan naskah drama yang lebih lengkap dan terperinci, misalnya penjelasan setiap adegan dari tokoh/perwatakan, serta naskah yang memiliki gambar, (c) guru berupaya membimbing dan melatih siswa menggunakan ejaan,tanda baca, dan kalimat yang benar, (d) guru diharapkan memandu dan membimbing siswa dalam memahami cerita atau menulis naskah drama, dan (3) tahap pascamenulis, diharapkan (1) memperhatikan dan memotivasi siswa untuk dapat berdiskusi, (2) memperhatikan hasil revisi dan perbaikan MND, (3) mementaskan hasil naskah untuk dipertunjukkan, (4) memperhatikan penilaian proses dan hasil dari setiap siswa, dan (4) memperhatikan alokasi waktu, disarankan kepada guru untuk merencanakan alokasi waktu secara fleksibel.

Kata kunci: menulis naskah drama, strategi konversi cerpen

Pencitraan Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Periode Penulisan
Tahun 1998 Sampai Tahun 2005 oleh Pengarang Pria dan Pengarang Wanita

Abstrak

Kemunculan sejumlah pengarang wanita pasca-Orde Baru seakan membawa angin segar dalam dunia sastra Indonesia dengan menampilkan tema yang beragam. Adanya gaya penulisan dan tema yang beragam semakin menambah khasanah persasteraan Indonesia, namun bukan berarti kehadiran pengarang pria tergeser. Justru karena keberagaman ini, menarik sekali kiranya diadakan sebuah penelitian dengan membandingkan karya pengarang pria dan karya pengarang wanita, berdasarkan kenyataan tersebut dilakukan penelitian tentang Pencitraan Tokoh Wanita dalam Novel Indonesia Periode Penulisan Tahun 1998 Sampai Tahun 2005 Oleh pengarang Pria dan Pengarang Wanita dengan rumusan masalah (1) bagaimana latar pendidikan tokoh wanita yang ditampilkan oleh pengarang ?,(2) bagaimana peran aspek sosial tokoh wanita dalam masyarakat yang digambarkan oleh pengarang, dan (3) bagaimana representasi ideologi gender pengarang yang terungkap melalui tokoh wanita. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan pencitraan tokoh wanita dalam novel yang ditulis oleh pengarang pria dan pengarang wanita periode penulisan tahun 1998 sampai tahun 2005.

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kutipan, satuan cerita, frase, pernyataan pengarang, sikap, tindakan dan pikiran tokoh. Secara khusus dapat dirinci data tentang: (1) pendidikan tokoh wanita melalui pengungkapan pengarang; (2) aspek sosial keberadaan tokoh wanita yang terimplementasikan dalam novel; (3) ideologi gender pengarang yang tercermin melalui tokoh. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi dokumentasi atau studi kepustakaan dengan disertai pemahaman secara mendalam (sinverstehen). Di dalam prakteknya studi dokumentasi ini dilaksanakan oleh peneliti dengan cara membaca kritis dan kreatif (critical reading, creative reading) serta menjelaskan sesuatu dengan pikiran orang lain (reading between the line, reading beyond the line) seluruh wacana sastra yang dijadikan melalui data. Adapun keabsahan data diuji dengan (a) ketekunan pengamatan yang berupa pembacaan dan penelaahan sumber data secara berulang-ulang dan berkali-kali. Pembacaan dan penyajian dilakukan secara kritis, teliti, cermat, berdasarkan prinsip-prinsip penghayatan dan pemahaman arti secara mendalam, memadai, dan mencukupi, (b) kecukupan rujukan yang berupa pembacaan dan penyigian berbagai pustaka dan dokumentasi terkait, (c) mengidentifikasi dan mengklarifikasi data sesuai masalah.

Hasil penelitian ini terwujud dalam bentuk informasi pencitraan tokoh wanita yang ditulis oleh pengarang pria dan pengarang wanita periode penulisan tahun 1998 sampai tahun 2005, yang meliputi: (1) aspek pendidikan tokoh wanita, (2) aspek sosial kehidupan tokoh dalam masyarakat, dan (3) representasi ideologi pengarang yang terungkap melalui tokoh wanita.

Secara garis besar pencitraan tokoh wanita yang digambarkan oleh pengarang pria dan pengarang wanita memiliki perbedaan, baik dari aspek pendidikan, aspek sosial dan representasi ideologinya. Rumusan ini didasarkan pada beberapa masalah yang memang muncul dalam kehidupan para tokoh wanita yang diciptakan oleh pengarang. Pengarang pria cenderung menampilkan tokoh wanita yang kuat dari sosok fisik, namun akhirnya menjadi sangat lemah karena tidak kuasa menahan beban masalah walaupun sesungguhnya wanita tersebut memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Gambaran ini muncul pada novel GRHN. Novel KJ, menampilkan tokoh wanita yang kuat dari segi fisik dan mental walaupun mengalami siksaan akibat kekuasaan seorang laki-laki selama kurang lebih 40 tahun. Berkat cinta yang ia simpan untuk suami, semua itu dapat dilaluinya, cinta yang disimpan untuk suami tidak didasarkan pada pendidikan dan status yang pernah melekat pada dirinya. Penciptakan citra wanita yang ditulis oleh pengarang pria menampilkan pencitraan tokoh wanita yang berbeda, hal ini juga dikarenakan setting, tempat kejadian ataupun latar belakang peristiwa memang menunjukkan adanya perberbedaan yang sangat jauh. GRHN memunculkan peristiwa sesudah kemerdekaan, sedangkan KJ memunculkan kisah dalam periode waktu tiga zaman yaitu masa kolonial, masa penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan.

Berbeda dengan pengarang wanita, baik SMN maupun DFKM telah menampilkan sosok wanita yang lebih modern dengan segala atribut feminismenya. Semua tokoh wanita adalah mereka yang berpen­didikan tinggi, mempunyai kedudukan di sektor publik yang mapan, dan tentunya hidup di lingkungan yang lebih baik secara ekonomi, bergaya hidup kosmopolitan, namun kurang memperhatikan budaya dan kebiasaan yang melingkunginya, sehingga mereka bebas melakukan apa saja yang dianggap baik dan tidak mengganggu orang lain. Penggambaran ini menunjukkan bahwa pengarang wanita lebih berani menampilkan peristiwa yang kadang-kadang bertentangan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat Timur.

Penelitian ini merupakan penelitian awal yang masih memerlukan pembuktian dari peneliti lain dan berkelanjutan untuk dapat dikembangkan dalam berbagai keperluan pengkajian sastra secara akademis dan praktis. Secara teoretis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang perbedaan antara pengarang pria dan pengarang wanita yang bersumber dari novel yang ditulis, selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan khususnya dalam pengajaran sastra, kritik sastra, ataupun kajian prosa fiksi agar karya sastra yang bermunculan semakin beragam dengan kisah dan tema yang beragam pula.

Kata kunci: citra, pencitraan, tokoh wanita, feminisme, pengarang pria, pengarang wanita

 

 

Ragam Bahasa Pedagang Asongan dalam Interaksi Jual-Beli di Terminal Situbondo

Abstrak

Penelitian ini difokuskan pada pemakaian ragam bahasa pedagang asongan dalam interaksi jual beli di terminal Situbondo. Pemeriannya dengan menganalisis ciri-ciri tuturan bahasa Indonesia yang digunakan oleh pedagang asongan pada tiap-tiap tataran, yaitu tataran fonologis, tataran morfologis, tataran sintaksis, tataran diksi dan leksikal, serta tataran intonasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif kualitatif. Data berasal dari interaksi jual beli antara pedagang asongan dengan pembeli secara alamiah. Sumber data berasal dari pedagang asongan yang bekerja di terminal Situbondo. Pemerolehan data dilakukan dengan cara penyimakan (teknik simak) dan interview. Penyimakan tersebut dibantu dengan alat perekam multimedia yaitu MP3 Recorder dan Digital Camcorder. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara (1) ketekunan pengamatan, (2) triangulasi, dan (3) kecukupan referensial. Analisis data dilakukan secara deskriptif interpretatif. Metode deskriptif interpretatif yaitu data-data yang diperoleh diinterpretasikan sesuai dengan data alamiah yang ada. Gaya tutur ragam bahasa pedagang asongan diolah menggunakan multimedia program Adobe Audition 1.0 dan Ulead VideoStudio 9 untuk mempermudah dalam menganalisis data.

Hasil penelitian tentang ragam bahasa pedagang asongan di terminal Situbondo menjelaskan bahwa pada ciri fonologis ditemukan adanya perubahan fonem, penambahan fonem, dan penghilangan fonem. Gejala perubahan fonem ditandai dengan adanya perubahan fonem vokal menjadi vokal lainnya, atau bisa juga perubahan fonem konsonan menjadi konsonan lainnya. Adanya penambahan fonem pada suatu kata (morfem) lebih sering terjadi pada daerah-daerah yang masih kental unsur bahasa daerahnya. Penambahan fonem merupakan bentuk penambahan atau menyisipkan fonem tertentu ke dalam bentuk kata (morfem). Penghilangan fonem dalam ciri fonologis merupakan salah satu gejala bahasa. Terdapat tiga gejala bahasa yang termasuk penghilangan fonem, yaitu (1) gejala aferesis adalah gejala penghilangan fonem pada awal kata, (2) gejala sinkop adalah gejala penghilangan fonem pada tengah kata, dan (3) gejala apokop adalah gejala penghilangan satu bunyi atau lebih pada akhir kata.

Pada ciri morfologis dilakukan pengamatan terhadap penemuan adanya bentuk-bentuk morfem-morfem tertentu, baik yang merupakan alomorf atau bukan. Seperti diketahui bahwa perubahan morfem ada yang merupakan varian morfem, tetapi juga ada yang terjadi karena pengaruh logat yang disebut pungutan logat atau pungutan dialek. Salah satu contoh penemuan data dalam ciri morfologis terdapat pada kata /deggan/, dalam pengucapannya sering berubah menjadi /duggen/. Secara fonetis, bentuk kata /deggan/ berbeda dengan bentuk kata /duggen/, tetapi perbedaan tersebut tidaklah fonemis. Kata /dəggan/ juga termasuk morfem bebas. Oleh karena itu, jika ditemukan bentuk kata /duggən/ dalam suatu ujaran, hal itu bukanlah merupakan alomorf. Secara morfologis bentuk kata /duggən/ tidak berbeda dengan bentuk kata /dəggan/.

Ciri sintaksis adalah ciri bahasa yang dapat dilihat dari konstruksi kalimat. Dalam menganalisis kalimat pada ragam bahasa pedagang asongan terutama di terminal Situbondo, hanya terbatas pada interaksi yang terjadi antara pedagang asongan (penjual) dengan calon pembeli (penumpang bus). Hal ini dikarenakan pada interaksi ini terbentuk pembicaraan yang bersifat persuasif dimana terjadi suatu penawaran, pertanyaan, atau ketertarikan calon pembeli terhadap barang yang akan dibeli. Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel) dan keterangan (Ket). Susunan fungsi sintaksis tidak selalu berurutan S, P, O, Pel dan Ket. Kelima fungsi ini tidak harus ada dalam setiap struktur sintaksis.

Ciri diksi didefinisikan sebagai pemilihan atau pemakaian kata yang akan digunakan untuk berinteraksi dalam situasi tertentu, sedangkan ciri leksikal merupakan ciri yang dapat dilihat dari kata atau kosakata. Seperti telah disinggung di muka bahwa dilihat dari segi bunyi, ragam bahasa yang digunakan pedagang asongan menunjukkan adanya perubahan fonem, penambahan fonem, dan penghilangan fonem. Adanya perubahan semacam itu disebut pungutan dialek, dalam hal ini dialek Situbondo. Khusus dalam penelitian ini cenderung digunakan istilah pungutan logat. Cara pengucapan kata-kata (aksen) oleh pedagang asongan mempunyai karakteristik tertentu sehingga mengakibatkan timbulnya ciri-ciri khusus dalam setiap pertuturan. Pengucapan-pengucapan seperti itu dirasakan sebagai suatu hal biasa (kebiasaan pertuturan).

Penyelidikan tentang ciri intonasi menjadi sulit apabila dianalisis sampai kepada yang paling detail. Oleh karena itu, penganalisisan intonasi didasarkan kepada penandaan yang jauh lebih sederhana agar mudah dipahami. Cara yang lebih mudah untuk memberikan penandaan terhadap intonasi bahasa yaitu dengan angka-angka. Angka 1 sampai dengan 4 yang menunjukkan tinggi rendah nada secara garis besarnya sehingga pola-pola lagu kalimat dapat dilihat secara lebih mudah. Pemakaian angka 1 sebagai nada yang rendah, angka 2 sebagai nada yang sedang, angka 3 sebagai nada yang tinggi, sedangkan angka 4 sebagai nada yang luar biasa tingginya. Peneliti akan menggunakan cara ini bersama persendian untuk menyajikan beberapa keterangan yang menyangkut intonasi.

Para pedagang asongan di terminal Situbondo lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dialek Situbondo (bahasa Madura) dan cenderung memakai pola intonasi kalimat dasar, dalam hal ini mereka sering memakai pola-pola intonasi kalimat tanya khususnya pemakaian kalimat elips. Oleh karena itu, untuk menghasilkan bentuk kalimat tanya tanpa memakai kata tanya, lebih banyak tergantung kepada penciptaan pola intonasi. Jadi, hanya memakai intonasi tanya terhadap kata-kata yang menjadi pokok ujaran.

Dari segi penggunaan bahasa, interaksi jual beli menunjukkan ciri khas yang membedakannya dengan bentuk interaksi lain, seperti interaksi dalam persidangan, interaksi kelas, maupun percakapan bebas. Perbedaan penggunaan ragam bahasa disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor yang mempengaruhi ragam bahasa diantaranya adalah faktor waktu, faktor kebiasaan, faktor menarik perhatian pembeli, dan faktor agar cepat terjual (laku). Adanya kenyataan bahwa wujud ragam bahasa yang digunakan berbeda-beda berdasarkan faktor-faktor sosial yang tersangkut di dalam situasi pertuturan, seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi penutur, dan lawan tutur.

Kata kunci: ragam bahasa, pedagang asongan

 

Pemanfaatan Buku Cerita Bergambar untuk meningkatkan Minat dan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SD Negeri Sumbersari II Malang

Abstrak

Pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar bertujuan agar siswa mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut. Siswa sekolah dasar harus mampu membaca dengan tepat. Ketepatan membaca permulaan sangat dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Banyak pakar pendidikan mencari solusi bagaimana cara memperbaiki pembelajaran kemampuan membaca permulaan.

Kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan membaca permulaan yang dimiliki siswa belum sesuai dengan harapan. Berdasarkan informasi dan pengamatan awal teramati bahwa pembelajaran membaca permulaan yang dilaksanakan di kelas I sekolah dasar terteliti belum optimal. Sebagian besar siswa kelas I belum dapat membaca dengan tepat dan lancar. Faktor-faktor penyebabnya adalah metode mengajar yang kurang tepat, guru kurang fareatif mengembangkan metode mengajar yang digunakan, dan tidak lengkapnya perlengkapan pendukung sepertu buku-buku bacaan yang menarik simpati siswa.. Pemanfaatan Buku Cerita Bergambar (BCB) dalam pembelajaran membaca permulaan merupakan salah satu alternatif untuk pemecahan masalah pembelajaran membaca di sekolah dasar.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan pemanfaatan BCB dalam pembelajaran membaca permulaan yang meliputi (1) pelaksanaan yang terdiri dari tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap penutup, untuk memperlancar siswa membaca huruf, suku kata, kata, dan kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat. (2) dan hasil membaca permulaan melalui evaluasi/tes membaca siswa.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus secara berdaur yang meliputi (1) perencanaan, (2) pelaksanaan dan pengamatan, serta (3) perefleksian. Kegiatan perefleksian dilaksanakan setiap akhir siklus yang kemudian dijadikan dasar penyusunan perencanaan siklus berikutnya. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian dilakukan secara kolaboratif oleh peneliti dan guru sehingga implikasi praktis yang diperoleh ste4lah akhir siklus II dapat diterapkan oleh guru yang bersangkutan.

Data penelitian meliputi perilaku yang bersumber dari peristiwa pembelajaran membaca permulaan dengan mengintegrasikan pemanfaatan Buku Cerita Bergambar (BCB) sebagai media pembelajaran di kelas I SD Negeri Sumbersari II Malang. Data diperoleh dari subjek tertelitih yakni seluruh siswa kelas I SD terteliti yang berjumlah 26 siswa. Khusus data minat siswa, diperoleh dari subjek terteliti yakni 9 siswa dengan kemampuan atas 3 siswa, kemampuan sedang 3 siswa, kemampuan bawah 3 siswa. Data diperoleh dari instrumen utama yakni peneliti yang memanfaatkan format catatan lapangan, wawancara, pedoman pengamatan, rekaman foto, dan tes. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model mengalir yang di dalamnya melibatkan reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan simpulan.

Pelaksanaan pembelajaran membaca melalui pemanfaatan BCB dilaksanakan secara bertahap yaitu tahap pendahuluan yang berisi (1)tahap pengelompokkan, (2)tahap inti yang berisi tahap pemasangan, tahap penyusunan, dan tahap pembahasan, dan (3) tahap penutup. Tahap-tahap pembelajaran tersebut saling terkait, tidak dilaksanakan secara terpisah. .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Buku Cerita Bergambar (BCB) dalam pembelajaran membaca permulaan terbukti efektiv. Efektivitas tersebut terlihat pada hal berikut. Pertama, pemanfaatan BCB dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan gembira, bebas, aktif, dan produktif, sehingga kendala psikologis yang sering menghambat siswa seperti rasa enggan, takut, malu dapat teratasi. Hal ini terlihat ketika siswa melaksanakan kegiatan membaca yang semula malu dan takut untuk membaca menjadi lebih bergairah, gembira, dan semangat dalam melaksanakan kegiatan membaca. Kedua, hasil membaca permulaan siswa semakin meningkat, dari kurang mampu mengenali gambar menjadi tertarik untuk mengenalinya, dari kurang mampu membaca huruf, suku kata, kata, dan kalimat sederhana menjadi tertarik menganalisisnya sampai bisa menguasai kalimat sederhana dengan baik. Dari kurang berminat membaca, menjadi tertarik dan penasaran ingin membaca dan memiliki BCB. Frekuensi baca menjadi meningkat dibanding ketika masih menggunakan buku paket. Ketiga, iswa terlatih untuk berani mengemukakan kesan pembelajaran dan berani membaca tanpa bimbingan guru.


Keberhasilan itu semua dapat tergambar pada hasil tes membaca siswa kelas I tertelitih pada akhir siklus kedua yakni (1) membaca gambar 4.42, (2) membaca huruf 9.03, (3) membaca suku kata 15.23, (4) membaca kata 23.26, dan (5) membaca kalimat sderhana 28.03. Nilai kumulatif semua aspek rata-rata77.23. Hasil pengamatan untuk minat siswa terhadap BCB terlihat pada 9 siswa tertelitih selama perlakuan, yaitu Tifany, Ela, Aldy, Anisah, Teguh, Maharani, Ratih, Ninik, dan Putri yang berhasil membaca BCB sebanyak 21 buku.

Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah dalam melaksanakan pembelajaran membaca permulaan hendaknya guru memanfaatkan BCB sebagai salah satu metode pembelajaran membaca di SD. Guru hendaknya merencanakan dan melaksanakan pembelajaran membaca dengan BCB sesering mungkin agar anak termotivasi dalam membaca.

Kata kunci: buku cerita bergambar, minat, kemampuan, membaca permulaan

 

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Strategi Pemecahan Masalah Siswa Kelas V SDN 5 Panarung Palangka Raya

Abstrak

Peningkatan kemampuan siswa memahami isi bacaan dalam membaca pemahaman dalam pembelajaran sebagai fokus penelitian bertolak dari kenyataan di lapangan bahwa pembelajaran membaca di sekolah dasar belum tergarap secara optimal . Akibatnya, siswa kurang aktif, kreatif bahkan tidak tertarik pada pembelajaran membaca. Ketidaktertarikan siswa pada pembelajaran membaca karena pembelajaran lebih ditekankan kepada hal-hal mekanikal dan strategi pembelajaran yang digunakan guru belum berorientasi pada pendekatan membaca pemahaman yang menyenangkan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi siswa belajar membaca. Salah satu strategi pembelajaran yang berdasar pada pendekatan membaca pemahaman adalah strategi pemecahan masalah. Strategi ini mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan tertarik/senang dengan pembelajaran membaca pemahaman yang akan disampaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan strategi pemecahan masalah dalam meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman pada siswa kelas V SD yang meliputi pengimplementasi­an strategi pemecahan masalah membaca pemahaman pada tahap perencanaan dan pelaksanaan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan. Data penelitian berupa hasil tes, hasil wawancara, catatan lapangan, dan hasil observasi. Selanjutnya dilakukan penganalisisan data berdasarkan pemahaman isi bacaan tingkat pemahaman literal, inferensial, kritis dan kreatif.

Rancangan penelitian ini disusun dalam satuan siklus secara berdaur ulang yang meliputi perencana­an, pelaksanaan, pengamatan dan perefleksian setelah mengadakan identifikasi awal dalam pencarian fakta di lapangan. Hasil refleksi pada setiap siklus sebagai perbaikan pada siklus berikutnya. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus yang pada tahap pelaksanaannya terdapat kolaborasi peneliti dan praktisi.

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 5 Panarung Palangka Raya tahun ajaran 2007/2008, dengan sasaran kelas V yang berjumlah 58 orang siswa dengan komposisi 2 siswa dari kategori berkemampuan akademik cepat, 2 siswa kategori berkemampuan sedang, dan 2 siswa kategori berkemampuan lambat. Pengkategorian ini didasari hasil nilai tes awal (pretes) yang dilakukan sebelum dilaksanakan kegiatan penelitian. Berdasarkan data tes awal penelitian ditemukan bahwa tingkat pemahaman literal, inferensial, kritis dan kretaif dalam bacaan adalah kurang.

Data penelitian ini meliputi data proses dan data hasil. Data proses pembelajaran diperoleh melalui kegiatan pengamatan, wawancara, catatan lapangan, dan studi dokumentasi, selama pembelajaran dilaksanakan. Data proses berupa aktivitas guru dan siswa selama tindakan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh data dimaksud peneliti berperan sebagai instrumen utama, dan instrumen penunjang yang berupa pedoman pengamatan, pedoman wawancara, pencatatan lapangan, dan studi dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan proses implementasi dan hasil implementasi strategi pemecahan masalah dapat membantu guru dan siswa dalam meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman. Pada proses implementasi guru menerapkan langkah-langkah yang lebih baik untuk meningkatkan membaca pemahaman siswa baik pada tahap prabaca, saat baca, dan pascatbaca. Pada tahap prabaca guru dapat membangkitkan skemata siswa dengan cara memperhatikan topik, judul dan gambar, dan dapat memotivasi siswa untuk memprediksi isi bacaan maupun isi paragraf melalui pembangkitan skemata. Pada tahap saatbaca guru dan siswa sudah dapat memahami isi bacaan melalui strategi pemecahan masalah dengan langkah-langkah (a) mengidentifikasi masalah dalam bacaan, (b) menentukan masalah dalam bacaan, (c) menjelaskan masalah dalam bacaan,(d) menggali ide-ide dalam bacaan, dan (e) menemukan efek dalam bacaan. Pada tahap pascabaca siswa dapat lebih aktif dengan adanya diskusi kelas/sharing. Pada hasil implementasi kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari data nilai tes tiap siklus yang diambil dari tingkat pemahaman terendah dan tertinggi yaitu pemahaman literal dan kreatif. Pada tes awal nilai keseluruhan untuk literal 27 dan kreatif 42, pada siklus I nilai literal 28 dan kreatif 44, pada siklus II nilai literal 30 dan kreatif 49 sedangkan pada siklus III nilai literal 30 dan nilai kreatif 55. peningkatan itu secara keseluruhan dapat dilihat dari data komulatif semua aspek pemahaman rata-rata yakni dari nilai tes awal yaitu 58,3, nilai tes siklus I 61,33, nilai tes siklus II 70 dan nilai tes siklus III 77,66. Respon guru dan siswa merasa senang dan termotivasi dengan pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi pemecahan masalah efektif untuk meningkatkan membaca pemahaman siswa dan strategi pemecahan masalah dapat diterapkan di Sekolah Dasar.

Dari simpulan tersebut dapat dikemukakan saran-saran yaitu: (a) kepada guru yang telah memahami pembelajaran membaca strategi pemecahan masalah disarankan agar mengaplikasikan pengetahuan dan pengalamannya dalam pembelajaran dan menularkannya kepada guru-guru lain yang memerlukan, (b) kepada peneliti lanjutan disarankan untuk membuat pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan strategi pemecahan masalah yang lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan dengan menjadikan penelitian ini sebagai pertimbangan untuk mengadakan penelitian selanjutnya yang lebih difokuskan pada penguasaan penggalian ide-ide pada teks bacaan.

 

Kata kunci: memahami isi bacaan, strategi pemecahan masalah.

 

Penggunaan Media Gambar Seri untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Siswa Kelas III SD Negeri 46 Parepare

Abstrak

Pada dasarnya, semua keterampilan dalam bahasa Indonesia penting untuk dikuasai, tetapi menulis memang harus diakui sebagai sebuah aktivitas yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan berbicara, membaca dan menyimak. Menulis bukanlah kemampuan yang dapat dikuasai dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses pembelajaran sehingga memang diperlukan sebuah proses panjang untuk menumbuhkembangkan tradisi menulis. Siswa sekolah dasar diharapkan dapat menyerap aspek-aspek dasar dari keterampilan menulis sebagai bekal ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Dengan kata lain, pembelajaran keterampilan menulis di sekolah dasar berfungsi sebagai landasan untuk latihan keterampilan menulis di jenjang sekolah selanjutnya.

Salah satu bentuk menulis adalah menulis narasi yang sengaja dipilih dalam penelitian ini karena merupakan bentuk karangan yang bertujuan menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang peristiwa pada suatu waktu kepada pembaca. Hal terpenting dalam karangan narasi adalah unsur tindakan sehingga ketika membaca karangan narasi pembaca seolah-olah melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu sendiri. Namun, kenyataan menunjukkan keterampilan menulis karangan narasi siswa masih sangat rendah. Rata-rata nilai keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare menunjukkan belum ada siswa yang mencapai SKBM 70 dari 27 siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan siswa yang pada penelitian ini difokuskan pada (1) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal organisasi karangan, (2) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal kualitas gagasan, dan (3) bagaimana meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare dalam hal ejaan dan penggunaan tanda baca. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III. Tindakan dilaksanakan pada dua siklus yang difokuskan pada 27 orang siswa kelas III SD Negeri 46 Parepare.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, diketahui bahwa proses pengajaran diwujudkan dalam pembelajaran dengan menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi dalam hal pengorganisasi karangan, kualitas gagasan, dan penggunaan ejaan dan tanda baca. Kegiatan diawali dengan apersepsi dengan pusat perhatian ditujukan kegambar seri yang ditampilkan, menginterpre­tasikan setiap urutan gambar, kemudian mengarahkan topik karangan yang sesuai dengan gambar seri lalu menentukan atau memilih salah satu topik karangan yang sesuai dengan gambar seri. Setelah itu pembahasan kalimat-kalimat secara klasikal untuk membuat kerangka karangan dalam bentuk draf sesuai dengan urutan gambar seri. Proses selanjutnya mengembangkan kerangka karangan dengan memperhatikan pengembangan ide, penggunaan unsur kebahasaan, dan penggunaan gaya bahasa. Pada tahap akhir pembelajaran diarahkan untuk mengedit karangan berdasarkan penulisan ejaan, huruf kapital, kosakata, dan struktur kalimat yang digunakan sehingga hasil karangan dapat dipublikasikan.

Guru selalu menggunakan strategi tanya jawab, bimbingan klasikal, dan individu pada kegiatan yang dilakukan siswa pada setiap siklus sama, yaitu memeriksa kembali draf awal berupa kekeliruan dalam menggunakan ejaan dan tanda baca, pilihan kata yang tidak tepat, struktur kalimat yang tidak jelas, paragraf yang belum padu, pengembangan ide, dan alur cerita disesuaikan dengan kronologi peristiwa sehingga cerita yang tertera dalam media gambar seri ceritanya mudah dipahami. Selanjutnya siswa dan guru, melakukan perbaikan draf awal dengan mengganti, menambah, menghilangkan, memindahkan, dan memperjelas gagasan yang ada pada draf awal karangan. Guru selalu memberi penguatan sehingga siswa mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri pada awal pertemuan setiap siklus.

Hasil keseluruhan yang dicapai siswa terteliti dalam pembelajaran menulis karangan narasi dengan media gambar seri menunjukkan peningkatan. Paragraf yang ditulis siswa umumnya telah memiliki gagasan utama dan gagasan pengembang yang jelas. Gagasan-gagasan itu dikembangkan secara logis sesuai dengan kronologi peristiwa yang ditampilkan pada media gambar seri dengan pengorganisasian yang baik. Struktur kalimat dan peralihan antara gagasan dalam paragraf sudah memperlihatkan keefektifan. Kualitas gagasan dalam cerita yang digunakan juga cukup baik dan mewakili gagasan yang dikemukakan walaupun masih terdapat kekurangan tetapi tidak mempengaruhi kualitas gagasan yang dihasilkan. Beberapa kesalahan dalam penggunaan ejaan dan tanda baca masih ditemukan, tetapi tidak banyak dan tidak sampai mengaburkan makna gagasan yang dikemukakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan keteram­pilan menulis karangan narasi siswa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas paragraf yang dihasilkan. Kegiatan menulis karangan narasi dengan media gambar seri juga membuat kegiatan menulis menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari upaya guru memberi respon, mengembangkan dialog, memodelkan cara menulis karangan yang benar, mencermati kesalahan yang kerap dilakukan siswa, membiasakan secara tetap, serta memberikan berbagai arahan untuk membangkitan kreativitas siswa dalam menulis karangan narasi.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan baik kepada guru kelas maupun guru bahasa Indonesia di SD untuk membiasakan kegiatan menulis dengan disertai bimbingan yang intensif dan terarah. Dengan mencermati isi tulisan siswa, disarankan pula kepada guru mata pelajaran lain sebaiknya kegiatan menulis ini dapat dipadukan dalam mata pelajaran karena selain melatih keterampilan menulis, juga dapat mengkomunikasikan serta merefleksikan hasil belajar dan perkembangan pribadi siswa.

Kata kunci: menulis, karangan narasi, media gambar seri, meningkatkan

 

Implementasi Strategi Pemetaan Pikiran dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Siswa Kelas IV SD Negeri 11 Mataram

Abstrak

Keterampilan menulis sangat penting dalam proses pembelajaran terutama bagi siswa SD. Di SD, keterampilan menulis telah diajarkan sejak siswa duduk di kelas I. Setelah duduk di kelas IV, siswa seharusnya telah terampil menulis, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa keterampilan menulis siswa masih sangat rendah. Rata-rata nilai keterampilan menulis siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram semester 1 menunjukkan, siswa yang mencapai SKBM 70 hanya 14 orang dari 36 siswa (38 % dari jumlah siswa). Salah satu penyebabnya guru kurang termotivasi memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan siswa untuk belajar menulis.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dipilihlah salah satu strategi yang efektif untuk memotivasi siswa dalam menulis yaitu penggunaan strategi pemetaan pikiran. Pembelajaran keterampilan dengan strategi pemetaan pikiran ini dikhususkan pada menulis cerita yang terdiri atas empat tahap, yaitu pemunculan gagasan, pengembangan gagasan, penulisan, dan penyajian. Dipilihnya strategi pemetaan pikiran karena alasan: secara teori dan berdasarkan beberapa hasil penelitian terdahulu strategi ini terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, sampai saat penelitian ini dilaksanakan belum ditemukan penggunaan strategi pemetaan pikiran untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita siswa, dan strategi pemetaan pikiran didasari pada teori yang memudahkan dan menyenangkan anak unuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman yang ada pada pikirannya dalam bentuk tulisan.

Untuk pelaksanaan strategi pemetaan pikiran dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut, “Bagaimanakah proses dan hasil implementasi strategi pemetaan pikiran dalam meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram pada tahap pemunculan gagasan, pengembangan gagasan, penulisan dan penyajian ?”

Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas. Dalam pelaksanaannya, tindakan diberikan kepada semua siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram. Tetapi, hasil yang dianalisis difokuskan pada sembilan siswa yang diambil secara acak dari 36 siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram. Instrumen utama pengumpul data dalam penelitian ini adalah peneliti dibantu guru kolaborator dengan menggunakan lembar pengamatan, pedoman wawancara, dan tes (tes menulis). Kriteria keberhasilan dari pembelajaran menulis pada penelitain ini adalah 75% siswa mendapat nilai sesuai dengan SKBM yaitu 70.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menulis dengan strategi pemetaan pikiran dapat meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram dari aspek proses dan produk pembelajaran. Proses peningkatan kemampuan menulis cerita yaitu berupa meningkatnya motivasi siswa mengikuti proses pembelajaran. Proses peningkatan tahap pemunculan gagasan, dilakukan dengan: guru memeragakan beberapa gambar, mengarahkan siswa untuk mengamati dan mengungkapkan isi gambar, meminta siswa memilih salah satu gambar untuk pemunculan gagasan, mengarahkan siswa mengamati gambar yang dipilih, mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang menarik dari gambar. Proses peningkatan tahap pengembangan gagasan dilakukan dengan: guru meminta siswa, menuliskan gagasan pokok di tengah-tengah kertas (LKS) dilingkari dan diberi warna atau digambar, meminta siswa mengembangkan gagasan pokok dengan menceritakan hal-hal yang menarik dari gagasan pokok dan menuliskannya pada LKS dengan membuat cabang-cabang (garis nonlinier) pada gagasan pokok, sehingga terbentuk gambar peta pikiran, lalu dilengkapi warna dan gambar. Pada tahap penulisan, proses peningkatan dilakukan dengan: guru mengarahkan siswa untuk membuat judul cerita sesuai dengan gagasan pokok, menyusun kata-kata kunci dengan urutan ke bawah berdasarkan peta pikiran yang sudah dibuat, mengembangkan kata-kata kunci menjadi kalimat, menata kalimat menjadi paragraf dan karangan, merevisi draft cerita secara berpasangan, menulis ulang hasil revisi. Proses peningkatan tahap penyajian dilakukan dengan: guru mengarahkan siswa untuk tampil membacakan cerita dengan lafal, intonasi serta ekspresi yang tepat, sementara siswa lain memberi komentar dan masukan, meminta siswa memajang cerita di mading kelas dan sekolah secara bergilir dimulai dari hasil karya yang terbaik.

Hasil implementasi strategi pemetan pikiran dalam meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa kelas IV SD Negeri 11 Mataram cukup signifikan. Pada tahap pemunculan gagasan 46 % dari jumlah siswa mampu memunculkan gagasan (siklus 1) dan meningkat 100 % (siklus 2). Pada tahap pengembangan gagasan 60 % dari jumlah siswa mampu mengembangkan gagasan, dan meningkat menjadi 98 % (siklus 2). Pada tahap penulisan 59 % (siklus 1) dari jumlah siswa mampu menyusun cerita dan meningkat menjadi 85 % (siklus 2). Pada tahap penyajian 59 % (siklus1) dari jumlah siswa mampu menyajikan cerita dan meningkat menjadi 81 % (siklus 2). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari rerata hasil pening­katan yang pada siklus 1 mencapai 64,7 (cukup), meningkat menjadi 81,8 pada siklus 2 (sangat baik).

Berpijak pada hasil penelitian tersebut, dapat diajukan beberapa saran untuk kepentingan penelitian berikutnya. Pertama, kepada para kepala sekolah dasar disarankan agar memberikan peluang kepada guru untuk menerapkan strategi pemetaan pikiran pembelajaran keterampilan menulis cerita. Kedua kepada para guru sekolah dasar, disarankan agar hasil penelitian ini dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran keterampilan menulis cerita atau dicobakan untuk pembelajaran keterampilan berbahasa yang lain. Ketiga kepada para peneliti berikutnya, disarankan untuk merancang penelitian baru yang berkaitan dengan penerapan strategi pemetaan pikiran dalam pembelajaran keterampilan menulis atau pembelajaran keterampilan berbahasa lainnya di sekolah dasar sehingga siswa diharapkan lebih terampil dalam berbahasa Indonesia.

Kata kunci: strategi pemetaan pikiran, keterampilan, menulis cerita

 

Penerapan Strategi Pair Check dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas V SD Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng

Abstrak

Penerapan strategi pair check untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi bertolak dari tujuan agar siswa memiliki kemampuan dalam menuangkan ide, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan benar dalam menulis. Menulis sebagai salah satu aspek keterampilan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, merupakan keterampilan yang cukup kompleks. Selain itu, pembelajaran menulis belum memfokuskan pada proses menulis, tetapi berorientasi pada hasil menulis siswa sehingga proses menulis kurang mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan pembelajaran menulis.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi melalui strategi pair check pada siswa kelas V SD Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng. Penelitian tersebut dirinci lagi menjadi: (1) mendeskripsikan proses penerapan strategi pair check dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas V SD Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng pada (a) tahap pra menulis, (b) tahap saat menulis, dan (c) tahap pasca menulis?, (2) mendeskripsikan hasil penerapan strategi pair check dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas V SD Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng pada (a) tahap pra menulis, (b) tahap saat menulis, dan (c) tahap pasca menulis?.

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan teknik analisis kualitatif deskriptif. Rancangan penelitian ini mengacu pada rancangan penelitian tindakan kelas yang berupa siklus-siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap kegiatan yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil penerapan strategi pair check dalam meningkatkan keterampilan menulis narasi. Data proses dalam penelitian ini adalah berupa proses menulis karangan siswa pada setiap siklus pembelajaran menulis karangan narasi melalui proses menulis. Data hasil dalam penelitian ini adalah berupa hasil karangan siswa pada setiap siklus pembelajaran menulis karangan narasi melalui proses menulis.

Proses penerapan strategi pair check pada tahap pra menulis diwujudkan dalam bentuk kegiatan: (1) membangkitkan skemata siswa, (2) menentukan kelompok belajar siswa secara berpasangan, (3) menyampai­kan tujuan pembelajaran, (4) mengajak siswa untuk memilih gambar, (5) menyampaikan langkah-langkah menulis narasi, dan (6) mengajak siswa untuk memulai menulis menentukan tema, topik, menulis kerangka karangan, serta menentukan judul.

Pada tahap saat menulis, kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah (1) memberikan contoh cara mengembangkan kerangka karangan, (2) menugasi siswa mengembangkan kerangka karangannya dengan memperhatikan pilihan kata yang tepat, kalimat yang benar, paragraf yang padu, penggunaan ejaan dan tanda baca serta menyajikan unsur-unsur narasi secara mendetil dan, (3) membimbing siswa menyelesaikan tugas menulis karangan narasi.

Pada tahap pasca menulis kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah siswa merevisi dan membacakan hasil karangan, (1) kegiatan merevisi dimulai dengan guru memberikan contoh pengeditan dan perevisian karangan, (2) siswa merevisi unsur-unsur kebahasaan serta ejaan dan tanda baca. Kegiatan publikasi karangan dilakukan dengan siswa membacakan karangannya, sementara siswa lain menyimak dan mencatat kekurangan atau kesalahan dalam karangan maupun pembacaannya; dan (3) bertanya jawab siswa tentang isi dari karangan yang bacakan.

Pembelajaran menulis karangan narasi melalui penerapan strategi pair check menunjukkan efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan siswa menulis karangan. Hasil tindakan pembelajaran tahap pra menulis ditandai dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hal (1) pemilihan tema, (2) penulisan kerangka karangan, dan (3) penentuan judul. Secara kuantitatif hasil tindakan pada tahap pra menulis siklus I adalah 72,5 dan pada siklus II 86,6.

Hasil tindakan pembelajaran tahap saat menulis, yang ditandai dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hal (1) pengembangan kerangka karangan menjadi sebuah karangan yang utuh dan padu, (2) organisasi gagasan, (3) penggunaan unsur-unsur kebahasaan, (4) penggunaan ejaan dan tanda baca, serta (5) informasi faktual. Secara kuantitatif, hasil tindakan siklus I adalah 60 dan pada siklus II 71,5.


Hasil tindakan pembelajaran tahap pasca menulis ditandai dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hal perbaikan dan perevisian unsur-unsur kebahasaan dan ejaan dan tanda baca, serta. Secara kuantitatif, hasil tindakan pada siklus I adalah 63 dan pada siklus II 75. Secara keseluruhan rerata hasil siklus I adalah 64.5 yakni berkualifikasi cukup, dan pada siklus II meningkat menjadi 76.5, yakni berkualifikasi baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pair check dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) kepada guru kelas diharapkan membimbing siswa yang masih mengalami kesulitan dalam belajar sehingga siswa mampu menulis dengan baik secara mandiri penerapan strategi pair check dalam pembelajaran menulis di kelas tinggi, maka guru tidak hanya diharapkan menggunakan model-model dalam buku paket, tetapi berupaya membuat model lain untuk setiap kegiatan pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan menulisnya, (2) kepada peneliti lanjutan lain yang berminat pada bidang pembelajaran menulis untuk melanjutkan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan-pendekatan lain yang mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan.

Kata kunci: strategi pair check, pembelajaran, menulis, karangan narasi

Penerapan Teknik Skimming dan Scanning untuk Meningkatkan Pembelajaran Membaca Pemahaman Siswa Kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate

Abstrak

Bertolak dari kenyataan di lapangan menunjukan bahwa upaya peningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman dengan penerapan teknik skimming dan scanning yang dilaksanakan di kelas V Sekolah Dasar terteliti belum optimal. Hal itu disebabkan (1) pelaksanaan pembelajaran masih berorentasi pada produk, bukan pada proses, dan (2) teknik yang digunakan dalam pembelajaran kurang tepat sehingga pembelajaran membaca pemahaman di kelas V perlu ditingkatkan. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik skimming dan scanning untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V Sekolah Dasar yang meliputi tahap prabaca, saatbaca, dan pascabaca.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bersifat partisipatori-kolaboratif. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus dengan desain mengacu pada model Kemmis dan Taggart (dalam Depdiknas, 1999) yang meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, evaluasi, dan refleksi.

Data penelitian ini meliputi data proses dan data hasil. Data proses berupa aktivitas guru dan siswa selama tindakan pembelajaran berlangsung. Data hasil adalah hasil kegiatan membaca siswa dalam membaca pemahaman dengan menggunakan teknik skimming dan scanning yang diperoleh pada setiap akhir pembelajaran yang meliputi (1) kemampuan menemukan topik bacaan, (2) kemampuan memahami pendapat orang, (3) kemampuan menemukan ide pokok paragraf, (4) kemampuan menemukan informasi tertentu, (5) kemampuan menemukan fakta khusus, dan (6) kemampuan menyimpulkan.

Sumber data adalah penerapan teknik skimming dan scanning untuk meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate yang berjumlah 7 orang. Data proses diperoleh melalui kegiatan pengamatan, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Untuk memperoleh data, peneliti berperan sebagai instrumen utama dan didukung instrumen penunjang. Instrumen penunjang berupa pedoman pengamatan, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan prosedur yang dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, verifikasi serta penyimpulan data.

Penerapan teknik skimming dan scanning dalam pembelajaran membaca pemahaman dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap prabaca, saatbaca, dan pascabaca. Pada tahap prabaca, kegiatannya adalah (1) menentukan bahan pembelajaran yang akan disampaikan, (2) menyesuaikan skemata siswa dengan materi yang ditampilkan, (3) melaksanakan langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman dengan teknik skimming dan scanning, (4) menyampaikan tugas atau kegiatan siswa yang harus dilakukan, dan (5) mengadakan tanya jawab seputar bahan yang sajikan. Adapun langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman mencakup (a) tahap prabaca secara khusus dengan menggunakan teknik skimming adalah (1) terlebih dahulu guru membuat pertanyaan, apakah yang dicari atau yang diperlukan dalam bahan bacaan tersebut, (2) guru memberikan petunjuk tentang cara mencari informasi yang dibutuhkan dalam bahan tersebut, (3) menelusuri bahan bacaan dengan kecepatan yang tinggi setiap paragraf atau subbab yang dihadapi, (4) berhenti ketika merasa menemukan apa yang dicari, (5) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami dengan baik tentang informasi apa yang dicari, sedangkan (b) dengan teknik scanning melalui kegiatan kegiatan bab yang penting (1) melihat daftar isi dan kata pengantar secara sekilas, (2) telah secara singkat latar belakang penulis, (3) baca bagian pendauluan secara singkat, (4) mencari bab yang penting dalam daftar isi, (5) mencari bab yang penting dalam halaman-halaman buku tersebut, kemudian membaca beberapa kalimat yang penting, (6) membaca bagian kesimpulan, (7) melihat secara sekilas daftar pustaka, daftar indeks, atau apendiks. Pada tahap saatbaca, kegiatannya adalah (1) membaca dan memahami topik bacaan, (2) memahami pendapat orang atau opini, (3) memahami urutan ide pokok, (4) memahami informasi tertentu, (5) memahami fakta khusus, dan (6) menyimpulkan. Kegiatan tahap pascabaca mencakup (1) meminta siswa untuk menghitung (a) tingkat kemampuan membaca, (b) melaporkan hasil kerja, (c) menanggapi hasil kerja siswa lain, (d) menghitung tingkat kecepatan membaca, (e) menilai hasil kerja siswa, dan (f) menyimpulkan hasil kerja siswa.

Hasil analisis menunjukan bahwa penerapan teknik skimming dan scanning pada penelitian ini secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca pemahaman. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada siklus I dengan rata-rata nilai adalah 74,4% (baik), siklus II mencapai 79,5% (baik), dan siklus III adalah 85,5% (sangat baik ). Untuk penerapan teknik scanning pada siklus I nilai rata-ratanya adalah 75,25% (baik), siklus II 79,55% (baik), dan siklus III mencapai 88,25% (sangat baik).Tingkat kecepatan membaca siswa kelas V SD Negeri Salero 1 Ternate termasuk kategori memadai. Hal ini dapat ditunjukkan dari 35 sampel pada siklus I, delapan belas siswa (52,75%) termasuk kategori baik, empat siswa (4,25%) termasuk kategori sangat baik; siklus II: dua siswa (2,22%) termasuk kategori baik dan dua puluh lima siswa(76,25%) termasuk kategori sangat baik; sedangkan untuk siklus III: satu siswa (1,25%) termasuk kategori kurang, tiga siswa (4,75%) termasuk kategori cukup, tiga siswa (3,55%) termasuk kategori baik dan dua puluh delapan siswa (88,25%) termasuk kategori sangat baik.

Dari temuan tersebut maka saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: (1) kepala sekolah diharapkan senantiasa mendorong dan membina guru untuk meningkatkan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan teknik skimming dan scanning, (2) guru Bahasa Indonesia disarankan agar (a) memberikan latihan pada siswa untuk menggunakan berbagai teknik dalam pembelajaran membaca pemahaman agar mengurangi kejenuhan siswa dalam belajar, (b) pembelajaran membaca memperhatikan tahapan-tahapan dalam membaca, yakni tahap prabaca, tahap saatbaca, dan pascabaca, dan (c) evaluasi yang digunakan hendaknya menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Kata kunci: membaca pemahaman, teknik skimming dan scanning, sekolah dasar

Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi melalui Penggunaan Strategi Simulasi Kreatif Siswa Kelas V SD Negeri Minasa Upa Makassar

Abstrak

Kegiatan pembelajaran membaca puisi berlangsung sebagai rutinitas tanpa suatu pengembangan. Kegiatan pembelajaran membaca puisi masih dimonopoli oleh guru, sementara aktivitas siswa kurang ditonjolkan, variasi guru dalam mengajar membaca puisi sangat terbatas sehingga pembelajaran kurang menarik, pemberian penguatan baik secara verbal maupun non verbal terhadap siswa belum sepenuhnya dilakukan guru, dan materi yang dipergunakan masih terbatas pada buku paket. Dengan demikian, diperlukan suatu strategi yang dapat mengembangkan atau meningkatkan kegiatan pembelajaran membaca puisi, sehingga puisi hadir dan dapat diterima siswa sebagai suatu yang dinikmati dan menyenangkan. Dengan strategi simulasi ini diharapkan pada diri siswa muncul rasa senang dan tertarik pada puisi serta kemudian timbul kelancaran dan kemudahan dalam mendeklamasikan puisi.

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan proses penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas V SDN Minasa Upa Makassar dan (2) hasil penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas V SDN Minasa Upa Makassar. Rancangan yang digunakan dalam penilitian ini adalah rancangan penelitian tindakan. Rancangan tindakan dalam penelitian ini berupa rancangan tindakan pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan, prosedur, dan evaluasi pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif. Data penelitian ini adalah (1) data proses penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi dengan subjek terteliti dan guru kelas V SD; dan (2) data hasil penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi berupa aktivitas membaca puisi siswa kelas V. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi partisipatoris yang diwujudkan dengan mengamati dan merekam perilaku verbal dan non verbal siswa-guru dalam pembelajaran di kelas dengan instrumen pengumpul data. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan model analisis: pengumpulan data, analisis data, dan refleksi analisis data.

Berdasarkan analisis data proses tindakan, dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan strategi simulasi kreatif untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Kegiatan awal pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif dimulai guru dengan melakukan apersepsi-menghubungkan kegiatan sehari-hari siswa dengan tema ajar, membang­kitkan semangat belajar siswa dengan mengajak bernyanyi, dan memberikan penjelasan mengenai proses pembelajaran membaca puisi yang akan dilaksanakan. Kegiatan inti dimulai dengan guru memperagakan pembacaan puisi dengan memperhatikan tekanan aspek lafal dan intonasi yang tepat dengan diikuti dengan gerakan penuh penghayatan dan ekspresi. Siswa diarahkan membaca puisi dalam hati, serempak, dan berkelompok, dan memberikan petunjuk cara membaca puisi yang baik dengan memperhatikan aspek lafal dan intonasi (suara, tempo, nada, dan jeda) dalam teks puisi. Guru mensimulasikan gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara diiringi musik dengan memperhatikan aspek penampilan, gerak, ekspresi, dan penghayatan, siswa diarahkan membaca puisi diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh, guru membimbing siswa untuk melakukan latihan simulasi gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara dengan diiringi musik dan latihan membaca puisi, siswa menampilkan atau mendeklamasikan puisi di depan kelas, serta mendiskusikan kesan-kesan mereka terhadap puisi. Pada kegiatan akhir pembelajaran, guru bersama siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan memberikan penguatan dari penampilan siswa dengan pujian dan pemberian hadiah, dan memotivasi siswa untuk terus berlatih meningkatkan kemampuan mendeklamasikan puisi dan menarik kesimpulan tentang cara atau teknik mendeklamasikan puisi yang baik. Secara umum, kemampuan membacakan puisi meningkat pada sebagian besar siswa menunjukkan penampilan/kesiapan fisik dan mental siswa sudah baik (dimunculkan) saat mendeklamasikan puisi, pelafalan dan intonasi (suara, tempo, nada dan jeda) pada saat siswa membacakan puisi sudah baik. Kesungguhan, kesesuaian, keterlibatan, dan cara bergerak sesuai dengan teks isi puisi meningkat dengan baik dalam melakukan simulasi gerak tanpa kata dan gerak dengan bersuara yang diiringi musik, siswa mampu memunculkan ekspresi dan penghayatan saat mendeklamasikan puisi. Sebagian besar siswa memberikan komentar atau masukan serta berbagi pengalaman tentang cara mendeklamasikan puisi pada siswa yang kesulitan mendeklamasikan puisi.

Hasil peningkatan kemampuan membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif berdasarkan analisis data kuantitatif per aspek kemampuan membaca puisi menunjukkan bahwa untuk siswa kelompok atas berkualifikasi sangat baik (86%) pada siklus pertama, sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 100% dengan indikator: keseluruhan aspek kemampuan membaca puisi sangat baik. Siswa kelompok tengah berkualifikasi baik (76%) pada siklus pertama, sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 85% dengan kualifikasi sangat baik dengan indikator: aspek penampilan/kesiapan fisik dan mental serta pelafalan dan intonasi sangat baik, sementara gerak tubuh, dan ekspresi/penghayatan baik. Siswa kelompok bawah berkualifikasi sangat kurang (41%) pada siklus pertama, meningkat menjadi 69% dengan kualifikasi cukup pada siklus kedua dengan indikator: aspek penampilan/kesiapan fisik dan mental baik, gerak tubuh, dan ekspresi/penghayatan cukup, sedangkan aspek yang masih kurang adalah pelafalan dan intonasi.

Berdasarkan simpulan penelitian, disarankan kepada: (1) guru kelas V SD untuk menggunakan temuan pembelajaran membaca puisi dengan strategi simulasi kreatif sebagai rujukan operasional dalam merancang pembelajaran membaca puisi dan pembelajaran kemampuan berbahasa Indonesia; serta memanfaatkan prosedur penelitian ini untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya pengembangan dan peningkatan pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia khususnya kemampuan membaca puisi, (2) dosen atau tim pengajar bahasa Indonesia di PGSD untuk menyelenggarakan perkuliahan pembelajaran membaca puisi agar mahasiswa calon guru SD terampil dan kreatif dalam membaca puisi di SD, dan (3) peneliti lain untuk merancang penelitian sejenis dengan skala lebih luas baik dalam hal aspek kemampuan bersastra, jenjang sekolah, maupun jenjang kelas di SD.

Kata kunci: kemampuan membaca puisi, strategi simulasi kreatif

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s